Bali United

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Sabtu, 06 Jul 2019, 05:30 WIB podium
Bali United

MI
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

BAGAIKAN setetes air di tanah gersang, begitulah pencatatan saham klub sepak bola, Bali United, di lantai Bursa Efek Indonesia pertengahan bulan lalu. Di tengah keterpurukan sepak bola nasional, Bali United menawarkan sebuah manajemen yang lebih profesional dan mengajak masyarakat untuk menjadi pemiliknya.

Bali United yang dikomandoi Pieter Tanuri menjadi klub Indonesia dan klub Asia Tenggara pertama yang berani menawarkan saham kepada publik. Ada 2 miliar saham atau 33,3% kepemilikan saham yang ditawarkan pada harga Rp175 pada perdagangan perdananya dan ternyata diminati masyarakat.

Sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan kalau sepak bola menjadi bisnis yang menjanjikan di Indonesia. Masyarakat negeri ini begitu gandrung kepada sepak bola. Tidak ada negara yang selengkap Indonesia dalam menayangkan kompetisi sepak bola dari seluruh pelosok dunia.

Sayangnya, kecintaan masyarakat kepada sepak bola tidak mengimbas kepada prestasi tim sepak bola nasionalnya. Salah manajemen dalam pengelolaan sepak bola, bahkan memunculkan berbagai kasus yang mencoreng wajah sepak bola Indonesia.

Kasus suap dan pengaturan skor tidak henti-hentinya mendera sepak bola kita. Belum kasus penganiayaan yang terjadi di lapangan hijau karena ketidakpuasan atas hasil pertandingan. Hooliganisme yang berujung kepada jatuhnya korban penonton juga masih sering terjadi.

Pergantian pengurus PSSI tidak kunjung membuat wajah sepak bola menjadi lebih baik. Sekarang ini PSSI, bahkan tidak memiliki ketua umum karena pejabat sebelumnya mengundurkan diri karena menjadi kepala daerah, sedangkan pejabat penggantinya terkena kasus korupsi.

Apa yang dilakukan Bali United menjadi menarik karena diharapkan bisa mendorong perubahan dalam pembinaan sepak bola nasional. Dengan masuknya masyarakat menjadi pemilik klub diharapkan muncul paksaan kepada klub sepak bola dan akhirnya persepakbolaan nasional untuk menjalankan praktik pembinaan seperti yang berlaku di dunia internasional.

Hal ini bukan mustahil karena sebagai perusahaan publik, Bali United harus selalu menyampaikan rencana kerjanya dan memberikan manfaat yang nyata khususnya finansial kepada para pemegang saham. Bali United tidak akan bisa mendapatkan untung apabila prestasinya tidak baik.

Akibatnya, pembinaan akan menjadi perhatian utama Bali United. Dengan pembinaan yang baik, kualitas permainan akan meningkat dan inilah yang akan menarik penonton untuk datang ke stadion dan kemudian membeli pernak-pernik Bali United. Apalagi jika perbaikan kualitas diikuti dengan peningkatan prestasi.

Belajar dari negara-negara Eropa, pelibatan masyarakat dalam pengelolaan klub melalui pasar modal bukan hanya membuat sepak bola bisa menjadi industri, melainkan juga pengelolaan sepak bola menjadi lebih baik. Inggris merupakan contoh bagaimana prestasi mereka meningkat dengan pengelolaan klub yang lebih modern dan profesional.

Manchester United kini dikenal sebagai klub sepak bola terkaya di dunia karena tercatat di Bursa Saham London. Sebagai perusahaan, Manchester United sangat sehat karena mempunyai pendukung yang banyak sehingga penerimaan dari tiket dan merchandise luar biasa nilainya. Apalagi, prestasi dalam 25 tahun terakhir konsisten sehingga bukan hanya pendapatan sebagai juara yang tinggi, melainkan juga bagian dari hak siar televisi sangat besar.

Di musim kompetisi tahun lalu, klub-klub Inggris merajai kompetisi Liga Eropa. Tidak mengherankan apabila di tingkat dunia pun, tim nasional Inggris di Piala Dunia 2018 mampu menembus empat besar, prestasi terbaik setelah Piala Dunia 1990.

Jalan itulah yang kita harapkan juga bisa ditempuh untuk mengangkat persepakbolaan nasional. Jumlah permintaan yang lebih besar dari penawaran Bali United tentunya akan memancing klub-klub lainnya untuk melakukan hal yang sama. Paling tidak akan ada keinginan dari klub lain belajar dari pengelolaan Bali United tentang bagaimana caranya bisa tercatat di lantai bursa.

Tentu perbaikan prestasi sepak bola nasional tidak otomatis meningkat dengan penjualan saham klub ke publik. Ada faktor lain yang menjadi prasyarat bagi perbaikan kualitas sepak bola nasional. Seperti dukungan pemerintah untuk menyediakan prasarana sepak bola yang lebih memadai, pengurus PSSI yang lebih kredibel dan berkualitas, hingga pembinaan usia dini yang benar agar kita mendapatkan pemain-pemain yang memiliki keterampilan dasar sepak bola yang baik dan benar.

Namun, jalan perbaikan sudah semakin terbuka. Sekarang tinggal kemauan dari semua pihak untuk lebih serius menangani sepak bola nasional. Dibutuhkan kesabaran dan konsistensi untuk merawat persepakbolaan Indonesia karena tidak pernah ada jalan pintas untuk meraih kejayaan.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More