Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
HAMPIR dua bulan kita dihantui wabah virus korona. Sepanjang dua bulan ini pemberitaan di berbagai platform lebih diwarnai hal-hal yang membuat kecil hati. Semua langkah yang dilakukan nyaris selalu dicela. Padahal dengan segala daya semua upaya terbaik sudah coba dilakukan.
Banyak di antara kita masih berpikir dengan cara pandang yang ideal. Seakan pilihan yang dihadapi ialah antara baik dan buruk. Ketika yang dihadapi jelas antara hitam dan putih, tentu pilihan mudah untuk diambil. Namun, kondisi yang kita hadapi sekarang bukanlah pilihan antara baik dan buruk, melainkan antara yang buruk dan kurang buruk, antara evil dan less evil.
Kita tidak bisa menyalahkan bahwa begitu sulitnya memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya virus korona. Dengan pendidikan rata-rata hanya sekolah menengah pertama ke bawah, memang sulit untuk mengajak berpikir ilmiah. Apalagi kita tidak pernah menanamkan pentingnya disiplin kepada bangsa ini.
Bayang-bayang akan banyak orang terpapar dan harus dirawat di rumah sakit membuat banyak orang mengkritik kemampuan penanganan kesehatan bangsa ini. Kita memang tidak memiliki kemewahan dalam masalah kesehatan. Penyebabnya bukan hanya anggaran yang rendah, tetapi kita juga tidak pernah mempersiapkan tenaga kedokteran yang memadai.
Berulang kali di kolom ini kita mengingatkan pentingnya menata pendidikan di negeri ini. Jangan hanya ilmu hukum dan agama yang diperbanyak. Kita pun harus mendorong lebih banyak anak muda menguasai bidang teknik dan sains.
Bayangkan negara dengan penduduk 260 juta, jumlah dokter spesial paru-paru jumlahnya tak sampai 2.000 orang. Jumlah total dokter yang ada di Indonesia hanya sekitar 200 ribu orang. Sekarang baru kita rasakan betapa terbatasnya jumlah dokter dan perawat yang kita miliki.
Pandemi covid-19 yang dialami dunia ibarat api yang sedang membakar rumah kita. Sekarang yang dibutuhkan bukan hanya berteriak-teriak ada api, melainkan bagaimana memadamkannya. Ironis ketika bangsa ini sedang berjuang keras melawan covid-19 masih banyak yang hanya menjadi komentator. Bahkan, ada lembaga think-tank yang masih membuat survei-survei.
Betul di era demokrasi semua orang berhak untuk bersuara. Kita juga tidak ingin menghalangi kebebasan berekspresi. Akan tetapi, sekarang ini negara membutuhkan bantuan semua warga untuk menyelamatkan bangsa dan negara ini dari ancaman covid-19.
Dengan hampir 3 juta penduduk dunia terpapar covid-19 dan lebih 200 ribu orang meninggal dunia, tidak ada satu pun negara siap menghadapi ancaman virus ini. Bahkan, sekarang ini dunia bukan lagi hanya harus dihadapkan pada krisis kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi dan sosial yang ada di depan mata.
Daripada sekadar menyalahkan, lebih baik kita berbuat untuk menghindari krisis lebih buruk. Paling tidak kita membantu orang-orang di sekitar lingkungan rumah kita agar mereka tidak sampai mengalami kondisi lebih parah.
Kalau lebih banyak orang berusaha melakukan kebaikan, kita bisa terhindar dari kondisi lebih buruk. Kita pantas bersyukur kultur ‘keluarga besar atau extended family’ masih kuat pada bangsa kita. Tanpa melihat latar belakang, mereka mau menolong sesama.
Charities Aid Foundation menempatkan bangsa Indonesia sebagai bangsa paling ringan tangan membantu sesama. Sebanyak 53% orang Indonesia siap menjadi sukarelawan, 78% mau memberikan sumbangan uang, dan 46% mau menolong orang yang tidak dikenal sekalipun.
Bangsa Indonesia sama dengan bangsa Australia dalam hal kemurahan hati. Seorang warga negara Australia, Shane Preuss, dalam tulisannya di majalah The Diplomat menyebutkan sikap gotong royong yang melekat kuat pada bangsa Indonesia yang akan menjadi kunci bangsa ini keluar dari impitan covid-19. Kebersamaan itu sudah diperlihatkan dalam berbagai peristiwa yang harus dialami bangsa Indonesia.
Inilah yang seharusnya menjadi modal sosial bangsa ini untuk menghadapi setiap tantangan. Yang terpenting menjadi kesadaran kita, dalam kondisi seperti sekarang ini tidak pernah ada pilihan ideal. Kita harus sama-sama berupaya menemukan pilihan yang terbaik.
Kita pantas bersyukur bahwa dengan kekurangan yang masih dimiliki, jumlah penambahan orang terpapar covid-19 mulai menurun. Apabila kita mampu untuk selalu mengingatkan dalam menjaga disiplin diri ataupun disiplin kolektif, diharapkan kita bisa melewati wabah virus korona dan kembali menata kehidupan ini. Pilar kekuatan kita bukan ada pada sisi medis, melainkan pada sisi psikologis sebagai sebuah bangsa.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved