Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

KPI

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
06/9/2019 05:10
KPI
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI)

LAGI-LAGI Presiden Joko Widodo mengeluhkan soal rendahnya investasi. Relokasi industri dari Tiongkok akibat perang dagang dengan AS ternyata tidak sampai ke Indonesia. Negara-negara sekitar seperti Thailand dan Vietnam justru yang mendapatkan durian runtuh.

Presiden mengkritik pejabat yang lebih suka dilayani daripada melayani. Sikap sebagai ambtenaar membuat pejabat lebih suka menunggu daripada bersikap proaktif. Padahal, dalam era persaingan bebas seperti sekarang yang menang ialah yang lebih proaktif dan cepat mengambil keputusan.

Salah satu visi Presiden dalam lima tahun ke depan adalah perbaikan pelayanan investasi. Presiden membuka seluas-luasnya investasi agar bisa memberikan lebih banyak lapangan pekerjaan. Ia tidak segan merombak birokrasi demi masuknya investasi.

Memang, kita tidak bisa ongkang-ongkang kaki untuk menjadi negara maju. Kalau pertumbuhan kita terus moderat di angka 5%, kita tidak pernah bisa keluar dari negara dengan pendapatan menengah. Kita perlu memacu pertumbuhan minimal 7% apabila ingin membawa Indonesia masuk negara pendapatan tinggi. Bahkan, kalau kita ingin produk domestik bruto di atas Jerman atau Korea Selatan, kita harus mampu tumbuh dengan angka rata-rata 10% sampai 2030.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu terasa mustahil apabila cara kerjanya masih seperti sekarang. Apalagi dengan sikap kita yang cenderung xenophobia. Kita selalu memprotes ketika ada investor asing sukses di Indonesia, sedangkan kita sendiri tidak melakukan apa-apa.

Yang lebih parah lagi, kita cenderung tidak suka kepada siapa pun yang berhasil. Kita selalu mencoba mencari-cari masalah ketika ada pengusaha yang sukses, bukan mendorong terus pengusaha yang berhasil itu agar semakin sukses.

Kita tidak punya pilihan lain untuk mendorong industri manufaktur apabila kita ingin menjadi negara maju. Pembangunan infrastruktur yang sudah susah payah kita lakukan dalam empat tahun terakhir ini akan terasa manfaatnya apabila kita mampu membangun industri manufaktur yang kuat.

Tidak mungkin kita terus bertumpu kepada produk yang tidak bisa diperdagangkan (non-tradable goods) seperti sekarang. Pertumbuhan ekonomi yang berbasis non- tradable goods bukan hanya menghasilkan pertumbuhan yang moderat, melainkan juga tidak berkelanjutan.

Apa yang harus dilakukan? Dalam jangka pendek, kita ubah ukuran keberhasilan (key performance indicator atau KPI) dari kepala daerah dan menteri-menteri. KPI mereka sekarang harus diukur dari pertumbuhan jumlah investasi dan jumlah perusahaan yang bisa dihasilkan. Bahkan, kita tambahkan lagi ukuran pertumbuhan perusahaan yang sudah ada di daerah itu.

Demokrasi yang kita pilih membuat kekuasaan itu seharusnya tidak lagi bertumpu kepada Presiden. Kepala daerah mempunyai tanggung jawab untuk semakin memakmurkan daerahnya. Desentralisasi yang diterapkan bersamaan dengan sistem demokrasi membuat tanggung jawab pembangunan ada di tangan kepala daerah.

Sekarang ini hambatan investasi paling banyak berada di daerah. Paradigma para pejabat masih belum berubah. Desentralisasi bukan pada pendelegasian penyelesaian persoalan di daerah, melainkan lebih banyak melahirkan 'raja-raja' kecil di daerah.

Kita melihat kepala daerah yang sudah berubah paradigmanya pasti daerahnya maju. Surabaya, Banyuwangi, Semarang, dan Kulon Progo merupakan contoh daerah yang berkembang maju karena kepala daerahnya memiliki wawasan terbuka.

Kendala bagi kepala daerah yang maju justru datang dari pejabat di pusat. Para kepala dinas terlalu sering dipanggil untuk mengikuti rapat koordinasi di Jakarta. Akibatnya, tugas utama pelayanan di daerah sering terbengkalai. Seorang bupati pernah mengusulkan agar rapat koordinasi sebaiknya disatukan saja di Kantor Menko sehingga kepala dinas tidak harus sering bolak-balik rapat di Jakarta.

Kita memang harus berubah sikap dan cara kerja apabila ingin mempercepat kemajuan bangsa dan negara ini, termasuk mengubah kultur dari bangsa ini untuk tidak takut bersaing. Kita harus belajar dari Pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping yang mengatakan, "Tidak peduli kucing itu warnanya hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus."

Tanpa ada ukuran yang jelas tentang apa yang kita harapkan ke depan, setiap kali kita hanya memunculkan rasa penyesalan. Padahal, pepatah mengatakan, "Sesal kemudian tiada berguna." Apalagi, kita pun selalu dihadapkan kepada kehidupan yang tidak selalu berjalan linier. Sekarang dunia sedang dihadapkan lagi pada ancaman resesi. Tantangan itu tidak bisa dijawab dengan mengeluh.



Berita Lainnya
  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.