Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI teror selalu menyergap kita secara acak dan tak terduga. Ia kerap memanfaatkan ‘kesibukan’ kita terhadap hal-hal lain sehingga kita lengah terhadapnya. Saat kita yakin terorisme sudah berhasil kita tekuk, ia tiba-tiba muncul kembali untuk meledek ‘kejemawaan’ kita.
Begitu pula dengan aksi keji teroris dalam bentuk penyerangan dan pembakaran rumah tempat ibadah yang menewaskan empat orang sekeluarga di Dusun Tokelemo, Desa Lemba Tongoa, Palolo, Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat (27/11). Polisi menduga pelaku teror merupakan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Teror yang sangat mengagetkan, di tengah kita sedang berjibaku melawan covid-19.
Hampir saban memasuki Desember, sebagian orang merasa waswas. Bulan yang mestinya disambut sebagian kita sebagai bulan kegembiraan dan kedamaian, mesti dilalui dengan suasana menegangkan dan rasa waswas. Pemicunya ialah karena negeri ini kerap menoleransi aksi, sikap, dan pandangan intoleransi.
Ketika aksi keji terorisme kembali meledak di tengah kita, seperti biasa, pemuka politik dan masyarakat muncul melancarkan kecaman untuk kemudian tak berkutik hingga teror kembali terjadi. Mungkin kita teramat reaktif saat api sudah membesar dan ‘bom’ sudah meledak. Kita masih tenang-tenang saja saat aksi-aksi intoleransi berlangsung secara telanjang di depan mata kita.
Sikap-sikap intoleran banyak muncul dari benih yang disemai dalam konservatisme keagamaan. Terorisme itu mencerminkan kemiskinan kehidupan keagamaan. Dalam konservatisme keagamaan, semangat ketuhanan tidak terlalu mengembangkan keadaban nilai-nilai kasih sayang. Padahal, spirit rahman-rahim itu menjadi kaidah emas semua agama.
Modus beragama yang berhenti sebagai pemujaan formalisme peribadatan, tanpa kesanggupan menggali nilai-nilai spiritualitas dan moralitas, sama seperti orang berselancar di permukaan gelombang bahaya. Tanpa menyelam di kedalaman pengalaman spiritual, keberagamaan menjadi kering dan keras.
Agama yang seharusnya membantu manusia untuk menyuburkan rasa kesucian, kasih sayang, dan perlindungan justru acap memantulkan rasa keputusasaan dan kekerasan dalam bentuk terorisme, permusuhan, dan intoleransi. Cara pandang seperti itu kian menemukan justifikasinya saat terjadi ‘pertemuan-pertemuan’ transnasionalisme melalui dunia maya.
Maka, ruang toleransi kian menyempit digantikan klaim-klaim kebenaran sepihak. Kerelaan untuk menerima yang berbeda digerus hasrat menggebu memaksakan kebenaran tunggal versi orang per orang atau kelompok. Jika sikap itu sudah memuncak, bukan aksi intoleran lagi yang muncul, melainkan aksi kejam dan brutal terorisme.
Politisasi suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) secara berlebihan di masa lalu membuat ekspresi dan wacana perbedaan menjadi tabu. Akibatnya, sebagian besar warga hidup dalam kepompong budaya SARA yang relatif seragam dengan mengembangkan sikap hidup monolit, monokultural. Padahal, bangsa Indonesia sebagai masyarakat plural mestinya mengembangkan sikap hidup multikultural, yang mengembangkan penyerbukan silang budaya dan pergaulan lintas budaya.
Lalu, apa yang mesti negara dan kita lakukan agar aksi teror yang bersumbu pada intoleransi bisa dihentikan? Negara dan kita sudah saatnya menghambat perkembangan konservatisme agama yang menjadi bibit intoleransi. Penajaman semangat dan nilai-nilai Pancasila tidak boleh kendur, baik lewat media sosial, komunitas-komunitas, kelompok penggerak masyarakat, maupun melalui institusi pendidikan.
Jangan beri ruang bagi konservatisme untuk berkembang. Jangan menoleransi sekecil apa pun aksi-aksi intoleransi. Jangan memberikan kesempatan kepada para demagog yang dengan klaim kebenaran dan janji-janji surga menguasai panggung publik.
Negara harus hadir. Bentuk kehadiran negara dalam melindungi segenap tumpah darah Indonesia, salah satunya ialah memberi rasa aman bagi warganya. Kita menunggu aksi tegas negara untuk mematikan api saat api masih kecil agar tidak membesar dan membakar kita.
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved