Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
SABAN kali terjadi kerusuhan berkaitan dengan suku, agama, dan ras, kiranya patut timbul pertanyaan siapakah saya sesungguhnya? Jika jawabnya an sich saya suku ini, kamu suku itu, kerusuhan suku, agama, dan ras semata tinggal tunggu waktu tersulut dan meletus.
Dalam jawaban ini suku 'saya', itu suku 'kamu', di manakah 'kita' Indonesia? Menjadi Indonesia tidak berarti lenyapnya suku ini atau suku itu. Suku tidak boleh lenyap, apalagi punah. Menjadi Indonesia bukan pengurangan suku, bukan pula penjumlahan suku. Semua suku harus dapat hidup damai berdampingan sebagai satu bangsa, satu nation. Bhinneka tunggal ika. Untuk itu, apa yang harus dilakukan?
Kiranya yang pokok dalam pergaulan sebagai anak bangsa jangan mudah 'tersinggung' atau 'menyinggung'. Jangan pula mudah membalas 'singgungan'.
Setiap orang berusaha 'menjadi seseorang', menjadi 'aku'. Usaha itu berlangsung di tengah identitas kelompok, identitas sosial, identitas komunitarian berupa identitas suku, agama, dan ras, yang berada di dunia yang lebih luas bangsa dan negara. Aku yang suku ini atau suku itu bergumul menjadi identitas baru aku warga negara Indonesia.
Dalam pergumulan itu ada genius kreatif bahkan menjadi warga dunia. Contohnya Soedjatmoko, seorang Jawa (Solo) yang lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat, warga Indonesia yang menjadi warga dunia berkedudukan sebagai Rektor Universitas Persatuan Bangsa-Bangsa di Tokyo, Jepang.
Kita sebagai bangsa tidak produktif menghasilkan warga dunia sekelas Soedjatmoko (1922-1989) yang turut menciptakan perdamaian dunia. Kita kini (2019) lebih sensitif menghasilkan warga dalam tempurung primordial suku, agama, dan ras seperti yang terjadi di Manokwari, merusak tanah asal sendiri, karena identitas komunitariannya tersinggung.
Kalau suku yang satu direndahkan, hemat saya suku yang merendahkan pun rendah. Menghina yang lain menghina diri sendiri. Yang mestinya dilakukan ialah selain suku sendiri, ada suku lain yang harus dihormati. Selain agama sendiri, ada agama lain yang harus dihormati.
Dalam perkara pluralisme kiranya perlu bicara takdir. Contohnya, takdir saya bukan semata dan terbatas sebagai Batak dan Kristen, melainkan juga takdir saya menjadi Indonesia dan pemeluk Tuhan Yang Maha Esa (Pancasila).
Mengatakan takdir ialah mengatakan suratan Sang Maha Pencipta. Pluralisme sebuah anugerah. Perilaku yang kiranya tidak termaafkan ribut, bertengkar, berkelahi gara-gara mendapat anugerah.
Kata David Brooks, kolumnis harian The New York Times, tiap orang ialah simfoni identitas. Hidup kita menjadi kaya karena tiap kita berisi multitudes. Karena itu, pluralisme percaya pada integrasi, bukan separasi, pemisahan.
Seorang pluralis selalu memperluas makna 'kita'. 'Kekitaan' itu hanya dapat diperluas dengan pikiran dan hati terbuka, memberi ruang dan hormat bagi ikatan-ikatan yang berbeda-beda dalam hidup kita sebagai warga negara yang dipercaya mendapat anugerah. Sampai kapan?
Jawabnya sepanjang zaman (ada generasi yang mati, ada yang lahir) terus berikhtiar dan bersyukur berkepanjangan untuk menjadi Indonesia sejati. Bukan Indonesia tempelan, apalagi palsu. Paspornya Indonesia, tapi hati dan pikirannya dalam tempurung SARA. Saya pikir inilah pekerjaan rumah sangat penting bagi kita semua, anak bangsa NKRI.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved