Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM duka nestapa, solidaritas mestilah dikukuhkan dan solitaritas disingkirkan. Itulah elan bersaudara; bersaudara antarsesama warga negara, bersaudara sesama manusia. Benarlah aforisme ini, 'Kalau ingin melihat manusia sejati dan sebaliknya, lihatlah ketika mereka mengalami duka nestapa'.
Itu pula yang mesti kita tunjukkan ketika dalam sepekan ini dua gempa utama melanda Pulau Lombok, Nusa Tanggara Barat (NTB). Bencana yang menelan banyak korban. Duka dan trauma pastilah bertumpuk-tumpuk, berkelindan.
Maka, doa dan ihtiar yang meringankan beban penderitaan itulah yang mesti kita lakukan.
Gempa pada Ahad (29/7) di Pulau Seribu Masjid itu berkekuatan 6,4 pada skala Richter, menewaskan 14 orang, ratusan luka, dan ribuah rumah serta bangunan rusak. Ahad (5/8) gempa terjadi lagi. Gempa berkekuatan 7,0 pada skala Richter. Pusat gempa pada 8,3 lintang selatan, 116,48 bujur timur Kabupaten Lombok Utara, dengan kedalaman 15 kilometer.
Daya rusak gempa terakhir ini lebih tinggi. Sekitar 100 orang meninggal, ratusan luka, dan bisa jadi bangunan rusak lebih banyak lagi. Getaran gempa juga terasa di Flores, Bali, dan sebagian Jawa Timur. Secara bersamaan terjadi juga gempa di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, dan Mentawai, Sumatra Barat. Duka yang tak tertahankan.
Kita kerap kagum, dalam suasana duka, ada yang bergerak cepat tak mengenal penat, baik dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) maupun para relawan, juga siapa saja yang bertugas di bidang pelayanan.
Mereka paham, menolong korban bencana perlu cepat. Yang wafat harus lekas dikebumikan, yang luka harus segera diobati, yang hilang harus secepatnya dicari, yang trauma harus segera dikuatkan jiwanya.
Namun, di tengah mereka yang menebar kebajikan, ada saja yang tega mengayuh laba. Laba materi dan laba yang lain; politisasi bencana, misalnya. Bahwa gempa terjadi karena Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) mendukung Jokowi.
"TGB, dalam gempa Jokowi tak bisa menolong Anda." Ini kicauan sebuah akun Twitter. Itulah kuasa jemari yang kapan saja bisa digerakkan. Karena TGB berbalik mendukung Jokowi, bencana pun datang. Itu pesan kicauan itu.
Padahal, bacalah sejarah bencana di negeri ini (seperti gempa bumi,
tsunami, gunung meletus), melimpah sumbernya. Kita pun tahu, secara
tektonik Lombok memang kawasan seismik aktif. Lombok berpotensi diguncang gempa karena terletak di antara dua pembangkit gempa dari selatan dan utara.
Dari selatan terdapat zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menghunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi sesar naik Flores (Flores back arc thrusting). Sejak gempa 25 Juli 1856 hingga kini, sedikitnya Lombok telah dilanda gempa besar lebih 10 kali. Fakta itu cukuplah untuk membuktikan pulau ini rawan gempa.
Potensi gempa bisa diditeksi dan aktivitas lempeng tektonik bisa diketahui.
Namun, sains belum sampai pada nubuat yang tepat kapan persisnya gempa
terjadi dan berapa kekuatannya. Justru inilah yang mestinya kita sadari
hidup di tengah geografi yang akrab dengan bencana. Terlebih NTB punya
sejarah meletusnya Gunung Tambora plus tsunami pada 1815, yang menimbun
tiga kerajaan dan membunuh sekitar 5.000 jiwa.
"Jalan keluarnya, kita harus terus meningkatkan kapasitas dalam memahami ilmu gempa bumi, cara selamat menghadapi gempa, dan bagaimana memitigasi gempa bumi agar kita selamat dan dapat hidup harmoni dengan alam," kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono. Ini kebajikan yang perlu sikap bersama.
Begitulah, mestinya dalam geografi yang akrab dengan bencana, semangat
persaudaraan kita justru semakin lekat. Negeri ini pula mestinya menjadi salah satu tempat utama studi tentang kebencanaan, antara lain gempa, gunung meletus, dan tsunami. Kita mestinya menjadi contoh bagaimana menghadapi itu semua jika dibandingkan dengan bangsa lain yang tak sekaya kita dalam hal bencana.
Demokrasi yang kian dewasa selalu ada perekat yang menyatukan di tengah perbedaan. Bencana alam, prestasi anak bangsa, pelecehan dan hinaan terhadap simbol negara, serta ancaman terhadap kedaulatan negara ialah beberapa di antara yang bisa menyatukan. Duka Lombok pun sudah selayaknya menjadi duka kita bersama. Jangan ada yang memolitisasi bencana.***
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
'Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti) Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)
JUDI online (judol) sejatinya bukanlah sebuah permainan keberuntungan. Ia barangkali salah satu mesin penipu paling canggih yang pernah diciptakan.
PATUT dicatat sebagai rekor nasional. Bila perlu dengan tinta tebal. Hanya dalam satu hari, lima pejabat otoritas keuangan mengundurkan diri.
HUKUM dan keadilan mestinya berada dalam satu tarikan napas. Hukum dibuat untuk mewujudkan keadilan.
DI negeri ini, keadilan tak jarang tersesat di tikungan logika dan persimpangan nalar.
RENCANA bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk 'pembangunan kembali Gaza' segera memantik pro dan kontra.
KEGAGALAN aparat pengawasan intern pemerintah (APIP) ialah fakta berulang, bukan lagi dugaan.
ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved