Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Zona Aman

28/7/2015 00:00
Zona Aman
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

DI sebuah ruang kuliah di jurusan filsafat universitas ternama, seorang bertanya ke dosen. "Kuliah di sini nanti bagaimana kerjanya, Pak?" Sang dosen diam sejenak. Pertanyaan serupa hampir muncul setiap tahun. Ia kesal.

"Anda keterlaluan, saya sudah kasih ilmu, masak saya juga harus mencarikan pekerjaan buat Anda? Terserah Anda mau kerja apa. Pemerintah sudah membuka jurusan ini, tanya saja kepada pemerintah," jawabnya.

Pertanyaan itu menunjukkan betapa mahasiswa didiknya tak punya wawasan ilmu yang dipilihnya. Saya kira pula, itu terjadi di banyak program studi (prodi) yang tak populer.

"Nanti kerjanya apa setelah lulus?" Begitu pertanyaan yang umum.

Yang mengherankan, pemerintah seperti membiarkan 'mekanisme pasar' dunia pendidikan berjalan, tanpa arahan. Padahal, itu berbahaya di masa depan.

Prodi-prodi penting tetapi kering peminat dibiarkan sekarat, dan mungkin mati. Kita pun terancam, misalnya, kekurangan tenaga ahli di bidang maritim, pangan, dan energi. Padahal, itu sektor amat vital.

Seperti hasil seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) 2015, dari 693.185 peminat, 99.223 yang diterima, tersebar di 74 perguruan tinggi negeri, prodi yang diserbu seperti informatika, komputer, kedokteran, komunikasi, psikologi, akuntansi, manajemen, dan hukum. Itulah prodi favorit atau zona aman.

Saya berharap ketika Jokowi mempromosikan poros maritim dunia, ia tidak saja siap dengan cetak biru, tetapi juga promosi yang gencar, khususnya di dunia pendidikan. Dengan potensi ekonomi kelautan sekitar Rp7.200 triliun per tahun (setara tiga setengah kali APBN 2015), berapa sumber daya manusia yang dibutuhkan?

Butuh berapa ahli perikanan, ilmu kelautan, teknik kelautan, teknik perkapalan, oseanografi? Begitu seterusnya!

Ternyata promosi jurusan kemaritiman minim. Hasil seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2015--seleksi berdasarkan nilai rapor, nilai UN, dan prestasi siswa--masing-masing hanya 25 siswa yang memilih prodi teknik kelautan dan transportasi laut.

Untuk prodi sumber daya perikanan hanya 28 orang, teknologi dan manajemen perikanan tangkap 51 orang. Dengan angka peminat seperti itu, bagaimana program besar poros maritim berjalan baik?

Kabarnya kita juga tak mempunyai ahli optik dan welder.

Akankah kita impor tenaga ini? Lalu bidang bahasa dan kebudayaan.

Ahli filologi juga minim peminat. Padahal, kita kaya naskah lama yang membutuhkan banyak ahli. Kita butuh peneliti sejarah yang tekun, seperti kata sejarawan Inggris Peter Brian Ramsey Carey.

Kata Carey, mayoritas karya ilmiah tentang Indonesia ditulis orang asing. Implikasinya Indonesia kehilangan hak menjelaskan dirinya sendiri kepada dunia. Karena itu, pemerintah mesti punya peta kebutuhan tenaga ahli untuk semua bidang, dan kapan itu akan terpenuhi? Prodi-prodi penting harus gencar dipromosikan. Kalau perlu, disubsidi. Bukan menyerahkan pada pasar yang bergerak di hilir.

Seperti kata pengamat pendidikan Ina Liem, sekarang di mana-mana ada kedai kopi. Namun, siapa peduli menaman kopi di hulu? Ini juga terjadi di bidang-bidang lain.

Kita boleh punya nujum apa saja tentang masa depan kita, tapi tanpa visi pendidikan yang jauh ke depan, kita tak akan pernah bisa menjadi tuan di negeri sendiri bidang apa saja!

Negara kaya dan bonus demografi tanpa makna. Karena kita hanya puas di 'zona aman'.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.