Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Komunisme

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
17/6/2020 05:00
Komunisme
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PARTAI Komunis Indonesia melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda pada 1926-1927. Pemberontakan itu berlangsung di sejumlah daerah di Indonesia, yakni Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Barat.

Sejarah mencatatnya sebagai pemberontakan pertama yang dilakukan para perintis kemerdekaan. Pemberontakan PKI itu kiranya menjadi pemberontakan pertama yang mengatasnamakan kemerdekaan Indonesia. Betul sebelumnya kita mengenal para pahlawan seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Patimura, Tjut Nyak Dien, yang memberontak terhadap Belanda, tetapi semua pemberontakan itu mengatasnamakan lokalitas atau kedaerahan.

Pemberontakan PKI itu gagal. Pemerintah Hindia Belanda menumpasnya. Namun, sebagai yang pertama yang mengatasnamakan Indonesia, pemberontakan ini kiranya ‘menginspirasi’ berbagai upaya perintisan kemerdekaan Indonesia. Itulah sebabnya dikatakan pemberontakan PKI 1926-1927 punya arti besar dalam sejarah Indonesia modern. Apalagi, dalam peristiwa itu kaum komunis dan agama bekerja sama melawan penguasa Hindia Belanda.

Berbeda dengan pemberontakan PKI 1926-1927 ketika kaum komunis bahu-membahu dengan kaum agama, pemberontakan PKI di Madiun pada 1948 justru menjadikan kalangan agama sebagai sasaran, selain tentara, pejabat pemerintah, dan masyarakat. Pemberontakan PKI 1948 itu juga gagal. TNI dan rakyat menumpasnya.

PKI dikatakan berada di balik kudeta 30 September 1965. Kudeta itu gagal. Pangkostrad Mayjen Soeharto bergerak cepat menumpasnya. Para tokohnya diburu dan ditangkapi, beberapa di antaranya kelak dijatuhi hukuman mati. Anggota dan simpatisannya juga ditangkapi bahkan dibasmi. Rakyat menuntut PKI dibubarkan. MPRS menerbitkan ketetapan pembubaran PKI.

Di tingkat dunia, komunisme sebagai ideologi mengalami kegagalan dengan bubarnya Uni Soviet pada 1991. Negara-negara yang masih mempertahankan ideologi komunisme bisa dihitung dengan jari. Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba, hanyalah segelintir negara berideologikan komunisme. Itu pun, dalam kasus Tiongkok dan Vietnam, ideologi politik komunisme tidak murni lagi, bercampur dengan ideologi ekonomi kapitalisme.

Komunisme bisa dikatakan proyek gagal, produk afkir, baik di Tanah Air maupun mancanegara. Siapa pula yang sudi mereproduksi ideologi gagal? Siapa pula yang mau bernostalgia mereproyeksi ideologi afkir?

Akan tetapi, kita amat khawatir ada yang diam-diam ingin menghidupkan kembali komunisme. Kita bahkan berkeyakinan ideologi komunisme senantiasa mengendap-endap mengintai kita dan tiba-tiba menyusup ketika kita lengah. Kita menyebutnya bahaya laten komunisme, proyek laten komunisme.

Tidak mengherankan ketika Ketetapan MPRS Tahun 1966 tentang pelarangan komunisme tidak ada dalam konsideran Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila banyak yang bereaksi keras. Banyak yang mengkhawatirkan absennya Tap MPRS Tahun 1966 itu bakal membuka peluang bagi kebangkitan kembali ideologi komunisme.

Kita sukses mencegah bahaya laten komunisme bangkit kembali melalui RUU HIP. Parpol-parpol setuju dan mendorong Tap MPRS pelarangan komunisme dicantumkan sebagai konsideran dalam RUU HIP itu. Organisasi keagamaan setali tiga uang. Pemerintah bahkan memutuskan menunda pembahasannya.

Siapa yang ingin membangkitkan ideologi komunisme yang afkir itu dengan tidak mencantumkan TAP MPRS Tahun 1966 di konsideran RUU HIP, kita tak tahu. Namanya juga bahaya laten, yang mendatangkan bahaya juga laten, tak tampak, tak  berwujud, serupa hantu. Ideologi komunisme sering disebut setan, hantu, dan genderuwo. Dia hanya bermain-main dalam bayangan ketakutan kita.

Komunisme dianggap manjur digunakan sebagai alat menakutnakuti, termasuk menakut-nakuti rakyat untuk tidak memilih seorang kandidat presiden. Rakyat ditakut-takuti sang kandidat akan membangkitkan ideologi komunis bila terpilih kelak.

Pada Pemilu Presiden 2014, Jokowi dikatakan komunis, anak keturunan ayah PKI, supaya rakyat takut memilihnya. Komunisme bahkan dianggap dosa turunan. Bila orangtua komunis, anak, cucu sampai cicit, otomatis komunis.

Pada Pemilu 2019, beredar foto mirip Jokowi dewasa berada di dekat podium tempat tokoh PKI DN Aidit sedang berpidato. Foto itu diambil ketika DN Aidit berpidato di hadapan massa PKI pada 1955. Jokowi lahir 1961. Bayangkan, bahkan orang belum lahir pun bisa dikatakan PKI.

Begitulah, komunisme direproduksi, dibangkitkan kembali, kiranya lebih demi tujuan politis, pada momen politik tertentu seperti pilpres.

Namun, serupa proyek-proyek sebelumnya, proyek politik komunisme juga gagal. Toh, rakyat tidak percaya sang kandidat komunis dan sebagian besar memilihnya menjadi presiden dua periode.

 

 

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita