Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
TUNTUTLAH ilmu sampai ke Tiongkok kiranya perlu diganti dengan belajarlah kepada Vietnam. Itulah negara yang bikin kita kalah bersaing dalam menarik investasi asing.
Sepatutnya kita penasaran bagaimana negara yang mengalami perang panjang (19 tahun, 5 bulan, 4 minggu, dan 1 hari) kemudian dalam masa damai dapat bangkit relatif cepat.
Setelah menang perang melawan AS (1975), Vietnam yang terbelah dua, Utara dan Selatan, harus lebih dulu menguras energi mereka untuk menyatukan negara (1976). Akan tetapi, AS tidak bahagia dengan keberhasilan unifikasi itu. Selama 10 tahun (1976-1986) Vietnam diisolasikan secara ekonomi dan politik dari pergaulan bangsa-bangsa.
Akumulasi derita masa perang dan derita masa isolasi itu total hampir 30 tahun. Dalam 30 tahun kemudian (2016) bukan saja Vietnam punya hubungan diplomatik dengan 178 negara, di antaranya menjadi anggota ASEAN, tapi yang paling mengagumkan investasi asing di negara itu tumbuh pesat mencapai US$15,8 miliar, naik 9% dari tahun sebelumnya.
Pada 2018, investasi ke negara itu bahkan melompat jauh mencapai US$35,46 miliar atau naik 98,8% dari 2017. Total investasi itu berasal dari 112 negara. Jepang terbesar disusul Korea dan Singapura.
Akibat perang dagang dengan AS, investor meninggalkan Tiongkok. Belum lama ini dari 33 perusahaan yang meninggalkan Tiongkok, 23 memilih pindah ke Vietnam, 10 sisanya pindah ke beberapa negara mulai dari Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Presiden Jokowi kesal tidak satu pun ke Indonesia.
Hemat saya kita perlu belajar dengan rendah hati dan saksama kenapa Vietnam begitu berjaya dalam investasi. Yang umum sudah diketahui kecepatan pelayanan. Hanya dalam tempo sebulan, bahkan 25 hari, perusahaan asing baru langsung bisa beroperasi. Di Indonesia, makan waktu bertahun-tahun.
Di Vietnam praktis tidak ada standar modal minimum untuk kebanyakan industri. Perusahaan dengan kepemilikan 100% asing bisa investasi di lebih 100 cabang binis. Investor tidak perlu repot harus punya mitra lokal dalam kepemilikan perusahaan sebelum berinvestasi. Semua kemudahan Vietnam itu kiranya lebih dari cukup untuk bikin Indonesia keok.
Di balik semua itu, Vietnam punya nilai-nilai yang hidup di tubuh dan jiwa bangsa itu yang diekspresikan dalam spirit kala membangun Terowongan Cu Chi dan tentu spirit ketika mereka hidup bertahun-tahun di dalam terowongan itu yang membuat Vietnam menang perang. Hemat saya spirit itu terus dipelihara hingga sekarang dalam membangun Vietnam, antara lain melalui investasi.
Salah satu prinsip dalam spirit Terowongan Cu Chi ialah ‘The attention to detail is dogmatic’. Perhatian akan detail ialah perkara dogmatis. Sekadar contoh, jarak pintu masuk terowongan yang satu dengan terowongan yang lain sangat pendek, terkadang hanya 5-7 meter. Untuk terowongan yang berfungsi sebagai bungker terbuka, atap pintu masuk khusus dibuat menggunakan bambu berukuran 50 cm yang dilapisi sekam hijau menyerupai rerumputan sehingga serdadu AS teperdaya.
Demikianlah dalam perang, Terowongan Cu Chi membuat AS kalah berdarah-darah. Dalam damai sekarang ini, Terowongan Cu Chi bukan hanya menjadi salah satu objek turisme historis dan heroik penghasil devisa bagi Vietnam, melainkan juga kiranya sumber inspirasi untuk kita.
Kita harus belajar berpikir besar untuk menang. Akan tetapi, itu tidak cukup. Kita perlu pula belajar mencintai detail yang terukur seperti Vietnam sehingga dalam 25 hari perusahaan asing langsung bisa beroperasi.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved