Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Pluralisme ialah Anugerah

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
22/8/2019 05:10
Pluralisme ialah Anugerah
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

SABAN kali terjadi kerusuhan berkaitan dengan suku, agama, dan ras, kiranya patut timbul pertanyaan siapakah saya sesungguhnya? Jika jawabnya an sich saya suku ini, kamu suku itu, kerusuhan suku, agama, dan ras semata tinggal tunggu waktu tersulut dan meletus.

Dalam jawaban ini suku 'saya', itu suku 'kamu', di manakah 'kita' Indonesia? Menjadi Indonesia tidak berarti lenyapnya suku ini atau suku itu. Suku tidak boleh lenyap, apalagi punah. Menjadi Indonesia bukan pengurangan suku, bukan pula penjumlahan suku. Semua suku harus dapat hidup damai berdampingan sebagai satu bangsa, satu nation. Bhinneka tunggal ika. Untuk itu, apa yang harus dilakukan?

Kiranya yang pokok dalam pergaulan sebagai anak bangsa jangan mudah 'tersinggung' atau 'menyinggung'. Jangan pula mudah membalas 'singgungan'.

Setiap orang berusaha 'menjadi seseorang', menjadi 'aku'. Usaha itu berlangsung di tengah identitas kelompok, identitas sosial, identitas komunitarian berupa identitas suku, agama, dan ras, yang berada di dunia yang lebih luas bangsa dan negara. Aku yang suku ini atau suku itu bergumul menjadi identitas baru aku warga negara Indonesia.

Dalam pergumulan itu ada genius kreatif bahkan menjadi warga dunia. Contohnya Soedjatmoko, seorang Jawa (Solo) yang lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat, warga Indonesia yang menjadi warga dunia berkedudukan sebagai Rektor Universitas Persatuan Bangsa-Bangsa di Tokyo, Jepang.

Kita sebagai bangsa tidak produktif menghasilkan warga dunia sekelas Soedjatmoko (1922-1989) yang turut menciptakan perdamaian dunia. Kita kini (2019) lebih sensitif menghasilkan warga dalam tempurung primordial suku, agama, dan ras seperti yang terjadi di Manokwari, merusak tanah asal sendiri, karena identitas komunitariannya tersinggung.

Kalau suku yang satu direndahkan, hemat saya suku yang merendahkan pun rendah. Menghina yang lain menghina diri sendiri. Yang mestinya dilakukan ialah selain suku sendiri, ada suku lain yang harus dihormati. Selain agama sendiri, ada agama lain yang harus dihormati.

Dalam perkara pluralisme kiranya perlu bicara takdir. Contohnya, takdir saya bukan semata dan terbatas sebagai Batak dan Kristen, melainkan juga takdir saya menjadi Indonesia dan pemeluk Tuhan Yang Maha Esa (Pancasila).

Mengatakan takdir ialah mengatakan suratan Sang Maha Pencipta. Pluralisme sebuah anugerah. Perilaku yang kiranya tidak termaafkan ribut, bertengkar, berkelahi gara-gara mendapat anugerah.

Kata David Brooks, kolumnis harian The New York Times, tiap orang ialah simfoni identitas. Hidup kita menjadi kaya karena tiap kita berisi multitudes. Karena itu, pluralisme percaya pada integrasi, bukan separasi, pemisahan.

Seorang pluralis selalu memperluas makna 'kita'. 'Kekitaan' itu hanya dapat diperluas dengan pikiran dan hati terbuka, memberi ruang dan hormat bagi ikatan-ikatan yang berbeda-beda dalam hidup kita sebagai warga negara yang dipercaya mendapat anugerah. Sampai kapan?

Jawabnya sepanjang zaman (ada generasi yang mati, ada yang lahir) terus berikhtiar dan bersyukur berkepanjangan untuk menjadi Indonesia sejati. Bukan Indonesia tempelan, apalagi palsu. Paspornya Indonesia, tapi hati dan pikirannya dalam tempurung SARA. Saya pikir inilah pekerjaan rumah sangat penting bagi kita semua, anak bangsa NKRI.



Berita Lainnya
  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik