Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH mewawancarai bangku kosong termasuk kerja jurnalistik? Begitu antara lain pertanyaan yang mengiringi wawancara Najwa Shihab dengan bangku kosong yang semestinya diduduki Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Naj wa, katanya, sudah mengundang Terawan beberapa kali, tetapi yang bersangkutan tak kunjung hadir untuk diwawancarai soal pandemi covid-19 di program Mata Najwa.
Sebagian orang menyebut Najwa melakukan wawancara imajiner. Najwa justru melakukan kerja jurnalistik bila dikatakan mewawancarai bangku kosong ialah wawancara imajiner.
Dalam dunia jurnalisme, meski tak semua sepakat, dikenal istilah wawancara imajiner. Dalam wawancara imajiner yang ‘diwawancarai’ biasanya tokoh yang sudah meninggal, yang tak mungkin dihadirkan. Oleh karena itu, pewawancara harus paham betul isi kepala alias pikiran sang tokoh.
Christianto Wibisono punya rubrik wawancara imajiner dengan Bung Karno di tabloid Detak pada 1990-an. Christianto pastilah menyelami pikiran-pikiran Bung Karno. Dia menuliskan hasil wawancara dengan Bung Karno dalam bentuk tanya jawab. Christianto bertanya, Bung Karno menjawab. Sebetulnya Christianto yang bertanya sekalian menjawab pertanyaannya itu. Oleh karena itu, wawancara imajiner sesungguhnya masuk kategori opini, bukan reportase.
Najwa bermaksud mewawancarai tokoh sehat walafi at yang masih sangat mungkin dihadirkan untuk diwawancarai. Bila Terawan tidak hadir, Najwa dan tim perlu lebih telaten meyakinkan Terawan supaya mau hadir. Siapa tahu besok-besok, Terawan bersedia hadir.
Betul pejabat publik harus berbicara kepada publik sebagai pertanggungjawaban. Namun, pejabat publik berbicara kepada publik tidak harus di program Mata Najwa. Wawancara Najwa dengan bangku kosong yang semestinya ditempati Terawan memberi kesan Terawan wajib hukumnya berbicara di Mata Najwa.
Ketidakhadiran narasumber kiranya tak elok menjadi alasan pewawancara mewawancarai bangku kosong. Kelak dengan alasan narasumber menolak diwawancarai, wartawan tak mengapa mewawancarai kursi kosong serupa yang dilakukan Najwa. Wartawan, dengan alasan Najwa pernah melakukannya, kelak boleh mewawancarai kursi kosong. Wartawan meniru Najwa.
Najwa sendiri meniru pewawancara lain yang mewawancarai kursi kosong. Pembawa acara televisi di Inggris, Kay Burley, mendapati narasumber yang sudah dijadwalkan batal hadir untuk diwawancara. Narasumbernya semestinya Ketua Partai Konservatif Inggris, James Cleverly. Burley lantas memuntahkan rentetan pertanyaan ke kursi kosong yang seharusnya menjadi tempat duduk Cleverly.
Najwa boleh jadi mewawancarai kursi kosong yang sedianya diduduki Terawan karena sudah ada ‘yurisprudensi’, preseden, atau contoh perkara, yakni wawancara Burley dengan kursi kosong yang semestinya diduduki Cleverly. Apakah kelakuan orang di masa lalu tiba-tiba bisa menjadi pembenar orang lain melakukan hal serupa?
Najwa menghamburkan berondongan pertanyaan kepada kursi kosong yang seharusnya diduduki Terawan. Najwa tidak ber tingkah seolah dia Terawan yang menjawab rentetan pertanyaan itu. Ini tidak seperti Christianto Wibisono yang seolah menjadi Bung Karno dengan jawaban-jawaban imajiner atas berbagai pertanyaan imajiner.
Dalam wawancara jurnalistik, baik imajiner maupun sungguhan, pewawancara mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban. Wartawan membutuhkan jawaban narasumber. Narasumber yang semestinya lebih banyak berbicara, bukan wartawan. Wartawan mendengar dan menyimak jawaban narasumber. Wawancara pada hakikatnya the art of listening, seni mendengar.
Ketika mewawancarai kursi kosong, Najwa tidak mendapatkan jawaban narasumber. Najwa tidak mungkin mendengar jawaban narasumber. Malah cuma Najwa yang berbicara.
Dua syarat, yakni yang diwawancarai tokoh yang sudah wafat dan sang tokoh menjawab pertanyaan, tidak terpenuhi dalam ade gan Najwa mewawancarai kursi kosong yang sedianya diduduki Terawan. Itu bukan wawancara imajiner, juga bukan wawancara sungguhan. Itu bukan kerja jurnalistik.
Kalau bukan kerja jurnalistik, lantas apa? Di medsos, ada yang menyebut perundungan siber. Ada yang menyebut persekusi. Ada pula yang menyebut monolog. Pun, ada yang menyebut drama, teater. Ada lagi yang menyebut itu peradilan in absentia.
Orang tentu bebas berpendapat. Saya mau setop pada pendapat Najwa tidak sedang menjalankan pekerjaan jurnalistik ketika dia mewawancarai kursi kosong yang ia bayangkan diduduki Menkes Terawan.
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved