Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Trust yang Hilang

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
14/8/2019 05:30
Trust yang Hilang
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI)

INI cerita nyata dunia mafia untuk belajar tak percaya pada sesama. Berceritalah pengalaman mantan bos mafia di Italia Utara ketika masih kanak-kanak. Sang ayah, juga bos mafia, menyuruhnya memanjat tembok tinggi. Setelah dalam ketinggian, sang ayah meminta si anak melompat turun.

Melompatlah sang anak karena janji sang ayah mau menangkap tubuhnya dari bawah. Namun, seketika sang anak terjun bebas, si ayah dengan cepat justru menjauh. Tentu saja tubuh si anak keras membentur tanah. Sebagian tulangnya patah, hidungnya berdarah. Napasnya nyaris berhenti.

Setelah siuman, si anak memprotes. "Bapak sengaja mau mencelakakan saya, ya?" Dengan wajah tanpa dosa si ayah menjawab, "Kamu harus belajar tidak percaya, sekalipun pada ayahmu sendiri." Francis Fukuyama mengutipnya dalam Trust (1995) dari sosiolog Diego Gambeta dalam buku The Sicilian Mafia: The Bussiness of Private Protection (1993).

Italia Utara, wilayah yang waktu silam amat miskin modal sosial dan rendah rasa percaya sesama mereka. Kredo kaum mafioso, "Ambillah keuntungan sebanyak-banyaknya dari orang lain yang ada di luar keluargamu pada setiap kesempatan. Jika tidak, mereka akan mengambil keuntungan terlebih dahulu darimu."

Fukuyama memang tengah membicarakan modal sosial. Norma masyarakat mafia jelas tak bisa dipakai jadi modal sosial. Tak ada trust (kepercayaan) di sana. Tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi (hight trust society) seperti Jerman dan Jepang, misalnya, bisa membangun ekonomi lebih unggul; yang tingkat kepercayaannya rendah (low trust society) bikin ekonominya jeblok.

Dalam lanskap politik kita hari ini, ada realitas yang kian terbaca tak bertumbuhnya kepercayaan sesama partai politik. Juga rasa tak percaya partai politik koalisi sang petahana terhadap presiden terpilih. Partai-partai tak rikuh, tak pekewuh, meminta secara terbuka jatah menteri. Ini kah wajah demokrasi yang secara prosedur bertumbuh, tapi secara etika merapuh?

Bahkan, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri meminta kursi menteri paling banyak dan emoh (menolak) jika sedikit. Permintaan yang bisa diterjemahkan 'semiintimidasi' terhadap hak prerogatif presiden. Dalam politik multipartai, presiden niscaya akan memberi jatah menteri kepada partai pendukung, tapi agaknya tak sevulgar di era ini. Tak hanya meminta, bahkan mematok jumlah.

Secara umum pula, suburnya korupsi di kalangan politisi, meski indeks persepsi korupsi kita merangkak naik (kini di angka 38), tapi KPK seperti tak kekurangan menangkap para pencuri uang negara. Korupsi jelas merapuhkan modal sosial. Ini bikin rakyat tak percaya pejabat (negara).

Bayangkan, 15 tahun terakhir 124 kepala daerah telah terkena kasus korupsi. Belum lagi dari politisi noneksekutif. Pada 2018 saja 29 kepala daerah melakukan korupsi, 20 orang di antaranya terkena operasi tangkap tangan (OTT). Gencarnya KPK mencokok pejabat korup tak menggentarkan mereka.

Korupsi tak hanya ekspresi ketidakpercayaan para pelakunya terhadap cara-cara mendapat kekayaan secara benar, tapi juga akan membuat ketidakpercayaan publik terhadap para pejabat publik, politisi utamanya. Di usia Republik Indonesia yang ke-74, kita belum terlalu gembira karena korupsi masih merajalela.

Tulisan Daniel Etounga-Manguele, mantan Dewan Penasihat Afrika untuk Bank Dunia, dalam buku Kebangkitan Peran Budaya (Lawrence E Harrison, Samuel P Huntington, 2006) agaknya bisa jadi pengingat kita di Indonesia. "Pilihlah orang Afrika siapa saja, beri dia sedikit kekuasaan, dan dia mungkin sekali akan menjadi sombong, arogan, tidak toleran, dan bangga akan hak istimewanya."

Kenapa? Karena di Afrika orang harus dilahirkan dominan. "Jika tidak, ia tak punya hak untuk berkuasa kecuali dengan kudeta." (Nelson Mandela agaknya sebuah kekecualian).

Itu juga yang tengah terjadi di kita. Sebab, kekuasaan di tangan para politisi belum jadi tugas suci. Suburnya dinasti politik juga korupsi  terkandung kehendak terus mempertahankan status dominan itu.  Agar terus punya hak berkuasa. Masyarakat gotong royong pun dipunahkan. Padahal, inilah modal sosial kita, kekuatan inti kita.

Bagaimana sebuah bangsa dengan kekuatan inti yang hilang?
 



Berita Lainnya
  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.

  • Rupiah Vs IHSG

    23/1/2026 05:00

    ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.

  • OTT Tepat Waktu

    22/1/2026 05:00

    BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.