Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PUISI mestinya terlalu indah untuk mengandung kebencian. Apalagi, sengaja dipakai sebagai medium untuk mengekspresikan kebencian.
Kebencian tidak pernah indah. Tidak ada kebencian yang puitis. Dia produk kekeruhan, hiruk pikuk, kusut masai.
Berpuisi ialah berkesusastraan, yang menurut Goenawan Mohamad, merupakan hasil proses yang berjerih payah, proses yang minta pengerahan batin.
Pengerahan batin kiranya hanya dapat dilakukan dalam khusyuk. Bukan dalam ingar bingar. Dalam khusyuk, bukan saja orang berkonsentrasi, melainkan juga sekaligus terjadi penyerahan diri yang penuh.
Batin ialah pelabuhan diri yang bening, yang jujur. Hasil pengerahan batin terpadat dan terdalam berupa keindahan, bukan kebencian.
Maaf, pengerahan pikiran kiranya lebih mudah dilakukan jika dibandingkan dengan pengerahan batin. Pengerahan pikiran dapat dilakukan di mana saja, termasuk dalam kebisingan, dan untuk apa saja, termasuk berupa keperluan energi negatif. Hasilnya pamflet, bukan puisi.
Kebohongan, misalnya, bermula dalam pikiran. Bukan dalam batin karena batin menolaknya. Apakah maknanya ketika kita membahasakan diri 'berpikir positif'? Bukankah karena memang ada (bahkan mungkin banyak) yang 'berpikir negatif'?
Yang tersakiti oleh pikiran negatif ialah hati, bukan batin. Kalau kekalahan dianggap sebagai sesuatu yang menyakitkan, orang akan melakukan segala hal untuk menang. Termasuk menyakiti orang lain.
Kiranya itulah yang terjadi dalam kompetisi dan kontestasi pemilihan presiden. Maka dari itu, lahirlah puisi kebencian yang pasti bukan hasil proses yang minta pengerahan batin, melainkan hasil proses yang minta pengerahan energi pikiran negatif.
Kebencian tidak butuh pijakan. Ambil contoh dua berita yang beredar Senin (3/12) di detik.com. Yang pertama melansir data Reuters, bahwa dolar AS berada di level Rp14.225. Level itu disebut sudah jauh lebih rendah daripada posisi penutupan sebelumnya Rp14.302. Dengan kata lain, 'hari itu' rupiah perkasa.
Berita yang kedua Wakil Ketua DPR Fadli Zon menjelaskan soal lagu dan klip video Sontoloyo, yang dibuat berdasarkan sajak karyanya. Katanya, kata itu menarik karena itu kata mutiara pilihan Presiden Jokowi. "Jadi, waktu itu saya buatlah puisi." Salah satu liriknya, 'rupiah anjlok melemah'. Padahal, 'hari itu' ketika ia bicara dengan pers, ternyata rupiah menguat.
Kebencian memang tanpa pijakan. 'Hari itu' (3/12) ternyata rupiah perkasa. Terjadilah paradoks pasar dengan apa yang disebut Fadli Zon sebagai 'puisi'. Kenapa? Sebuah puisi yang merupakan hasil proses yang berjerih payah, proses yang minta pengerahan batin, nilai keindahannya berumur panjang, sangat panjang, bahkan estetika yang abadi. Nilainya tidak naik-turun, fluktuatif, sesuai dengan nilainya 'hari itu', dan nilai 'penutupan sebelumnya'.
Puisi hasil proses pengerahan batin tidak ada urusan dengan fluktuasi sebagai watak utama pasar bebas. Kebijakan moneter yang dipilih negara ini tidak mencantolkan rupiah pada kurs tetap, tetapi mengambang terkendali. Sebuah kebijakan negara yang memerlukan pengertian yang besar termasuk dari oposisi bahwa rupiah pun diwarnai dinamika pasar global.
Tentu saja orang bebas untuk berekspresi. Orang pun dapat mengklaim bahwa yang dihasilkannya puisi.
Sebaliknya, seraya mengenang keberangkatan sastrawan NH Dini, dan mengingat kembali karyanya Pada Sebuah Kapal, sejujurnya saya pun dapat bilang bahwa saya penganut paham puritan dalam mengapresiasi karya sastra, khususnya puisi. Terus terang saya alergis terhadap puisi kebencian.
BUPATI Pati, Jawa Tengah, Sudewo kembali menjadi atensi. Dia ditangkap tangkap oleh KPK karena diduga jual beli jabatan. OTT itu terjadi pada waktu yang tepat, sangat tepat.
REPUBLIK ini kiranya sedang berada dalam situasi kontradiksi yang meresahkan. Kontradiksi itu tersaji secara gamblang di lapisan-lapisan piramida sosial penduduk.
KITA tidak harus paling benar, yang penting paling berhasil. Itulah filosofi Vietnam.
SEJARAH Republik ini mencatat 15 Januari sebagai tanggal yang tidak netral. Pada hari itulah suara mahasiswa pernah mengguncang kekuasaan.
INDONESIA memang negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam, kaya budaya, dan kiranya juga kaya kreativitas kejahatannya, termasuk korupsi.
Ya, mereka memang terkenal pada zaman masing-masing. Terkenal karena berkasus rasuah.
PEMERINTAH tampaknya kembali menarik napas lega. Defisit APBN 2025 memang melebar, tetapi masih di bawah ambang sakral 3% dari produk domestik bruto (PDB).
PENGADILAN Negeri Situbondo, Jawa Timur, punya cerita. Penegakan hukum di sana dikenal sangat tajam, terutama kepada mereka yang lemah
VENEZUELA kembali menjadi sorotan dunia. Kali ini bukan semata karena krisis ekonomi yang tak kunjung usai
APA hubungannya Nicolas Maduro dan Silfester Matutina? Tidak ada. Teman bukan, saudara apalagi.
INI cerita tentang Indonesia yang barangkali membahagiakan, tapi juga sekaligus bisa menjadi peringatan.
ANGKA lima seolah 'ditakdirkan' melekat dalam 'tubuh' negeri ini pada satu dekade terakhir.
SEPERTI kue donat yang berlubang di tengah. Begitulah demokrasi negeri ini akan tampak jika pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota dikembalikan kepada DPRD.
ADAKAH berita baik di sepanjang 2025? Ada, tapi kebanyakan dari luar negeri. Dari dalam negeri, kondisinya turun naik
SETIAP datang pergantian tahun, kita selalu seperti sedang berdiri di ambang pintu. Di satu sisi kita ingin menutup pintu tahun sebelumnya dengan menyunggi optimisme yang tinggi.
SETIAP pergantian tahun, banyak orang memaknainya bukan sekadar pergeseran angka pada kalender, melainkan juga jeda batin untuk menimbang arah perjalanan bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved