Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
ADA dua hal yang pantang dihardik di dunia ini. Nomor satu anak yatim. Nomor dua wartawan atau media. Celakalah bila ada yang nekat menghardik keduanya.
Akan tetapi, cerita berubah ketika merebaknya virus korona makin bikin resah. Tinggal anak yatim yang tetap tak boleh dihardik. Wartawan atau media malah menjadi sasaran hardik. Saya di forum ini mungkin juga sedang menghardik media, menghardik diri sendiri sebagai orang media, meski saya anak yatim yang sebetulnya pantang dihardik.
World Health Organization, WHO, menyebut selain penyebaran ke seluruh dunia atau pandemi virus korona, terjadi pula infodemi. Infodemi ialah penyebaran berita atau informasi. Infodemi menyebar lebih cepat daripada pandemi korona.
Berita-berita yang ditayangkan media dikatakan memicu kepanikan dan kepanikan lebih berbahaya daripada pandemi virus korona. Itu artinya pemberitaan media lebih berbahaya jika dibandingkan virus korona.
Tentu saja tidak semua berita dianggap berbahaya. Di Indonesia, berita yang dianggap membahayakan privasi dan memantik kepanikan ialah yang menyebutkan identitas dua orang pertama yang dinyatakan positif terjangkit virus korona.
Bagaimana tak panik bila rumah kedua pasien korona itu diberi garis polisi? Sejak kapan terjangkit penyakit jadi perbuatan kriminal? Bagaimana tak panik bila satu narasumber di satu stasiun televisi mengatakan tukang sayur pun enggan masuk dan berkeliling di kompleks perumahan tempat kedua pasien tinggal? Apa informasi ini tidak bikin warga perumahan menyerbu pasar atau swalayan memborong kebutuhan pokok alias panic buying?
Pun, berita stasiun televisi yang menyebut guru di satu sekolah swasta terjangkit korona dipandang membahayakan kredibilitas sekolah, meski stasiun televisi itu kemudian memberi hak jawab kepada sekolah tersebut. Pun, berita stasiun televisi yang sama yang reporternya melaporkan berita dengan memakai masker seolah dia melaporkan berita dari medan perang, dianggap memantik kepanikan.
Bukan media namanya kalau tidak bisa 'menghardik' balik. Hardikan balik intinya hendak mengatakan bahwa kepanikan muncul bukan karena pemberitaan media, melainkan karena ketidakterusterangan pemerintah ihwal penanganan pandemi korona. Media kok dilawan?
Hardikan kepada media tidak terlepas dari pergeseran dalam dunia pemberitaan atau jurnalisme. Dulu berlaku adagium fact is the king. Berita ialah fakta, kejadian, peristiwa. Fakta, kejadian, atau peristiwa secara metafisis dianggap sebagai 'penyelenggaraan ilahi' yang mesti dilaporkan media apa adanya, meski kadang menyakitkan.
Akan tetapi, di era digital kini, ketika media daring bermunculan, berlaku adagium content is the king. Konten segalanya dan segalanya konten. Oleh karena itu, media berusaha menampilkan konten menarik dengan berbagai cara. Dibikinlah judul yang menarik supaya orang mengklik, meski orang kemudian mengumpat ternyata judul tak sesuai dengan isi. Dicarilah narasumber yang omongannya menarik, meski sebenarnya bombastis, sensasional, juga konyol.
Bukankah bombastis, sensional, juga konyol, ketika satu media daring mengutip pernyataan orang yang menyebut dirinya pengamat politik bahwa korona bikin Presiden Jokowi merana, jatuh dari kursi kekuasaan tahun ini juga? Sejak kapan virus bisa memakzulkan presiden? Celakanya, tak sedikit orang yang doyan membaca dan percaya dengan berita-berita model begini.
Fenomena 'konten segalanya dan segalanya konten' oleh sejarahwan Daniel J Boorstin disebut pseudo-event. Dalam dunia pseudo-event, pertanyaan penting jurnalisme bukanlah 'apakah sesuatu itu nyata', melainkan 'apakah sesuatu menarik diberitakan'.
Jurnalisme pseudo-event punya formula bahwa fantasi lebih riil daripada realitas, sensasi lebih seksi daripada yang asli, imaji lebih bermartabat daripada kenyataan, yang bombastis lebih eksis daripada yang realistis. Walhasil kebenaran tidak mesti kenyataan, peristiwa, atau fakta. Kebenaran lebih sering berupa kengerian, kepanikan, atau lelucon. Serupa lelucon, "Kebenaran ialah yang patut ditertawakan," kata pemikir posmodernisme Baudrillard.
Selamat datang di rezim click bait. Di tengah infodemi, audiens dihadapkan pada kenyataan so many stories, so little time. Media berlomba beritanya diklik supaya tetap eksis. Celakanya, media kepingin eksis, tetapi menampilkan yang bombastis dan tak eksis. Ini yang disebut ingin eksis dengan cara-cara tak etis.
Jurnalisme, bagaimanapun, mesti melayani publik dengan informasi benar yang membuat mereka memahami dunia. Dunia boleh berubah, teknologi boleh berganti, tetapi satu hal yang mesti, yakni jurnalisme tetap menyampaikan kebenaran. Hanya dengan menyampaikan kebenaran, jurnalisme tetap eksis di dunia yang terus berubah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved