Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo konsisten dengan sikapnya. Hanya tiga hal yang membuat bangsa ini bisa selamat dari ancaman wabah virus korona yaitu, “Disiplin, disiplin, dan disiplin.”
Disiplin merupakan kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Banyak negara maju gagal untuk mengendalikan penyebaran virus korona karena lemahnya disiplin. Italia, Spanyol, bahkan Amerika Serikat terus bertambah warga yang terpapar covid-19 karena tidak mampu menegakkan disiplin.
Sebaliknya negara demokrasi yang mampu menanamkan sikap disiplin seperti Korea Selatan dan Jerman bisa menyelamatkan banyak jiwa warganya. Demikian pula negara yang sentralistis seperti Tiongkok dan Vietnam sukses untuk mengendalikan penyebaran virus korona, karena disiplin menjadi keharusan.
Di mana kira-kira kita berada? Jujur harus kita katakan, bangsa ini rendah disiplinnya. Bahkan sistem demokrasi membuat semua orang merasa boleh berbuat apa saja. Kebebasan tanpa tanggung jawab membuat kita cenderung menabrak semua aturan.
Ketidaktertiban mudah sekali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Pengendara motor yang melawan arus sama sekali tidak peduli keselamatan orang lain. Kalau ia diperingatkan bukannya berterima kasih, tetapi malah bisa balik memarahi kita.
Kebebasan tanpa batas membuat negara ini tidak mengenal lagi kata ‘rahasia’. Surat berklasifikasi ‘rahasia’ pada satu lembaga bisa beredar dengan bebas di media sosial. Bahkan pers pun menggunakan materi itu untuk dijadikan berita dengan interprestasi yang sesukanya dibuat. Lebih ironis lagi ketika pejabat negara bersikap seperti bukan pengamat, bukan menjadi seorang eksekutif.
Dengan kondisi seperti ini aneh jika banyak pihak mendesak pemerintah untuk melakukan karantina wilayah. Bahkan bahasanya dibuat mentereng seperti di negara lain yaitu lockdown. Seakan itulah satu-satunya jawaban untuk mengendalikan wabah virus korona.
Padahal kebijakan apa pun jika tidak diikuti dengan disiplin, hasilnya akan sama sama. Mau itu lockdown maupun tidak lockdown, kalau warganya tetap terus berdekatan, tetap masih berkerumun, tidak disiplin kepada dirinya, termasuk masih mudah memegang mulut, hidung, dan mata dengan tangan yang belum dicuci pakai sabun, penularan masih akan terjadi.
Ketika warga kita pun masih banyak yang tinggal di tempat yang tidak layak, entah lingkungannya kumuh atau satu rumah diisi beberapa keluarga, potensi penularannya semakin tinggi. Apalagi jika tidak diikuti sikap disiplin untuk tetap tinggal di rumah, akan membuat kebijakan apa pun tidak mungkin bisa berjalan efektif.
Apalagi sekarang Dana Moneter Internasional sudah mengingatkan, pandemi virus korona telah menciptakan resesi global. Kehidupan ke depan akan semakin berat. Apalagi ketika negara tidak memiliki kemampuan memberikan jaminan sosial dalam jangka waktu yang panjang.
Kesalahan dalam mengambil kebijakan akan membuat kita mengulang peristiwa kelam 1998. Krisis kesehatan akan memantik krisis ekonomi dan akhirnya menjadi krisis sosial. Ketika krisis sosial tidak tertangani, yang akan terjadi krisis politik.
Lalu langkah terbaik apa yang harus kita lakukan? Kembali ke disiplin tadi. Bagaimana kita mau menyadari bahwa virus korona ini sangat berbahaya? Penularannya melalui percikan air liur dari orang yang terpapar covid-19. Untuk itu kita harus disiplin untuk tidak berdekatan dan tidak berkerumun.
Satu hal yang juga harus kita pahami, virus korona itu takut dengan sabun. Kalau kita sering mencuci tangan memakai sabun, virus ini akan mati. Kita harus disiplin untuk sering mencuci tangan dan jangan memegang mulut, hidung, dan mata sebelum mencuci tangan dengan sabun.
Kalau kita bisa disiplin melakukan itu, kita bisa seperti bangsa Jerman. Mereka tidak perlu melakukan karantina wilayah untuk mencegah penyebaran virus. Kalau 14 hari penularan bisa diputus, negara itu akan terbebas dari virus korona.
Sekarang yang lebih penting kita pikirkan, bagaimana persoalan ekonomi dan sosial masyarakat bisa ditangani? Daripada terus berdebat soal karantina wilayah, lebih baik kita menggalang solidaritas sosial. Tidak perlu besar-besar, cukup kita peduli kepada mereka yang kekurangan di RT kita masing-masing. Kalau semua mau berbuat dan diikuti dengan disiplin diri, kita akan cepat melewati masa-masa yang membuat kita tertekan ini.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar dikepung. Bukan hanya oleh Iran yang ia perangi, melainkan juga dari berbagai arah, termasuk dari dalam negeri AS.
ADA celetukan sangat viral pada 1980-an dari almarhum Gepeng. Pelawak Srimulat itu berucap, "Untung ada saya."
YAQUT Cholil Qoumas memang telah kembali dijebloskan ke balik jeruji besi rumah tahanan KPK.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved