Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Anies dan Matinya Demokrasi

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
24/11/2020 05:00
Anies dan Matinya Demokrasi
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

TAK berapa lama selepas Pilkada DKI 2017, beredar tulisan Eep Saefulloh Fatah di media sosial. Eep menulis jangan cengeng dengan penggunaan agama dalam pemilu. Toh, kata Eep, pilpres di Amerika juga menggunakan agama sebagai senjata politik. Eep menunjuk pilpres Amerika yang mempertandingkan Richard Nixon dan John F Kennedy sebagai contoh pilpres yang menggunakan agama sebagai senjata politik. Sebagai konsultan politik pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Eep seperti hendak membenarkan penggunaan agama di Pilkada 2017.

Bersamaan dengan itu, di grup pertukaran pesan yang saya ikuti beredar kover buku God Strategy: How Religion Became Political Weapon in America (2010). Karena penasaran ingin tahu penggunaan agama sebagai senjata politik di negara kampiun demokrasi itu, saya pada 2017 membeli buku karangan David Domke dan Kevin Coe itu dengan memesannya terlebih dulu melalui toko buku yang menjual buku-buku berbahasa asing di Jakarta.

Saya membaca, untuk menggambarkan bagaimana agama digunakan dalam politik di Amerika Serikat, Domke dan Coe mengutip pidato pelantikan Presiden Barack Hussein Obama: “We know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians, Muslims, Jews, and Hindus and nonbelievers.”

Domke dan Coe juga mengutip pidato John F Kennedy yang sangat terkenal pada September 1960: “I believe in an America where the separation of Church and state is absolut; where no Catholic prelate would tell the President—should he be a Catholic—how to act, and no Protestant minister would tell his parishioners for whom to vote.”

Dari pidato Obama dan Kennedy itu tergambar agama digunakan sebagai strategi politik dalam konteks demokrasi, kesetaraan, dan keberagaman, juga sekularisme. Penggunaan agama dalam konteks politik semacam itulah yang menyebabkan Barack Obama yang punya darah muslim dalam dirinya serta John F Kennedy yang minoritas Katolik bisa menjadi presiden di Amerika yang mayoritas penduduknya beragama Protestan. Itu jelas berbeda dengan penggunaan agama di Pilkada DKI 2017 secara brutal demi menghadang Basuki Tjahaja Purnama, kandidat dengan minoritas ganda Tionghoa dan Kristen, menjadi gubernur.

Pada 2017 dalam satu kunjungan ke Amerika, saya membeli buku A History of the American People karangan Paul Johnson. Di buku yang terbit 1999 itu terdapat kutipan pernyataan Nixon kepada ajudannya, Pete Flanigan. Nixon berkata: “Pete, here’s one thing we can satisfied about. This campaign has laid to rest for ever the issue of a candidate’s religion in presidential politics. Bad for me, perhaps, but good for America.” Nixon menolak menggunakan agama sebagai senjata atau strategi politik meski ia harus kalah dari Kennedy.

Penolakan penggunaan agama sebagai identitas juga terjadi pada Pilpres Amerika 2008. Ketika itu Barack Obama dan John McCain  bersaing merebut kursi presiden AS. Dalam sebuah kampanye, seorang ibu pendukung McCain menyebut Obama Arab, muslim, dan teroris. McCain menjawab, “Tidak, Bu, Obama bukan Arab, bukan pula teroris, kita tidak perlu menebarkan kebencian seperti itu. Dia warga negara Amerika Serikat yang baik dan memiliki perbedaan konsepsi dengan saya, dan itulah mengapa kami berkompetisi dalam pilpres kali ini.” McCain kalah dari Obama.

Orang berharap Anies melakukan serupa yang dilakukan Nixon dan McCain. Anies ternyata sekurang-kurangnya menikmati penggunaan agama di Pilkada DKI 2017. Anies tidak mengikuti jejak Nixon dan McCain, mungkin karena takut kalah. Anies bukan negarawan. Anies lebih memilih dirinya menang meski rakyat terbelah dan demokrasi kalah.

Belakangan beredar foto Anies Baswedan sarungan membaca buku How Democracies Die. Saya membeli buku itu pada 2018, beberapa bulan setelah buku terbit, di toko buku yang menjual buku berbahasa Inggris di Jakarta. Saya, minus sarungan dan tanpa difoto serta diviralkan, membaca buku karangan Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt itu untuk keperluan penulisan disertasi saya.

Buku How Democracies Die menjelaskan kematian demokrasi akibat populisme Donald Trump pada Pilpres Amerika 2016. Populisme Trump ialah populisme sayap kanan yang menggunakan idiom agama, ras, etnik, pribumi-nonpribumi. Pilpres Amerika 2016 serupa Pilkada DKI 2017.

Orang ramai merespons foto Anies sarungan membaca buku How Democracies Die itu. Tak sedikit yang merespons positif. Banyak yang mengkritik. Saya cuma berharap, Anies tidak sedang belajar membunuh, tetapi menghidupkan, demokrasi. Saya berharap, siapa tahu Anies bertarung di Pilpres 2024, ia tidak ketagihan menggunakan agama atau sekurang-kurangnya menikmati penggunaan agama. Taruhannya fatal, yakni terbelahnya rakyat dan matinya demokrasi.
 



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.