Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Vaksinasi Berkeadilan

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
08/12/2020 05:00
Vaksinasi Berkeadilan
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

VAKSINASI berkeadilan ialah menempatkan pada tempatnya dalam segala hal terkait proses vaksinasi. Vaksinasi berkeadilan tidak harus semua orang mendapat vaksinasi secara gratis.

Sains menyebutkan tidak perlu seluruh umat manusia di muka Bumi ini divaksinasi untuk mencegah penularan covid-19. Sains mengatakan cukup di kisaran 70% manusia divaksinasi. Indonesia memutuskan 67% rakyat divaksinasi.

Bagus bila negara menyediakan vaksin secara gratis untuk masyarakat. Negara-negara kaya melakukannya. Untuk negara dengan anggaran terbatas jumlah penduduknya besar serupa Indonesia, memberi vaksin secara gratis kepada semua yang berhak mendapatkannya, sebuah kemewahan.

Indonesia menerapkan gotong royong. Negara menyediakan vaksin gratis bagi mereka yang tidak mampu atau tidak beruntung, bila tidak  boleh disebut miskin. Kita menyebutnya vaksin gratis, dibayari negara.

Mereka yang berpunya, kalau tak boleh disebut orang-orang kaya, harus membayar untuk mendapatkan vaksin. Kita menyebutnya vaksin  mandiri alias bayar atau beli sendiri, tidak dibayari negara.

Dalam konteks global, vaksinasi berkeadilan tercapai bila vaksin tersedia bagi orang di semua negara. Negara-negara makmur harus membantu negara-negara miskin mendapatkan vaksin.

Menurut Seth Berkley, kepala eksekutif Gavi, aliansi vaksin global, negara-negara makmur mesti membantu rakyat di negara-negara miskin memperoleh vaksin, bahkan sebelum mereka memberikan vaksin bagi rakyat mereka sendiri. Makin cepat rakyat di pojok dunia yang menjadi ‘sarang’ pandemi covid-19 mendapatkan vaksin, kian cepat pula dunia mengakhiri situasi paling akut dari pandemi covid-19 ini.

Dari 67% masyarakat Indonesia penerima vaksin, pemberiannya juga mesti berkeadilan. Vaksinasi dikatakan berkeadilan bila didasarkan atas pertimbangan etis dan kegunaan sosial.

Tenaga medis diprioritaskan mendapat vaksin karena secara etis mereka sangat rentan terjangkit covid-19. Tenaga medis mesti diprioritaskan mendapat vaksinasi juga karena pekerjaan mereka punya kegunaan sosial tinggi (high social utility), yakni merawat dan menyembuhkan  manusia, termasuk mereka yang terjangkit covid-19.

Guru dan penegak hukum memenuhi argumen kegunaan sosial untuk mendapatkan vaksinasi. Bukankah guru melakukan pekerjaan penting, yakni mendidik masyarakat? Bukankah penegak hukum melaksanakan pekerjaan penting, yakni menjaga ketertiban sosial?

Mereka yang menderita penyakit bawaan memenuhi argumen etis untuk mendapatkan vaksinasi. Bukankah mereka yang terjangkit covid-19 meninggal dunia lebih karena penyakit bawaan? Bukankah tidak etis membiarkan orang dengan penyakit bawaan terjangkit covid-19, lalu meninggal dunia? 

Dari sisi usia, yang diprioritaskan mendapat vaksin mereka yang berumur 18-59 tahun. Dari sisi etis, berdasarkan statistik, kelompok usia itu paling banyak terpapar covid-19. Dari sisi kegunaan sosial, kelompok usia tersebut terbilang produktif.

Sebanyak 1,2 juta vaksin tiba di Indonesia, Minggu, 6 Desember 2020. Euforia mengiringi kedatangannya. Beredar meme anak melompat kegirangan dengan tulisan ‘vaksin telah tiba, hatiku gembira’. Harga saham perusahaan-perusahaan farmasi melesat. Kita khawatir euforia itu menjadikan kita abai covid-19 masih mengintai.

Kedatangan vaksin tidak berarti orang bisa segera divaksinasi. Tibanya vaksin tidak lekas membuat pandemi berakhir. Jalan masih panjang. Vaksin masih harus menjalani serangkaian prosedur baik ilmiah maupun administratif.

Itulah sebabnya Presiden Joko Widodo meminta kita tidak mengendurkan protokol kesehatan. Kita masih harus memakai masker, mencuci tangan pakai sabun atau penyanitasi, dan menjaga jarak. Kita tetap harus menghindari 3K, kerumunan, kontak terlalu dekat, dan keterbatasan ruang. Bila terpaksa berjumpa dengan orang lain, pastikan kita bertemu dengan sedikit orang dalam kelompok kecil di ruang luas.

Dengan tetap menjaga protokol kesehatan, kita berbuat adil. Kita memosisikan diri pada konteksnya. Kita berperilaku sesuai dengan kenyataan pandemi covid-19 masih ada.

Kita berbuat zalim bila kita mengendurkan protokol kesehatan. Bila kita mengabaikan protokol kesehatan, kita serupa membiarkan diri kita dan orang-orang di sekitar kita terpapar covid-19. Kita menzalimi diri sendiri dan orang lain.
 



Berita Lainnya
  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.