Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPAKARAN, kata Tom Nichols dalam buku The Death of Expertise, telah mati. Tengah berlangsung fenomena matinya kepakaran. Yang membunuhnya mereka yang mendadak pintar, pakar, dan berilmu, yang hanya berguru pada informasi-informasi di internet yang tak terjamin kebenarannya. Mereka kemudian memperlihatkan kepakarannya melalui internet atau media sosial.
Orang berilmu, orang pandai, dan pakar, dalam bahasa Arab disebut alim ulama. Makna ulama lalu mengalami penyempitan menjadi orang yang memiliki ilmu agama Islam. Kita kadang menyebut ulama atau mereka yang memiliki ilmu agama Islam itu sebagai ustaz.
Serupa fenomena mendadak jadi pakar, fenomena mendadak jadi ulama atau ustaz pun terjadi dewasa ini. Para ustaz atau ulama dadakan ini memperoleh ilmu agama Islam dengan nyantri di internet. Mereka lalu berdakwah melalui media sosial. Media arus utama, terutama televisi, ikut-ikutan memberi 'panggung' kepada mereka. Matinya keulamaan pun mulai menggejala.
Ada yang menyebut mereka yang mendadak jadi ulama itu sebagai ulama jadi-jadian. Ada pula yang menyebut mereka ulama instan. Serupa mi instan yang siap disantap tanpa repot-repot mengolahnya, ulama instan tak perlu repot-repot berolah pikir dengan belajar di pondok pesantren.
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ketika menjadi Ketua PBNU mengatakan akan datang suatu masa orang yang bukan 'keturunan' pesantren dipanggil ustaz. Maksud Gus Dur, bakal banyak orang menjadi ustaz tanpa harus belajar di pesantren. Ramalan Gus Dur kini terbukti.
Dalam bahasa KH Ma'ruf Amin yang kini menjabat wapres, banyak yang tidak mondok, tetapi jadi ulama. Ma'ruf Amin menyebut mereka sebagai orang yang diulamakan, bukan ulama sungguhan.
Celakanya, umat gemar mendengar ceramah ulama jadi-jadian atau instan ini. Bahkan, ada umat yang mengultuskan para ulama model begini sampai-sampai mereka menuding siapa pun yang mengkritik ulama tersebut sebagai penista ulama.
Para ulama instan ini menarik hati umat biasanya dengan ceramah keras, mengumbar ujaran kebencian, memaki, dan mengafirkan yang berbeda, kadang sembari melucu. Media arus utama, terutama televisi, kerap menampilkan mereka karena gaya dan konten mereka dirasa bisa meningkatkan rating. KH Ma'ruf Amin menyebut ustaz atau ulama yang gemar memaki sebagai almakiyun, ahli memaki.
Kementerian Agama berencana melaksanakan program ulama, ustaz, dai, atau penceramah besertifikat. Tujuannya meningkatkan kompetensi dan kualitas pemahaman moderasi beragama serta wawasan kebangsaan.
Program ulama besertifikat, sertifikasi ulama, atau apa pun itu namanya kontan memicu polemik. Polemik ini muncul bukan baru sekarang ketika Kementerian Agama menggagasnya, melainkan sejak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menggagas program serupa pada 2012.
Ada yang mengatakan tidak setuju ulama disertifikasi karena dalam Islam dikatakan bahkan orang yang mengerti satu ayat sekalipun diwajibkan berdakwah. Persoalannya bagaimana kalau satu-satunya ayat yang dimengerti dan didakwahkannya ayat kebencian atau ayat makian? Program dai besertifikat menjadikan ustaz atau ulama mengerti lebih banyak ayat kebaikan.
Di negara lain, seperti Singapura, Uni Emirat Arab, Malaysia, bahkan Arab Saudi, ulama juga disertifikasi. Guru atau wartawan yang mengajarkan atau menginformasikan ilmu dan pengetahuan duniawi saja harus disertifikasi, masa ustaz yang mengajarkan ilmu duniawi plus ukhrawi tak disertifikasi?
Program ulama besertifikat ini kiranya bertujuan mengatasi kehadiran atau keberadaan ulama dadakan, ulama jadi-jadian, dan ulama instan. Program ulama besertifikat menghindarkan kita dari fenomena matinya keulamaan.
Namun, Kementerian Agama harus konsisten dan tegas bila sungguh-sungguh ingin menjalankan program ulama besertifikat ini. Mengikuti program ini semestinya bukan kesukarelaan, melainkan keharusan bagi siapa pun yang disebut atau ingin disebut ulama.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved