Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Mentang-Mentang Mayoritas

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
12/8/2020 05:00
Mentang-Mentang Mayoritas
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(Dok.MI/Ebet)

SEDIKITNYA penganut suatu gagasan sama sekali tidak mengurangi keabsahannya, dan, sebaliknya, sangat populernya suatu gagasan tidak membuktikan kebenarannya.’

Begitu pernyataan Sayyid al-Murthada, seorang ulama Syiah. Penganut Syiah memang lebih sedikit jika dibandingkan dengan penganut Sunni. Sepintas pernyataan Al-Murtdhada
itu semacam pembelaan diri kalangan Syiah yang minoritas. Akan tetapi, pernyataan itu kiranya benar.

Gagasan Galileo Galilei bahwa Matahari pusat alam semesta atau heliosentris tidak populer waktu itu. Yang populer ketika itu gagasan Bumi pusat alam semesta atau geosentris. Namun, gagasan Galileo terbukti benar.

Pilihan terbanyak terhadap seorang kandidat dalam pemilihan umum demokratis sekalipun belum tentu pilihan benar. Kita, misalnya, menganggap pilihan mayoritas orang Amerika terhadap Presiden Donald Trump sebagai pilihan keliru.

Konon penghuni neraka kelak lebih banyak daripada penghuni surga. Itu artinya penganut jalan kesesatan lebih besar daripada pengikut jalan kebenaran. Mayoritas salah dan minoritas benar.

Akan tetapi, mayoritas sering kali menganggap diri mereka benar bahkan paling benar. Mereka menganggap label mayoritas yang mereka sandang sebagai ukuran kebenaran.

Mentang-mentang mayoritas, mereka menganggap diri benar dan minoritas salah, keliru, sesat, kafir, dan halal darahnya. Itulah yang terjadi pada peristiwa penyerangan keluarga
Habib Umar Assegaf di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu, 8 Agustus 2020. Kelompok radikal agama menyerang keluarga Habib Umar Assegaf seraya berteriak ‘Allahu Akbar, Syiah laknatullah, kafir, bunuh’. Tiga anggota keluarga Habib Umar luka-luka.

Habib Umar ketika itu sedang menyelenggarakan doa bersama menjelang pernikahan atau midodareni putrinya. Penyerang mengira keluarga itu sedang menyelenggarakan
ritual Syiah. Keluarga Habib Umar memang penganut Syiah.

Midodareni ialah satu tahap dalam prosesi pernikahan adat Jawa. Dalam banyak hal, sudah terjadi persilangan antara tradisi Syiah dan tradisi Jawa serta suku-suku lain
di Indonesia. Barzanji, cukur rambut bayi, peringatan 1 Suro, bubur asyura, mengusap kepala anak yatim piatu, dan tabuik, merupakan tradisi Syiah yang diserap berbagai
tradisi suku-suku bangsa di Indonesia.

Nahdliyin atau pengikut Nahdlatul Ulama mempraktikkan tradisi-tradisi Syiah itu. Gus Dur pernah menyebut Islam di Indonesia sesungguhnya bermazhab Ahlus Sunnah Was Syiah.

Akan tetapi, penyerapan dan praktik berbagai tradisi Syiah itu tak mengurangi diskriminasi terhadap para penganutnya. Kasus penyerangan keluarga Habib Umar Assegaf hanyalah satu dari deretan panjang diskriminasi terhadap Syiah.

Pangkalnya, ya itu tadi, mayoritas yang merasa benar memvonis minoritas sesat. Anggapan umum menyebutkan sebagian besar orang Indonesia penganut Sunni dan hanya segelintir penganut Syiah. Kaum Sunni menganggap diri mereka sebagai Islam arus utama dan Syiah Islam pinggiran. Begitu terpinggirkannya Syiah sampai-sampai ia dianggap bukan Islam.

Mentang-mentang mayoritas yang pada gilirannya memantik perasaan paling benar juga memproduksi diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas lainnya. Mayoritas mendiskriminasi minoritas agama, etnik, ras, gender, atau orientasi seksual.

Penegakan hukum tentu penting untuk mengurangi kesewenang-wenangan mayoritas. Kita mengapresiasi polisi yang telah menangkap sejumlah pelaku penyerangan
keluarga Habib Umar.

Namun, terpenting ialah perubahan cara berpikir. Kita tak boleh lagi berpikiran bila kita mayoritas kita pasti benar dan minoritas jelas sesat. Mayoritas semestinya
memandang minoritas sebagai kelompok berbeda, bukan kelompok sesat, dan perbedaan itu hukum alam, sunnatullah, rahmat. Jangan lagi ada mentang-mentang mayoritas di antara kita.



Berita Lainnya
  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.