Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Minta Maaf

SAUR HUTABARAT/Dewan Redaksi Media Group
07/9/2015 00:00
Minta Maaf
(MI/SUMARYANTO)
IRONI, pimpinan lembaga tinggi negara masih perlu diingatkan perihal etika jabatan. Bahkan lebih parah, kendati telah diingatkan, tak peduli.

Itulah penilaian yang berkembang terhadap Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang malah bangga bertemu dengan kandidat calon presiden AS, Donald Trump. Keduanya membahasakan pertemuan itu untuk persahabatan kedua negara. Alasan lain untuk memperkuat investasi Trump di Indonesia, yang katanya punya proyek di Bali dan Jawa Barat.

Padahal, Kemenlu dikabarkan telah mencegah mereka bertemu Trump. Kemenlu kemudian menyatakan pertemuan itu bukan atas nama negara Republik Indonesia. Kemenlu perlu mengambil sikap itu untuk menunjukkan Indonesia tidak campur tangan urusan politik dalam negeri AS.

Seorang anggota DPR mengecam Setya Novanto dan Fadli Zon merendahkan DPR dengan menjadi tim sukses capres Trump. Keduanya bahkan dinilai memberi tinja ke wajah DPR. Mahkamah Kehormatan Dewan diminta mengadili keduanya.

Alasan pembenar paling 'hebat', berdasarkan hasil survei Trump mendapat suara tertinggi ketimbang Hillary Clinton dan Marco Rubio, dua kandidat capres lainnya. Paling hebat karena sepertinya Setya Novanto-Fadli Zon yakin betul hasil survei tidak berubah. Padahal, apa pun hasil survei dan sekalipun kelak ternyata benar terjadi, kedua pemimpin DPR tak patut berkunjung ke kandidat calon presiden mana pun.

Pertemuan dengan Trump mulanya dilakukan di lantai 26 Trump Plaza. Setelah itu, mereka diajak turun ke lantai dasar serta melihat acara konferensi pers. Alasan paling 'lucu', sebagai orang Timur yang memiliki kesantunan, ajakan dipenuhi. Alasan paling 'kerdil' ialah anggapan munculnya isu dukungan politik Setya Novanto kepada Trump ialah pengalihan isu atas krisis ekonomi di Indonesia.

Di saat rupiah melemah, harga-harga naik, pengangguran bertambah, isu itu diolah untuk alihkan isu substansial. Pernyataan itu disampaikan Nurul Arifin selaku Staf Khusus Ketua DPR Bidang Komunikasi Politik.

Sesungguhnya tiap jabatan publik memiliki etikanya sendiri. Tiap pemangku jabatan publik menyandang kehormatan yang melekat dalam jabatan. Noblesse oblige. Terlebih wakil rakyat yang terhormat, terlebih lagi mereka yang duduk di puncak lembaga tinggi negara, selaku Ketua dan Wakil Ketua DPR.

Akan tetapi, atas semua ketidakpatutan yang telah dilakukan dicarikan alasan pembenar yang justru kian memperkuat betapa tidak eloknya yang telah dilakukan. Atas pamrih apa pun, membela pertemuan dengan Trump samalah mempertahankan yang tidak mungkin dapat dipertahankan. Publik tidak usah direpotkan untuk menerima apa yang tidak mungkin diterima.

Hemat saya, Setya Novanto-Fadli Zon tidak memerlukan pleidoi panjang lebar jenis apa pun di hadapan Mahkamah Kehormatan Dewan. Kiranya, sebaiknya, mahkamah tidak usah dipertaruhkan keberanian dan integritasnya untuk mengadili pimpinan dewan. Yang diperlukan setitik kejujuran, dada sedikit lebar, Setya Novanto-Fadli Zon merendah mengaku salah, minta maaf. Perkara selesai.

Membawa kedua pemimpin DPR ke Mahkamah Kehormatan Dewan menambah gaduh saja. Bahkan dapat membuka polemik untuk menjadi pimpinan dewan ternyata perlu fit and proper test, terutama berkaitan dengan martabat jabatan. Hal serupa bisa merembet ke pimpinan komisi. Daripada merusak tatanan, baiklah minta maaf.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.