Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SILA ketiga Pancasila dengan tegas menyatakan ‘Persatuan Indonesia’. Para pendiri bangsa menyadari itulah kekuatan dari Indonesia. Keberagaman jangan menjadi kelemahan, tetapi justru menjadi kekuatan. Bersatu kita utuh, bercerai kita runtuh.
Penerapan ‘Persatuan Indonesia’ harus terus kita lakukan. Berbagai perubahan zaman dan tantangan tidak boleh melupakan faktor yang satu itu. Nilai utama kebersamaan sebagai sebuah bangsa harus terus kita jaga, termasuk dalam menghadapi wabah covid-19 sekarang ini.
Kita justru harus semakin kukuh memperkuat barisan kita sebab musuh yang kita hadapi tidak kasatmata. Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo bahkan mengatakan, “Kita bersatu saja belum tentu bisa menang, apalagi kalau kita tidak bersatu.”
Pelajaran banyak negara dalam menghadapi wabah covid-19 ialah kemauan untuk meninggalkan kepentingan pribadi. Kita harus bergandengan tangan untuk menyelamatkan bangsa ini. Lex populi suprema lex, kesehatan masyarakat merupakan hukum yang tertinggi.
Untuk itulah selama lima bulan ini kita berjuang menjaga keselamatan masyarakat. Segala macam upaya dilakukan termasuk menghentikan semua kegiatan masyarakat. Semua orang kita minta tinggal di rumah dan kalau harus keluar rumah selalu menggunakan masker dan jaga jarak. Sesudah keluar rumah diingatkan untuk segera cuci tangan dengan sabun di air mengalir agar ketika memegang bagian wajah tidak terinfeksi covid-19. Bahkan kita minta masyarakat istirahat cukup dan olahraga teratur di samping mengonsumsi makanan bergizi.
Memang, harga yang harus kita bayar sangat mahal karena ekonomi nyaris terhenti. Untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat, pemerintah harus menyiapkan anggaran kesehatan dan ekonomi sampai Rp695 triliun. Tujuannya, negara membiayai mereka yang sempat tertular covid-19 dan memberikan bantuan sosial untuk warga yang kehilangan pekerjaan serta tidak memiliki pendapatan.
Tentu langkah penyelamatan itu memiliki banyak kelemahan. Kita memang tidak memiliki data akurat dan aparat terampil untuk menya lurkan bantuan secara benar. Namun, kita tidak bisa juga sekadar menyalahkan seakan-akan tidak ada yang telah kita lakukan untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini. Tugas kita bersama memperbaiki kelemahan yang masih ada.
Kita perlu belajar dari Selandia Baru yang dianggap sebagai salah satu negara paling baik menangani covid-19. Meski ada pemilihan umum di depan mata, tidak menjadikan ajang politik itu untuk saling menista dan meniadakan. Kepentingan bangsa dan negara yang mereka dahulukan.
Tidak ada informasi asimetris yang dilemparkan, dipublikasikan, dan diperdebatkan di publik. Semua mencoba menyumbangkan pemikiran terbaik kepada bangsa dan negaranya. Sekecil apa pun kontribusi coba diberikan, termasuk tidak membingungkan masyarakat dengan pernyataan aneh-aneh. Bahkan media memberikan alokasi tayangan dan halaman untuk mengedukasi masyarakat bagaimana menghindari covid-19.
Sedih rasanya ketika melihat pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia kita justru saling menyalahkan. Seakan berlomba untuk menjadi penyelamatan bangsa. Sayangnya bukan dengan aksi nyata, tetapi sekadar menggelar aksi politik. Lupa bahwa yang sedang kita hadapi sekarang ini membutuhkan pendekatan ilmiah, medis, dan rasionalitas.
Bagaimana kita bisa percaya bahwa mereka ingin menyelamatkan bangsa, ketika justru mengajak orang banyak berkerumun tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Tanpa menjaga jarak dan berorasi tentang kepahlawanannya sebenarnya mereka berpotensi menyebarkan covid-19 kepada orang di sekitarnya. Kegiatan mengumpulkan massa saat masih berlaku darurat kesehatan merupakan sebuah pelanggaran hukum.
Kalau kita memang cinta kepada bangsa dan negara ini, mari kita kembali kepada cita-cita kemerdekaan. Kita bangun bersama bangsa negara ini menjadi modern, maju, memiliki ilmu pengetahuan, dan juga bertakwa. Membangun bangsa dan negara tidak harus melalui jalur kekuasaan, tetapi langsung turun ke bawah membantu saudara-saudara kita yang masih tertinggal.
Kita sudah memilih jalan demokrasi, kita hormati pilihan rakyat untuk memberi kesempatan kepada yang terpilih sebagai Presiden untuk menjalankan tugasnya. Kita sama-sama jaga Presiden terpilih untuk berhasil karena we cannot afford to fail, bangsa dan negara ini tidak boleh gagal. Nanti 2024 ada waktunya kembali bersaing ke tampuk kekuasaan, termasuk dalam penanganan covid-19 sekarang ini, kita harus berhasil.
Jangan malah kita bertepuk tangan ketika banyak warga tertular dan menjadi korban. Kita sama-sama kampanyekan perubahan perilaku agar kita bisa terhindar dari virus yang berbahaya ini.
Setelah lima bulan wabah covid-19 berlangsung, kita juga harus menyelamatkan ekonomi warga. Semua harus mau berperan serta menggerakkan ekonomi tanpa boleh tertular virus korona. Mari kita isi upaya penyelamatan Indonesia dengan tindakan nyata, bukan hanya berteriak-teriak untuk menyatakan bahwa kita yang paling hebat.
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved