Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Lima Dilema karena Korona

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group
25/4/2020 05:30
Lima Dilema karena Korona
Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

PANDEMI covid-19 menciptakan menciptakan pilihan-pilihan yang kadang dilematis. Kita kadang mesti memilih satu di antaranya. Kita kadang memprioritaskan satu pilihan dan menunda lainnya.

Akan tetapi, kita kadang harus tetap memilih pilihan-pilihan itu berbarengan, tak boleh meninggalkan salah satunya. Pandemi korona memaksa kita mendefinisi ulang berbagai hal yang sebelumnya kita anggap mapan, tak tergoyahkan.

Berikut lima dilema karena pandemi covid-19:
•    Presiden Jokowi membedakan pulang kampung dan mudik. Dalam makna leksikalnya, makna berdasarkan kamus, mudik ialah pulang ke udik, ke kampung halaman. Akan tetapi, dalam makna pragmatisnya, mudik ialah pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran. Itulah sebabnya Kamus Besar Bahasa Indonesia mencontohkan penggunaan kata mudik dengan kalimat ‘Seminggu sebelum Lebaran sudah banyak orang mudik’. Pulang ke kampung halaman untuk merayakan Natal, misalnya, jarang disebut mudik. Dalam makna pragmatis yang lain, dalam makna kontekstualnya, pulang kampung, seperti kata Presiden, ialah kembali ke kampung halaman karena ketiadaan pekerjaan di perantauan akibat pandemi covid-19. Presiden perlu meredefinisi mudik atau pulang kampung ini supaya tidak keliru mengambil kebijakan. Pemerintah mengimbau tidak pulang kampung, tetapi melarang mudik. Berdasarkan aturan, mereka yang pulang kampung dari Jabodetabek mulai 24 April dianggap mudik.

•    Dulu ada adagium ‘bangunlah lebih banyak sekolah supaya kita tidak perlu membangun banyak rumah sakit dan penjara’. Asumsinya, orang pintar semestinya pintar juga menjaga kesehatan dan tidak berbuat kriminal. Ternyata banyak orang pintar menderita sakit. Ada data yang menunjukkan yang terjangkit covid-19 kebanyakan kelas menengah. Banyak orang pintar jadi pesakitan, penghuni penjara. Sebagian besar koruptor lulusan universitas. Covid-19 mengubah adagium itu menjadi ‘bangunlah lebih banyak rumah sakit, tidak perlu bangun banyak sekolah dan penjara karena kita bisa belajar secara daring dan para narapidana dibebaskan’.

•    Kelas menengah mengalami dilema tersendiri. Mereka lebih dulu ’dirumahkan’ bahkan diberhentikan karena korona sehingga penghasilannya berkurang atau tidak berpenghasilan sama sekali. Mereka malu ketika hendak mendaftar sebagai penerima bantuan sosial. Pun, belum tentu orang percaya bahwa mereka termasuk yang membutuhkan bantuan sosial. Para kelas menengah ini mencoba menambah penghasilan dengan berjualan secara daring. Mereka kini punya keterampilan berbisnis secara daring. Mereka menjual buku-buku lama, perabotan tak terpakai, termasuk bila pandemi covid-19 berlangsung lama, menjual perhiasan simpanan, televisi, kulkas, sepeda motor, mobil.

•    Seorang teman bercerita sahabatnya hanya beribadah ketika di rumah. Ketika berada di luar rumah dia tidak beribadah. Saya membayangkan banyak orang, terutama laki-laki, mempraktikkan ini. Saya membayangkan karena anjuran bekerja dari rumah, mereka ‘terpaksa’ rajin beribadah di rumah untuk memberi teladan kepada istri atau suami serta anak-anak. Semoga saja setelah covid-19 mereda, mereka terus beribadah, baik di rumah maupun di luar rumah.

•    Banyak yang mendorong pemerintah tegas menindak secara hukum pelanggar PSBB. Tanpa tindakan hukum, pelanggaran PSBB terjadi di mana-mana. Namun, bila pelanggar PSBB didenda, bagaimana mereka membayarnya di tengah kesulitan ekonomi sekarang ini. Bila mereka dihukum kurungan, yang dipenjara saja dibebaskan. Yang diperlukan ialah kesadaran dan ketegasan. Masyarakat semestinya sadar tidak mudik, misalnya. Ketegasan tidak mesti berupa tindakan hukum. Aparat tegas meminta angkutan umum yang membawa pemudik untuk berputar balik, misalnya.



Berita Lainnya
  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita