Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Jambu Hanyut Sang Guru Agama

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
20/6/2020 05:00
Jambu Hanyut Sang Guru Agama
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

ALKISAH, seorang saleh mendapati jambu hanyut di sungai yang disusurinya. Karena lapar, ia mengambil dan menyantapnya. Belum tuntas jambu disantap, perutnya sakit. Orang saleh itu berpikir ada yang tak beres dengan cara dia memperoleh jambu itu. Ia lantas membungkus sisanya dan membawanya menyusuri hulu sungai mencari tempat jambu berasal. Ia menemukan pohon jambu berbuah banyak di tepi sungai di bagian hulu. Ia berpikir dari situlah jambu yang dimakannya berasal.

Ia menemui pemilik pohon, meminta maaf telah ‘mencuri’ dan memakan jambunya. Si pemilik memafkan dan, ajaib, sakit perut orang saleh itu hilang.

Kisah itu diceritakan guru agama Islam saya di kelas satu sekolah dasar. Belasan tahun kemudian, saat saya kuliah, kisah serupa saya baca di Slilit Sang Kiai, buku kumpulan tulisan Emha Ainun Najib.

Dikisahkan seorang kiai kampung pulang kenduri. Ia terganggu dengan sisa makanan yang terselip di giginya. Orang Jawa menyebutnya slilit. Ia lalu mengambil ujung bambu dari pagar rumah yang dilewatinya untuk dijadikan tusuk gigi guna mencongkel slilit itu. Di akhirat, tusuk gigi yang diambil sang kiai dari pagar bambu tanpa seiizin pemilknya itu menghalanginya masuk surga.

Ibu guru agama Islam saya hendak mengajarkan moral atau akhlak lewat cerita jambu hanyut tadi. Dia memang lebih banyak mengajarkan akhlak ketimbang aspek lain dalam beragama di mata pelajaran agama Islam. Pun, Emha menekankan aspek akhlak dalam beragama lewat kisah Slilit Sang Kiai.

Pakar agama membagi agama dalam tiga aspek, yakni akhlak, syariah atau ibadah, serta akidah. Banyak pakar menyebut akhlak lebih utama daripada dua aspek lainnya. Bukankah para nabi diutus ke muka bumi pertama-tama untuk mengubah akhlak manusia? “Dan aku tidak diturunkan ke muka bumi kecuali untuk memperbaiki akhlak,” kata Muhammad. Itu artinya apa yang dilakukan guru agama Islam saya di SD dulu sudah tepat.

Kemendikbud mewacanakan menggabungkan mata pelajaran agama di sekolah dasar ke dalam mata pelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKN). Zaman saya di SD dulu PPKN disebut PMP, pendidikan moral Pancasila. Kemendikbud kiranya hendak menekankan aspek akhlak dalam pelajaran agama. Pun moral itu universal, tak perlu dikotakkan dalam agama-agama.

Pada konteks akhlak lebih utama dalam beragama, wacana Kemendikbud untuk menekankan moral agama lewat peleburan pelajaran agama dengan PPKN sudah tepat. Akhlak selayaknya diajarkan sejak dini, sejak SD. Semestinya aspek akhlak dalam beragama terus diutamakan di tingkat pendidikan lebih tinggi.

Anak saya yang kuliah di universitas swasta terkemuka mata kuliah agamanya dilebur ke dalam mata kuliah character building. Melalui mata kuliah itu, dosen mengajarkan agama, Pancasila, dan kewarganegaraan. Namun, anak saya yang kuliah di universitas negeri, serupa dengan saya ketika kuliah dulu, masih harus mengambil mata kuliah agama Islam.

Bilapun ada mata kuliah agama, semestinya bukan mata kuliah agama Islam, agama Kristen, dan lain-lain, melainkan mata kuliah agama-agama. Lewat mata kuliah itu, dosen mengajarkan dan mengajak mahasiswa mengenal dan memahami agamaagama, bukan cuma agamanya sendiri. Akhlak keberagaman terbentuk melalui mata kuliah agama-agama itu.

Meski wacana peleburan mata pelajaran agama ke PPKN tepat, banyak yang menolaknya. Harap maklum, di negara yang ber- Ketuhanan Yang Maha Esa, agama dianggap sangat sakral dan sensitif. Kita biasanya tak tahan bila sudah dihadap-hadapkan dengan perkara agama lalu mengalah.

Bila Kemendikbud memilih mengalah, apa boleh buat, tetap adakan mata pelajaran agama. Namun, Kemendikbud harus memastikan kontennya lebih menekankan aspek akhlak, serupa yang ditekankan guru agama Islam saya di SD dulu lewat kisah jambu hanyut tadi. Konten radikalisme seperti yang ada dalam buku anak SD berjudul Anak Islam Suka Membaca serupa yang ditemukan beredar di Ponorogo, Jawa Timur, pada 2016, jangan terulang.

Orangtualah yang bertanggung jawab mengajarkan akidah dan ibadah kepada anak-anak. Orangtua bisa mendatangkan guru privat agama untuk mengajarkan akidah dan ibadah. Orangtua bisa juga mengirim anak-anak ke madrasah sore hari atau sekolah Minggu supaya anak mendapat pelajaran akidah dan ibadah.



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)