Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Demokrasi Nasi Goreng

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
29/7/2019 05:10
Demokrasi Nasi Goreng
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group(MI)

SETELAH pemilu usai, terutama pilpres, elite politik dapat berubah dalam memandang pemilih. Terlalu kasar untuk mengatakan habis manis sepah dibuang. Terlalu samar untuk bilang pemilih bukan lagi subjek, melainkan objek.

Harian ini Sabtu (27/7) mengangkat pandangan pakar yang mengatakan bersatunya koalisi pengusung Jokowi dengan oposisi baik di kabinet maupun di parlemen dengan membagi kursi Ketua MPR dan kursi menteri merupakan khianat kepada para pemilihnya. Demokrasi bukan nasi goreng yang perlu dibagi-bagi. Apakah sisi sebaliknya juga sama?

Kiranya juga sama. Partai oposisi bergabung dengan kekuasaan pun khianat kepada para pemilihnya. Pemilih mereka juga tidak menginginkan partai oposisi dan capres yang mereka pilih setelah kalah minta dibagi-bagi 'nasi goreng' dari kubu capres yang menang.

Nasi goreng makanan rakyat, tapi suara rakyat bukan senilai nasi goreng. Betapa pun enaknya nasi goreng, jangan perlakukan demokrasi sebagai nasi goreng.

Jokowi menang pilpres dengan selisih suara sangat besar. Partai pengusungnya pun meraih kursi mayoritas di parlemen. Apa alasan untuk bagi-bagi kursi di MPR dan di kabinet dengan oposisi seperti membagi-bagi nasi goreng?

Jokowi telah menjawab pertanyaan itu. Katanya, koalisi cukup. Jawaban mantap yang tidak khianat. Jawaban yang menghormati pemilihnya.

Setelah jawaban Jokowi itu jangan ada lagi partai dalam koalisi yang mengajak partai oposisi bergabung dalam pemerintahan Jokowi. Berhentilah bermanuver. Berhentilah, karena Jokowi tidak akan memperlakukan kekuasaan membagi-bagi kursi menteri seperti membagi-bagi nasi goreng.

Kekuasaan yang terlalu besar berpotensi eksesif. Karena itu, baiklah patuh kepada presiden terpilih, pemegang hak prerogatif, bahwa koalisi cukup.

'Koalisi cukup' bermakna tidak bertambah dan tidak berkurang. Selebihnya, di luar koalisi Jokowi ialah koalisi oposisi yang juga 'cukup' untuk tidak menjadi oposisi eksesif.

Tentu saja, turut berkuasa lebih enak daripada turut mengontrol kekuasaan. Seenak-enak oposisi yang seenaknya sekalipun lebih enak duduk di kursi kekuasaan. Apakah itu bagus bagi demokrasi?

Demokrasi bilang berbahaya kekuasaan tanpa checks and balances. Karena itu, yang kalah pilpres terimalah kekalahan itu dengan lapang dada dan terimalah 'nasib' 5 tahun lagi menjadi oposisi yang berwibawa sampai bertemu di Pilpres 2024 dengan peta capres yang berbeda.

Untuk itu, perlu dan penting memupuk kepercayaan rakyat. Jangan khianat kepada pemilih. Jangan menyakiti hati pemilih.

Kiranya jawaban Jokowi 'koalisi cukup' memberi batas tegas kepada siapa pun agar tidak terjadi khianat kepada pemilih, baik pemilih Jokowi maupun pemilih Prabowo.



Berita Lainnya
  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.

  • Duka Ngada Aib Negara

    05/2/2026 05:00

    'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

  • Tipu Daya Judol

    04/2/2026 05:00

    JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.

  • Tuas Rem Trump-Khamenei

    03/2/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di bibir jurang.

  • Etika Mundur di Pasar Modal

    02/2/2026 05:00

    PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.

  • Keadilan dalam Sepotong Es Gabus

    30/1/2026 05:00

    HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.

  • Kejar Jambret Dikejar Pasal

    29/1/2026 05:00

    DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.

  • Noel agak Laen

    28/1/2026 05:00

    IMANUEL 'Noel' Ebenezer memang bukan sembarang terdakwa korupsi.

  • Mudarat Paling Kecil

    27/1/2026 05:00

    RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.

  • Pengawas Mati, Korupsi Tumbuh

    26/1/2026 05:00

    KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.