Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Biden atau Trump Apa Untungnya?

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group
07/11/2020 05:00
Biden atau Trump Apa Untungnya?
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SECARA geografis, letak Amerika Serikat sangat jauh dari Indonesia. Jarak dari Jakarta ke Washington DC saja lebih dari 16 ribu kilometer. Butuh waktu hingga 24 jam perjalanan pesawat dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, menuju Bandara Internasional Washington Dulles di AS.

Namun, tak bisa disangkal, secara psikologis AS dekat dengan Indonesia. Apa yang terjadi di AS akan selalu menjadi magnet perhatian warga Indonesia. Lebih-lebih kontestasi menuju kursi ‘Amerika 1’.

Banyak orang Indonesia berharap Joe Biden, kandidat presiden dari Partai Demokrat, memenangi kontestasi. Namun, sebagian publik diam-diam ada yang senang jika capres Partai Republik Donald Trump kembali terpilih. Hasil sementara yang hampir final menurut Associated Press menunjukkan Biden unggul dengan suara elektoral 264 melawan Trump dengan 214 suara elektoral. Cuma butuh enam suara elektoral lagi bagi Biden untuk menuju Gedung Putih.

Lalu, apa untungnya bagi Indonesia bila Biden menang? Apa pula enaknya jika ternyata Trump tetap melenggang? Jawaban atas pertanyaan itu setidaknya tersedia dari beberapa data, terutama data statistik, plus janji kampanye kedua kandidat tersebut.

Kemenangan Joe Biden dinilai lebih menguntungkan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Sebaliknya, jika Donald Trump yang menang, kebijakan proteksionisme AS akan berlanjut dan dampaknya akan kurang baik bagi Indonesia. Kemenangan Biden dinilai akan bisa memperkuat kebijakan globalisasi dan perdagangan bebas. Itu bisa menguntungkan ekspor Indonesia.

Dalam kampanye, Biden sempat berjanji terkait dengan penanganan permasalahan sengketa perdagangan dengan Tiongkok secara multilateral melalui WTO.

Selain itu, faktor calon wakil presiden, Kamala Harris, membuat AS mungkin kembali memandang secara khusus Asia seperti era Barack Obama. Biden bisa lebih menguntungkan Indonesia terutama dalam kaitan Laut China Selatan yang dalam beberapa tahun ini agresif diusik Tiongkok.

Jika Trump menang, pasar keuangan domestik Indonesia akan lebih tertekan jika dibandingkan dengan Joe Biden yang menang. Trump lebih membiarkan negara lain mengurusi diri sendiri, sebaliknya Biden bakal mengajak serta negara lain dalam menyikapi Tiongkok.

Terkait dengan perdagangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan kita selalu surplus saat berdagang dengan AS. Indonesia merupakan mitra dagang ke-50 bagi AS dengan volume dagang senilai lebih dari US$16 miliar per tahun. Neraca perdagangan September 2020, misalnya, kita surplus US$2,44 miliar. Itu menjadikan neraca dagang kita untuk kelima kalinya surplus tahun ini. Lima produk ekspor andalan kita ialah pakaian, hasil karet, alas kaki, produk elektronik, dan furnitur.

Kebijakan proteksionis Trump membuat Indonesia dicoret dari daftar negara berkembang yang berhak memperoleh fasilitas bebas bea masuk, alias generalized system of preferences (GSP). Trump lebih suka dengan kesepakatan bilateral, ini memungkinkan Indonesia melakukan lobi dan menciptakan kesepakatan perdagangan/ investasi bilateral pula. Kesepakatan bilateral tersebut hampir tidak mungkin bisa ada bila presiden AS bukan Donald Trump. Namun, di sisi lain Trump juga tipe presiden yang bergerak berdasarkan sentimennya sendiri dan cenderung menghukum negara yang tidak disukai sehingga menciptakan ketidakpastian bagi dunia usaha.

Sepanjang pemerintahan Trump, Indonesia untuk pertama kalinya di-review sampai dua kali untuk mempertahankan fasilitas GSP. Akibat kebijakan Trump pula, mekanisme dispute settlement di WTO menjadi tidak berfungsi sehingga kasus-kasus yang ingin dimenangi Indonesia melalui WTO sulit memiliki perkembangan yang cepat.

Kebijakan Trump terhadap Tiongkok turut menciptakan peluang ekonomi bagi Indonesia. Namun, banyak yang menilai Indonesia tidak memperoleh keuntungan yang berarti dari peralihan perdagangan, juga investasi dari baik AS maupun Tiongkok sepanjang 2018-2019. Bahkan, baik investasi maupun ekspor Indonesia-AS cenderung lebih rendah di 2019 bila dibandingkan dengan 2018.

Meski ekspor Indonesia turun, penurunan impornya lebih besar. Tercatat pada 2019, nilai ekspor Indonesia dan AS turun 3,8% menjadi US$17,7 miliar. Sementara itu, impor menurun hingga 8,8% menjadi US$9,3 miliar. Alhasil, nilai neraca perdagangan dengan ‘Negeri Paman Sam’ itu meningkat 2,4% dari US$8,3 miliar pada 2018 menjadi US$8,5 miliar di 2019.

Namun, siapa pun yang akan menang, Biden atau Trump, sebaikbaik perkara ialah bila kita mengusahakan setiap peluang dari upaya kita sendiri. Seperti kalam Tuhan dalam kitab suci yang pernah dikutip Bung Karno di Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa: ‘Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri’.



Berita Lainnya
  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik