Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Membangun Peradaban

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
12/5/2020 05:30
 Membangun Peradaban
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PANDEMI covid-19 sungguh menjadi masa kegelapan abad- 21 yang semula digambarkan sebagai era keemasan di saat dunia tidak mengenal batas. Virus kecil yang mematikan itu, setiap hari justru semakin memurukkan kehidupan umat manusia. Satu per satu orang mulai kehilangan pekerjaan dan juga kemudian masa depan.

AS yang mencoba mengembalikan kebesarannya pun ikut tak berdaya. Untuk April saja angka pengangguran di sana mencapai 20,5 juta orang. Tidak usah heran banyak warga terpaksa ikut program Feeding America demi mendapatkan bahan kebutuhan pokok.

Semua sangat berharap masa kegelapan ini segera berakhir. Orang tidak mungkin dibiarkan tidak bisa melakukan kegiatan apa pun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semua menyadari, kita tidak mungkin terus menggantungkan hidup dari uluran tangan orang lain.

Martabat manusia ditentukan oleh pekerjaan. Sebagai homo faber, manusia harus bekerja untuk menghasilkan sesuatu. Orang akan kehilangan harga diri ketika tidak bekerja, ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.

Kecepatan untuk merespons kondisi itulah yang diperlukan sekarang. Bahasa yang selalu didengungkan Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, kita harus mencegah jangan sampai masyarakat terpapar covid-19, tetapi juga jangan sampai terkapar oleh virus PHK.

Kita harus bersiap hidup dalam suasana yang disebut the new normal. Sampai kelak ditemukan vaksin covid-19, kita harus mau hidup dengan protokol kesehatan yang ketat. Tidak boleh masker lepas dari wajah kita. Selalu menjaga jarak agar tidak terkena oleh aerosol yang keluar dari mulut orang lain. Kita wajib menjaga pola hidup sehat dan bersih dengan selalu mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.

The new normal akan menciptakan sebuah peradaban baru. Peradaban untuk peduli terhadap sesama. Tanggung jawab pribadi harus dijalankan dengan sepenuh hati agar kita tidak membahayakan orang lain.

Peradaban itu bahkan harus dimulai dari sekarang. Kalau pemerintah melarang mudik, semua orang harus patuh menjalankannya. Mengapa? Karena kalau kita tidak patuh, berarti kita sebenarnya membahayakan orang lain termasuk saudara-saudara kita sendiri.

Bagaimana dengan orang yang mencuri-curi mudik dan bangga bisa mengelabui petugas? Kita harus mampu membangun peradaban baru bahwa orang yang hebat itu ialah orang yang patuh kepada aturan. Bukan orang yang melanggar aturan. Kita harus seperti bangsa lain yang maju peradabannya, yang tidak goyah oleh ketidakbenaran. Meski sudah tengah malam dan jalanan sepi, ia tidak pernah menerobos lampu merah karena itu membahayakan keselamatan orang lain.

Sekarang ini gugus tugas mengeluarkan surat edaran tentang kriteria pembatasan perjalanan orang dalam rangka percepatan penanganan covid-19. Tujuannya agar pergerakan orang dan barang untuk penanganan covid-19 tidak terhambat. Kekecualian lain diberikan kepada mereka yang sedang mengalami kemalangan atau warga negara Indonesia yang hendak kembali ke Tanah Air.

Namun, sekarang yang ramai diperbincangkan seakan pemerintah melonggarkan sarana transportasi. Muncul kekhawatiran kebijakan ini dimanfaatkan sekelompok orang untuk bisa mudik Lebaran.

Di sinilah kesempatan untuk membangun peradaban. Kita jangan pernah membenarkan orang yang memanfaatkan kesempatan untuk melanggar aturan. Kepada mereka yang melanggar, kita harus berikan hukuman sosial. Mereka jangan diperlakukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai pelanggar aturan

Bangsa-bangsa yang maju peradabannya selalu mendahulukan sikap percaya kepada orang lain. Sampai kemudian orang itu melanggar kepercayaan yang diberikan, maka orang itu akan dikucilkan dari pergaulan sosial.

Di Tokyo, Jepang, orang yang kehilangan kepercayaan dari masyarakat hanya bisa hidup di pinggiran Sungai Tokyo. Tidak ada seorang pun yang mau memberikan pertolongan karena ia sudah menjadi orang yang tidak bisa dipercaya.

Wabah covid-19 harus kita jadikan momentum membangun peradaban baru seperti itu. Hanya dengan itu wabah virus korona ini akan membuat kita menjadi bangsa besar. Kalau tidak mampu membangun peradaban yang lebih baik, kita akan menjadi bangsa merugi karena kita hanya merasakan akibat buruk dari wabah penyakit satu ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)