Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Aib Besar Pilkada

Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group
24/9/2020 05:00
Aib Besar Pilkada
Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PILKADA 2020 berbiaya Rp20 triliun sesungguhnya sedang mempertontonkan aib besar. Mempertontonkan tabiat tidak punya kesadaran hukum oleh sebagian calon kepala daerah.

Kesadaran hukum merupakan kesadaran diri sendiri tanpa tekanan, paksaan, atau perintah dari luar untuk tunduk pada hukum yang berlaku. Kamus mendefenisikan kesadaran hukum itu sebagai kesadaran seseorang akan nilai-nilai yang terdapat dalam diri manusia mengenai hukum yang ada.

Kesadaran hukum yang datang dari dalam diri sendiri itu yang kini kian menjauhi calon kepala daerah. Menjauh karena mereka dirasuki syahwat kekuasaan, sehingga menerabas batas kepatutan.

Sungguh ironis. Pemerintah harus mencarikan cara baru untuk memaksakan para calon kepala daerah mematuhi protokol kesehatan. Padahal, ketentuan itu terang-benderang diatur regulasi KPU.

Cara yang ditempuh antara lain Menko Polhukam Mahfud MD bersama Mendagri Tito Karnavian mengumpulkan para sekjen partai politik. Para sekjen dikumpulkan pada Selasa (22/9) untuk menyepakati agar peserta Pilkada 2020 mematuhi protokol kesehatan.

Tegas dikatakan bahwa cara yang diambil pemerintah itu tidak sepenuhnya bijak. Sebab, calon kepala daerah tidak semuanya diusung partai politik. Ada 66 paslon dari jalur independen terpaksa, tepatnya dipaksa, mengikuti kesepakatan pemerintah dan para sekjen parpol meski kesepakatan itu baik adanya.

Kesepakatan itu antara lain penetapan pasangan calon dilakukan kemarin dalam rapat pleno tertutup, pengambil undian nomor urut pada hari ini hanya dihadiri paslon dan 1 orang tim.

Janganlah heran bila ada yang menyebutkan bahwa sikap negarawan telah dibunuh secara sadis dan terang-terangan oleh para calon kepala daerah. Karena itu, muncul tuntutan menunda pilkada demi keselamatan rakyat di masa pandemi covid-19.

Tuntutan menunda pilkada tidak dikabulkan. Wajar belaka bila muncul ajakan tetap menjaga kewarasan agar tidak memilih calon kepala daerah yang mengabaikan protokol kesehatan.

Bahkan, ada pula yang terang-terangan memilih golput sebagai ungkapan solidaritas kemanusiaan.

Mematuhi protokol kesehatan wajib hukumnya kalau tidak mau pilkada menjadi klaster baru penyebaran covid-19. Apalagi, hasil penelitian Bawaslu yang diumumkan 22 September menyebutkan pandemi covid-19 berpotensi mengganggu pelaksanaan tahapan Pilkada 2020.

Ada 9 indikator kerawanan yang dipakai Bawaslu, yaitu penyelenggara pemilu terinfeksi covid-19; penyelenggara pemilu yang meninggal karena covid-19; penyelenggara pemilu yang tidak melaksanakan protokol kesehatan dalam melaksanakan tugas.

Selain itu, lonjakan pasien covid-19; lonjakan pasien covid19 meninggal dunia; informasi tentang pasien covid-19 tidak tertangani oleh fasilitas kesehatan; penyelenggara pemilu mengundurkan diri terkait covid-19 (tertular, khawatir tertular, pencegahan pribadi); masyarakat, tokoh masyarakat/organisasi kemasyarakatan menolak penyelenggaraan pilkada di tengah pandemi; dan perubahan status wilayah terkait pandemi.

Ada peningkatan signifi kan jumlah daerah yang masuk kategori rawan tinggi dari aspek pandemi covid-19. Pada IKP yang dirilis Juni, hanya ada 27 kabupaten/kota yang masuk kategori rawan tinggi. Namun, setelah dimutakhirkan pada September, jumlahnya menjadi 50 kota/kabupaten yang dinyatakan rawan tinggi.

Dari 50 kabupaten/kota tersebut, sepuluh daerah yang paling tinggi tingkat kerawanannya ialah Kota Depok, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, Kota Manado, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sintang, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Bone Bolango, dan Kota Bandar Lampung.

Penelitian Bawaslu juga mencatat bahwa pada tingkat provinsi, seluruh daerah yang menyelenggarakan pemilihan gubernur terindikasi rawan tinggi dalam konteks pandemik.

Urutannya ialah Kalimantan Tengah, Sumatra Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, Jambi, dan terakhir Kalimantan Utara. Pilkada di tengah pandemi yang mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat itu yang menuntut kesadaran hukum para calon kepala daerah. Apalagi, mereka yang kemarin resmi ditetapkan sebagai calon kepala daerah ialah orang-orang yang sehat rohani dan jasmani.

Calon kepala daerah mestinya menjadi sumur keteladanan yang tak kering ditimba. Jangan biarkan anak-anak zaman now menengok batu nisan negarawan untuk mencari sosok anutan.

Masih ada kesempatan sampai 9 Desember untuk menjadikan diri mereka layak dan pantas sebagai anutan rakyat.



Berita Lainnya
  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.

  • Pesta Elite, Nestapa Rakyat

    21/1/2026 05:00

    REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk. 

  • Vietnam Melaju Kencang

    20/1/2026 05:00

    KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.

  • Suara Profesor 15 Januari

    19/1/2026 05:00

    SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.

  • Setan pun Minder

    15/1/2026 05:00

    INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.

  • Regenerasi Koruptor

    14/1/2026 05:00

    Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.

  • Angka Tiga

    13/1/2026 05:00

    PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).

  • Burung Diadili, Bencana Dibiarkan

    12/1/2026 05:00

    PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah

  • Kutukan Ekonomi Ekstraktif

    09/1/2026 05:00

    VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai

  • Maduro dan Silfester

    08/1/2026 05:00

    APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.

  • Negara Bahagia

    07/1/2026 05:00

    INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.