Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
SATU hal yang membanggakan dari bangsa ini ialah sikap solidaritas sosial yang tinggi. Kultur ‘keluarga besar’ memang menjadi obat ketika kita berada dalam kesulitan. Memang, hanya di Indonesia ketika kita datang ke satu tempat langsung diundang masuk ke rumah dan disuguhi hidangan.
Coba saja kita jalan ke desa. Pasti orang yang menyambut dengan terbuka. Tidak ada perasaan curiga terhadap mereka yang datang. Selalu pendekatannya itu positif. Tidak hanya menyapa, tetapi juga mengundang kita untuk masuk ke rumahnya.
Dunia boleh semakin modern, tetapi rasa kekeluargaan itu masih tetap ada. Kita tidak mungkin cuek kepada saudara atau tetangga yang sedang berada dalam kesulitan. Sekecil apa pun kita akan berupaya untuk bisa turut membantu yang sedang kesusahan.
Kultur itu tidak mungkin ada di negara-negara Barat. Bahkan orangtua yang ingin menengok anak dan cucunya, ia harus membuat janji terlebih dulu. Jangan harap orangtua bisa menginap di rumah anaknya karena tidak ada ruangan untuk itu.
Kultur ‘keluarga besar’ itulah yang kini menolong kita ketika pandemi virus korona sekarang ini terjadi. Kelompok masyarakat bergerak untuk menyingsingkan lengan baju membantu bangsa ini berperang menghadapi wabah virus korona.
Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia Andre Rahadian kini menjadi koordinator Tim Relawan melawan covid-19. Ia mengajak himpunan alumni perguruan tinggi seluruh Indonesia untuk ikut bergabung di dalamnya. Ketua Ikatan Alumni Universitas Diponegoro Maryono merupakan salah satu yang ikut terjun di dalamnya.
Kita memang harus bahu-membahu menghadapi ancaman virus korona ini. Tidak hanya memikirkan bagaimana membantu petugas kesehatan yang menjadi pahlawan kemanusiaan karena berdiri pada garda terdepan, tetapi juga dipikirkan untuk membantu kelompok masyarakat yang secara ekonomi paling terpukul akibat virus yang sangat berbahaya ini.
Memang, tidak mungkin pemerintah sendiri berjuang menghadapi front peperangan melawan virus korona. Kita tidak mempunyai kemewahan seperti Presiden AS Donald Trump yang bisa memberikan dana penanganan virus korona sampai US$2 triliun.
Kita pantas bersyukur rasa kebersamaan itu terus bermunculan. Mereka yang merasa memiliki tenaga, menjadi relawan kemanusiaan. Di Jakarta saja ada sekitar 1.300 relawan bersedia menjadi garda terdepan di bidang penanganan medis.
Di pihak lain, banyak pengusaha mencoba mendatangkan alat pelindung diri, masker, kacamata, dan ventilator yang dibutuhkan petugas medis untuk menangani pasien covid-19. Ada yang memberikan gedung untuk tempat istirahat petugas medis. Ada juga yang menyediakan bahan makanan bagi kebutuhan petugas medis.
Memang, luar biasa dana yang dibutuhkan untuk logistik menghadapi covid-19 ini. Untuk kebutuhan makanan relawan medis saja, paling tidak dibutuhkan dana Rp400 juta setiap hari. Belum lagi biaya untuk penyediaan APD guna menangani satu pasien sampai sembuh, bisa mencapai Rp45 juta.
Di samping kebutuhan pengobatan, masih diperlukan biaya untuk pencegahan. Biaya penyemprotan disinfektan yang dilakukan pemerintah daerah setiap hari tidak kecil. Belum lagi bantuan sosial yang perlu kita siapkan bagi kelompok masyarakat bawah akibat terhentinya kegiatan ekonomi. Semua orang yang sehat tetap harus hidup.
Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan Menteri Keuangan menyiapkan anggaran khusus untuk bantuan sosial bagi masyarakat kelompok bawah. Bahkan mereka yang kemudian terkena pemutusan hubungan kerja akan ditanggung biaya hidupnya sampai mendapatkan pekerjaan baru.
Memang luar biasa anggaran yang dibutuhkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari ancaman virus korona. Satu yang membuat kita tidak boleh berkecil hati, kondisi ini dihadapi oleh seluruh negara di dunia.
Satu kata yang harus kita katakan: bangsa ini harus selamat. Berapa pun biayanya, kita harus menanggung beban itu. Hanya dengan kemauan seluruh bangsa ini untuk memikul beban berat itu, maka kita bersama akan bisa keluar dari kesulitan ini.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved