Headline

SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

Palapa Ring

Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group
22/10/2019 05:30
Palapa Ring
Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group(MI)

ADA tiga sejarah besar yang mempersatukan Indonesia. Pertama pasti proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta yang membuat kita menjadi satu Indonesia. 

Kedua, 1 Juli 1976, ketika Presiden Soeharto meluncurkan Satelit Palapa yang menyatukan 'langit' Indonesia sehingga komunikasi antarwilayah menjadi lebih mudah dan cepat. Ketiga, 14 November 2019, ketika Presiden Joko Widodo meresmikan jaringan serat optik Nusantara, Palapa Ring.

Kita menyebut tiga peristiwa itu sebagai sejarah besar karena itulah yang menjadi modal bagi kita untuk menjadi bangsa yang maju. Ketiga peristiwa itu menjawab tantangan zaman untuk membawa bangsa ini menatap masa depan yang lebih baik.

Sekarang kita sedang hidup di era teknologi informasi. Kita harus menyiapkan infrastruktur yang memadai agar seluruh warga bangsa bisa memanfaatkan kesempatan yang ada sehingga bisa menggapai kehidupan yang lebih baik.

Baik Satelit Palapa maupun Palapa Ring tidak bisa tidak harus kita bangun karena itulah yang bisa semakin mendekatkan lebih dari 17.000 pulau yang kita miliki. Palapa Ring membangun jaringan serat optik yang menjangkau 34 provinsi dan seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Total panjang kabel laut yang dipasang mencapai 35.280 kilometer, sementara kabel di daratan sepanjang 21.807 kilometer.

Proyek yang mulai dirancang sejak 2007 itu merupakan kerja sama yang dilakukan pemerintah dan swasta. Semua operator telepon ikut terlibat dalam pembangunan Palapa Ring karena akan mempermudah tugas mereka untuk menjangkau seluruh konsumen mereka di seluruh Indonesia.

Dengan telah terbentangnya serat optik di seluruh wilayah Indonesia, sekarang semua operator tinggal menarik kabel ke tiang pemancar yang mereka butuhkan untuk menjangkau konsumen mereka. Dengan serat optik, kualitas pengiriman data ataupun suara bisa jauh lebih baik.

Bahkan, pelayanan itu tidak lagi terbatas di wilayah Indonesia. Palapa Ring bisa menjadi hub bagi terbangunnya sistem komunikasi ke wilayah Pasifik dan juga Samudra Hindia. Indonesia akan menjadi tulang punggung jalur komunikasi yang bisa menyatukan dunia.

Inilah modal besar yang bisa dipakai untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Sekarang tantangannya ada di pundak orang Indonesia sendiri. Bagaimana kita semua mempersiapkan diri sebaik mungkin agar mampu mengambil manfaat positif bagi perbaikan kehidupan kita sebagai bangsa.

Presiden Jokowi dengan bahasa yang lebih mudah mengingatkan kita agar teknologi yang tersedia ini jangan hanya dipakai untuk berkata-kata. Apalagi kemudian hanya dipergunakan untuk kepentingan penyebaran hoaks atau berita palsu. Kita harus tumbuh menjadi bangsa yang bekerja, bangsa yang menghasilkan karya besar.

Kita harus bisa memanfaatkan infrastruktur yang tersedia ini untuk keperluan yang produktif. Kita bisa pergunakan untuk membuka wawasan dan menambah ilmu. Bahkan, bagi para pengusaha, infrastruktur ini bisa dipakai untuk menambah jejaring dan memasarkan produk-produk mereka.

Potensi ekonomi digital yang ada di depan kita luar biasa besar. Sekarang ini saja nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan sudah mencapai US$40 miliar. Sepuluh tahun ke depan nilainya, menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, akan meningkat menjadi minimal US$133 miliar.

Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi harus yang pertama-tama memanfaatkan tersedianya Palapa Ring ini. Dengan teknologi yang tersedia sekarang tidak boleh ada lagi kendala dalam proses belajar dan mengajar. Murid di pelosok mana pun bisa belajar dari guru terbaik yang ada di seluruh Indonesia.

Investasi pendidikan harus ditujukan kepada penyediaan perangkat keras guna menunjang proses belajar dan mengajar. Pendidikan jarak jauh akan lebih efektif karena kualitas gambar dan suara lebih baik serta bisa dilakukan interaksi antara murid dan pengajar.

Dengan pembekalan sejak pendidikan dasar yang lebih baik, bukan hanya akan menghasilkan kualitas anak didik yang lebih baik, melainkan juga generasi masa mendatang yang lebih cemerlang. Apalagi jika kita bisa menanamkan pendidikan budi pekerti yang lebih baik, kita bukan hanya akan menghasilkan anak-anak Indonesia yang cerdas, melainkan juga yang mempunyai karakter dan sikap baik.

Sekarang ini kita prihatin dengan masa depan bangsa karena teknologi yang ada lebih dimanfaatkan untuk tujuan yang destruktif. Bangsa ini menjadi bangsa yang inward looking dan saling menjelekkan satu dengan yang lain. Padahal teknologi seharusnya kita pakai untuk membuka wawasan, berpikiran maju, dan menjadi modal bagi bangsa ini menjadi bagian masyarakat dunia yang modern.
 



Berita Lainnya
  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)