Selasa 06 Agustus 2019, 05:30 WIB

Jangan Setengah-Setengah

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Editorial
Jangan Setengah-Setengah

MI
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group.

Perjalanan sebuah bangsa mencapai kemajuan merupakan perjuangan yang berat. Ibarat pohon, semakin tinggi akan semakin keras angin yang menerpa. Dibutuhkan kesungguhan dan kemauan yang keras untuk mencapai puncak tertinggi.
         
Demikian pula keinginan kita untuk menjadi kekuatan besar ekonomi dunia. Tidak bisa taken for granted bahwa kita akan dengan sendirinya menjadi kekuatan ekonomi keempat terbesar di dunia. Semua komponen bangsa harus memacu dirinya dengan keras.
          
Kita harus berani mengakui bahwa kita belum memiliki elan yang kuat untuk mencapai itu. Pada kita masih kuat sikap untuk bersantai-santai. Sikap ewuh pekewuh yang kuat membuat kita mudah untuk memaafkan kesalahan.
         
Sebaliknya begitu kuat sikap untuk mengeluh. Ketika angka pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 5%, kita mudah untuk menunjuk kambing hitam. Tidak pernah berani untuk melakukan introspeksi, apa yang sudah kita kontribusikan untuk kemajuan bangsa dan negara ini.
         
Kita harus mengubah sikap untuk mau selalu memacu diri ini. Salah satu contoh perubahan sikap yang harus kita lakukan ialah langkah lanjut yang akan dilakukan menyusul pemadaman listrik yang terjadi mulai Minggu (4/8) siang hingga Senin (5/8) pagi.
         
Bagaimana mereka yang bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia kelistrikan tidak mampu cepat memulihkan kehilangan daya yang terjadi? Bagaimana mulai dari pembangkit, saluran transmisi tegangan tinggi, hingga gardu induk bisa mati secara bersamaan?
         
Editorial surat kabar ini kemarin mengingatkan, listrik adalah bagian dari peradaban. Semua bangsa di dunia menjaga sebaik mungkin pasokan listrik mereka karena itu bagian dari kehidupan. Memang seperti di New York pernah terjadi black out, tetapi hitungan pemulihannya tidak berjam-jam.
          
Hal yang sama terjadi ketika bencana tsunami melanda Jepang pada 2011. Negara itu harus mematikan pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Namun, mereka bisa mengambil langkah cepat untuk mengurangi pasokan listrik kepada masyarakat tanpa harus berlama-lama membiarkan rakyat hidup dalam kegelapan.
           
Kejadian Minggu lalu kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pihak Perusahaan Listrik Negara bolak-balik mengirim pesan untuk meminta maaf, tetapi tidak memberi penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, apa yang harus dilakukan masyarakat, dan berapa lama kita harus mengalami kegelapan.
           
Setelah hampir 6 jam, baru aliran listrik untuk wilayah Jakarta mulai bisa pulih. Namun, untuk daerah pinggiran baru sekitar pukul 21.00 bisa mendapatkan kembali aliran listrik. Bahkan, pada tengah malam daerah pinggiran Jakarta kembali mengalami pemadaman dan baru pagi hari kembali berfungsi.
           
Tidaklah mungkin kita akan menjadi bangsa yang besar kalau untuk urusan seperti ini kita tidak mampu menangani dengan baik. Kembali kita mengingatkan mengenai pimpinan Mitsui, Jepang, terkait arti kerja keras itu. Menurut dia, kerja keras adalah ketika kita bekerja dengan sungguh-sungguh. Bahkan, kalau perlu, sampai tiga hari tidak tidur dan urine kita warnanya menjadi cokelat.
           
Kita paham mengapa Mitsui kemudian bisa menjadi perusahaan raksasa dunia dan bangsa Jepang menjadi bangsa yang maju. Mereka tidak pernah bekerja setengah-setengah dan selalu memacu diri untuk mencapai prestasi paling puncak.
          
Presiden Joko Widodo memanggil seluruh pejabat terkait untuk membahas persoalan pemadaman yang terjadi Minggu. Presiden pantas meminta pertanggungjawaban para pejabat PLN dan meminta penjelasan mengapa sampai tidak berdaya menangani persoalan pemadaman listrik.
         
Tanpa ada perbaikan prosedur penanganan ketenagalistrikan yang benar maka kita akan terpuruk. Bagaimana kita akan bisa menarik investasi kalau pasokan listrik tidak bisa dijamin seperti kemarin. Berapa kerugian yang dialami karena ketidakjelasan dan berlama-lamanya pemadaman yang terjadi? Harus dibuat aturan berapa toleransi pemadaman yang boleh terjadi dalam satu tahun. Kalau tidak mampu, ya tidak perlu pejabatnya diberi kepercayaan menangani ketenagalistrikan nasional.
        
Bahkan ada yang mengusulkan agar PLN sudah saatnya dipecah. Tentu tetap sebagai badan usaha milik negara karena listrik berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Namun, penanggung jawab wilayah yang ada sekarang ini diberi tanggung jawab korporasi yang lebih lengkap sebab Indonesia ini luasnya sama dengan dari London hingga Moskow. Terlalu riskan semua diserahkan kepada satu orang yang ada di Jakarta saja, padahal yang harus ditangani tersebar di seluruh Indonesia.
 

Baca Juga

Dok.MI/Ebet

Takdir Sejarah Metro TV

👤 Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group 🕔Rabu 25 November 2020, 05:00 WIB
DUA dekade lalu, saat Surya Paloh mendirikan Metro TV, banyak yang menyebut televisi berita pertama di Indonesia itu tak bakal berumur...
MI/Ebet

Anies dan Matinya Demokrasi

👤Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group 🕔Selasa 24 November 2020, 05:00 WIB
TAK berapa lama selepas Pilkada DKI 2017, beredar tulisan Eep Saefulloh Fatah di media...
MI/Ebet

Teror Visual Baliho

👤Gaudensius Suhardi Dewan Redaksi Media Group 🕔Senin 23 November 2020, 05:00 WIB
JALAN-JALAN di Jakarta tidak hanya dipadati tapi juga diwarnai kesemrawutan lalu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya