Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sebuah ruang kuliah di jurusan filsafat universitas ternama, seorang bertanya ke dosen. "Kuliah di sini nanti bagaimana kerjanya, Pak?" Sang dosen diam sejenak. Pertanyaan serupa hampir muncul setiap tahun. Ia kesal.
"Anda keterlaluan, saya sudah kasih ilmu, masak saya juga harus mencarikan pekerjaan buat Anda? Terserah Anda mau kerja apa. Pemerintah sudah membuka jurusan ini, tanya saja kepada pemerintah," jawabnya.
Pertanyaan itu menunjukkan betapa mahasiswa didiknya tak punya wawasan ilmu yang dipilihnya. Saya kira pula, itu terjadi di banyak program studi (prodi) yang tak populer.
"Nanti kerjanya apa setelah lulus?" Begitu pertanyaan yang umum.
Yang mengherankan, pemerintah seperti membiarkan 'mekanisme pasar' dunia pendidikan berjalan, tanpa arahan. Padahal, itu berbahaya di masa depan.
Prodi-prodi penting tetapi kering peminat dibiarkan sekarat, dan mungkin mati. Kita pun terancam, misalnya, kekurangan tenaga ahli di bidang maritim, pangan, dan energi. Padahal, itu sektor amat vital.
Seperti hasil seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) 2015, dari 693.185 peminat, 99.223 yang diterima, tersebar di 74 perguruan tinggi negeri, prodi yang diserbu seperti informatika, komputer, kedokteran, komunikasi, psikologi, akuntansi, manajemen, dan hukum. Itulah prodi favorit atau zona aman.
Saya berharap ketika Jokowi mempromosikan poros maritim dunia, ia tidak saja siap dengan cetak biru, tetapi juga promosi yang gencar, khususnya di dunia pendidikan. Dengan potensi ekonomi kelautan sekitar Rp7.200 triliun per tahun (setara tiga setengah kali APBN 2015), berapa sumber daya manusia yang dibutuhkan?
Butuh berapa ahli perikanan, ilmu kelautan, teknik kelautan, teknik perkapalan, oseanografi? Begitu seterusnya!
Ternyata promosi jurusan kemaritiman minim. Hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2015--seleksi berdasarkan nilai rapor, nilai UN, dan prestasi siswa--masing-masing hanya 25 siswa yang memilih prodi teknik kelautan dan transportasi laut.
Untuk prodi sumber daya perikanan hanya 28 orang, teknologi dan manajemen perikanan tangkap 51 orang. Dengan angka peminat seperti itu, bagaimana program besar poros maritim berjalan baik?
Kabarnya kita juga tak mempunyai ahli optik dan welder.
Akankah kita impor tenaga ini? Lalu bidang bahasa dan kebudayaan.
Ahli filologi juga minim peminat. Padahal, kita kaya naskah lama yang membutuhkan banyak ahli. Kita butuh peneliti sejarah yang tekun, seperti kata sejarawan Inggris Peter Brian Ramsey Carey.
Kata Carey, mayoritas karya ilmiah tentang Indonesia ditulis orang asing. Implikasinya Indonesia kehilangan hak menjelaskan dirinya sendiri kepada dunia. Karena itu, pemerintah mesti punya peta kebutuhan tenaga ahli untuk semua bidang, dan kapan itu akan terpenuhi? Prodi-prodi penting harus gencar dipromosikan. Kalau perlu, disubsidi. Bukan menyerahkan pada pasar yang bergerak di hilir.
Seperti kata pengamat pendidikan Ina Liem, sekarang di mana-mana ada kedai kopi. Namun, siapa peduli menaman kopi di hulu? Ini juga terjadi di bidang-bidang lain.
Kita boleh punya nujum apa saja tentang masa depan kita, tapi tanpa visi pendidikan yang jauh ke depan, kita tak akan pernah bisa menjadi tuan di negeri sendiri bidang apa saja!
Negara kaya dan bonus demografi tanpa makna. Karena kita hanya puas di 'zona aman'.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved