Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Kursi Wamen Rasa Permen

Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
04/11/2019 05:10
Kursi Wamen Rasa Permen
Saur M Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

KENAPA kita kalah bersaing? Karena dunia pendidikan kita dapat membunuh kreativitas.

Maka, inovator seperti bos Gojek yang lulusan Harvard Business School diperlukan menjadi menteri pendidikan. Demikian jawaban saya yang mengandung dramatisasi atas pertanyaan kenapa bukan yang bergelar profesor doktor yang menjadi mendikbud.

Mengangkat menteri hak prerogatif presiden. Untuk itu, kiranya perlu dilihat, di manakah 'letak' sang presiden, dalam kategori otak kiri dan otak kanan.

Presiden Jokowi lebih ke otak kanan, sedangkan Presiden SBY lebih ke otak kiri. (SH? Saya suka otak-otak).

Otak kanan ialah otak yang mengedepankan kreativitas, inovasi. Otak kiri ialah otak 'matematik'. Tidak banyak orang yang keduanya sama-sama menonjol.

Karena Jokowi lebih ke otak kanan, tidak usah heran para menteri diperkenalkan seraya duduk di tangga di depan istana. Mereka berkemeja batik.

Lihatlah para wakil menteri. Mereka juga datang ke istana berkemeja putih. Ketika diperkenalkan, tetap berhem putih, tapi berdasi merah. Mereka pun duduk di tangga depan istana.

Kita tidak tahu persis apa yang terjadi di otak kanan Jokowi sehingga membedakan pakaian menteri dan wakil. Corak batik ada yang mengandung makna, bahkan filosofis. Itu dipakai menteri. Warna putih berdasi merah, yang dipakai wakil menteri, rasanya tidak ada filosofinya, kecuali dikarang-karang.

Sebagai perbandingan, lihatlah trainee di restoran atau di hotel yang berkemeja putih berdasi hitam. Bedanya dengan wakil menteri, warna dasinya dan tentu harganya.

Di mata saya, para wakil menteri itu dicandrakan lebih sebagai public managers. Mungkin melalui perbedaan pakaian ketika diperkenalkan itu, Presiden Jokowi memang bermaksud membuat semacam kontras agar para wamen tahu batas kewenangan. Jangan sampai terjadi wamen 'rasa' menteri, sebaliknya menteri 'rasa' wamen.

Terus terang, tanpa sarkasme, saya gagal paham kenapa Presiden Jokowi mengangkat begitu banyak wakil menteri. Sarkasme itu ialah wamen seperti bagi-bagi permen.

Jangan menggeneralisasi. Beberapa wamen ialah profesional yang berkarier di bidangnya. Mereka tahu betul apa yang bakal dikerjakannya di kementerian. Selebihnya kiranya 'permen' buat mereka yang telah berkeringat supaya tidak ngambek. Ada yang partainya tidak punya kursi di DPR kebagian kursi wamen. Ada yang menyebut dirinya organisasi relawan tidak jadi membubarkan diri karena pentolannya diangkat menjadi wamen.

Harga permen memang murah. Dalam perkara mengangkat wamen sampai 12 orang, maaf, terasa betapa 'murahan' hak prerogatif presiden.

Pernyataan itu tentu terasa keras. Lebih baik kritik keras dilayangkan di ruang publik sedini mungkin di awal kabinet baru daripada nanti Presiden kembali 'murahan' berkali-kali merombak kabinet dengan alasan sang wamen tidak cakap bekerja.

Kepada para wamen yang merasa mendapat 'permen', buktikan bahwa otak kanan Presiden Jokowi tidak salah pilih.



Berita Lainnya
  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.