Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
KETERBATASAN dan kekurangan tidak melulu berbanding lurus dengan jalan buntu. Bahkan, kondisi serbakekurangan kerap melahirkan terobosan, memunculkan jalan keluar.
Begitulah, setidaknya, yang ditemukan Muhammad Sarwani, warga Purworejo, Jawa Tengah. Keterbatasan pasokan listrik di sejumlah titik di Tanah Air menginspirasi sarjana Fakultas Teknik Mesin Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, itu untuk melahirkan lampu 'air garam'. Produk itu kini digunakan untuk menerangi sejumlah titik penampungan pengungsi korban gempa Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat.
Awalnya, sejak 2012, Sarwani menggeluti teori reduksi-oksidasi (redoks). Ia terlecut oleh kegelisahan orang-orang yang belum terjamah oleh penerangan lampu listrik karena lokasi mereka yang sulit dijangkau instalasi listrik negara. Karena itu, tergeraklah ia melakukan uji coba, mewujudkan pergelutannya dengan teori redoks selama beberapa bulan.
Hasilnya 100 lampu air garam yang ia temukan mampu menerangi titik-titik tempat pengungsi korban musibah gempa Sulawesi Barat. Aliran listrik yang putus membuat warga Mamuju melewati malam dengan gelap gulita tanpa penerangan, kecuali lampu penerangan darurat yang tampak sebagai titik-titik sinar redup dari kejauhan.
Namun, kehadiran Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo ke lokasi musibah membawa secercah cahaya terang.
Tak kurang dari seratus lampu air garam terbang bersamanya dengan pesawat Hercules TNI-AU pada Jumat (15/1) siang.
"Lampu-lampu ini benar-benar terobosan. Ide brilian anak bangsa. Jadi, cepat kami sambar karena sangat cocok untuk daerah yang tertimpa bencana seperti di Mamuju ini," kata Doni.
Berkat ketekunan sang penemu, Sarwani, dalam mengutak-atik energi alternatif dari air garam itu, kini ia sudah berhasil menggapai mimpinya: menghadirkan cahaya di lokasi bencana. Caranya sangat sederhana, yakni garam dapur yang dilarutkan ke dalam air dan diubah menjadi penyulut cahaya lampu.
Butuh empat tahun bagi Sarwani untuk mewujudkan mimpinya itu. Pada 2016, produk lampu air garam pun siap diproduksi massal. Pengoperasian 'lampu ajaib' ini cukup mudah. Hanya perlu air bersih dan garam. Garam apa saja. Jika tak ada garam, air laut pun bisa. Karena itu, lampu ini juga sangat cocok dipakai para nelayan.
Bukan hanya memberi cahaya di tengah kegelapan, lampu air garam juga bisa dimanfaatkan sebagai charger atau pengecas ponsel Anda. Kalau sedang dipakai untuk menyalakan lampu, fungsi pengecas off. Sebaliknya, kalau sedang digunakan sebagai pengecas, lampu LED tidak bisa dinyalakan.
Kedaruratan dan keterbatasan juga melahirkan GeNose, alat pendeteksi paparan covid-19 temuan Universitas Gadjah Mada (UGM). Alat pendeteksi virus korona penyebab covid-19 yang dikembangkan para peneliti UGM tersebut sudah mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan pada Kamis (24/12/2020).
Dalam laman resmi UGM, ketua tim pengembang GeNose C19, Prof Kuwat Triyana, mengatakan perangkat tersebut dipatok dengan harga Rp15.000-Rp25.000. Hasil tes juga dapat langsung diketahui hanya dalam waktu 2 menit dan tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya. Pengambilan sampel tes berupa embusan napas juga dirasakan lebih nyaman jika dibandingkan dengan usap atau swab.
Begitulah kiranya, bangsa ini tak kering oleh rekacipta. Dalam serbakekurangan, ada sekelompok orang yang menghadirkan tanda penting bahwa kita bangsa besar. Tinggal bagaimana negara memosisikan para inovator itu: serius memfasilitasinya, setengah-setengah, atau membiarkan semua berjalan apa adanya.
Setidaknya saya telah menemukan harapan akan itu dari Media Indonesia. Kemarin, harian ini berulang tahun ke-51. Tema yang diusung ialah Menuju rekacipta Indonesia. Itu sebuah resolusi, tekad kuat, untuk mendorong agar negara ini meninggikan derajat para inovator. Dengan begitu, cita-cita Indonesia maju bukan tekad semu. Saya yakin, pengurus negara ini akan mendengarkannya lalu mewujudkannya.
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved