Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Petronas

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
27/1/2018 05:31
Petronas
((AP Photo/Lai Seng Sin))

KUNJUNGAN Satuan Kerja Khusus Migas ke Petronas di Malaysia membuka mata kita bahwa yang datang belakangan tidak berarti harus tertinggal. Dengan perencanaan yang baik, eksekusi yang berani, dan dukungan pemerintah yang tepat, ketertinggalan dari sisi waktu bisa dikejar.

Petronas bisa menjadi pemain kelas dunia karena think big and act big. Petronas baru dibentuk pemerintah Malaysia pada 1974. Saat itu Pertamina sudah menggeliat menjadi raksasa. Bonanza minyak yang terjadi pada saat itu membuat Pertamina menjadi pemain utama minyak dunia dan dengan itu Indonesia mempunyai modal untuk mulai melakukan pembangunan besar-besaran.

Berbagai proyek infrastruktur mulai jalan, sekolah dasar, hingga pusat kesehatan masyarakat dibangun dengan uang hasil minyak sehingga membawa Indonesia menjadi negara industri baru. Sayang, Pertamina tidak berlanjut menjadi perusahaan minyak nasional berkelas dunia.

Mulai sisi hulu hingga hilir tidak dibangun secara terintegrasi. Eksplorasi maupun eksploitasi tidak dijadikan sebagai kekuatan. Pertamina lebih asyik menikmati bagi hasil dari kontraktor kontrak kerja sama. Kalau pun kemudian dibangun pengilangan, itu dilakukan secara terpisah-pisah.

Jangan tanya tentang industri hilir seperti petrokimia, nyaris tidak pernah dibangun Pertamina. Sebaliknya, Petronas memulai produksi dari satu sumur eksploitasi berkapasitas 40 ribu barel per hari pada 1975. Hasil itu yang mendorong mereka mencari ladang-ladang minyak baru dan membangun pengilangan.

Sepuluh tahun kemudian, Petronas bahkan mulai membangun pabrik petrokimia untuk memberikan nilai tambah dari sumber daya alam yang mereka miliki. Sekarang ini Petronas memiliki 17 pabrik petrokimia, 8 dimiliki sendiri, 5 perusahaan patungan, dan 4 menjadi pemegang saham minoritas.

Semua itu bisa terjadi karena perencanaan jangka panjang mereka jelas. Visi 2020 Malaysia yang dicanangkan PM Mahathir Mohamad dulu diterjemahkan ke pengembangan industri minyak dan gas. Seperti di Trengganu, pemerintah menyediakan lahan sampai 4.000 hektare sehingga Petronas tidak pernah menghadapi persoalan membangun kawasan minyak dan gas secara terpadu.

Petronas tidak pernah menghadapi masalah dengan masyarakat setempat dalam urusan pembebasan lahan. Pemerintah bertugas menjelaskan kepada masyarakat tentang arah pembangunan dan pengorbanan yang harus diberikan masyarakat. Sikap saling percaya antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dibangun demi kemajuan Malaysia.

Inilah tantangan yang harus bisa kita jawab kalau ingin Indonesia lebih maju. Tugas pemerintah menentukan arah pembangunan dan menjelaskan kepada pemangku kepentingan tentang kontribusi yang harus diberikan. Dunia usaha bertugas melakukan langkah korporasi yang benar dan tidak menyalahgunakan kepercayaan pemerintah.

Sebagai imbalannya, pemerintah tidak ikut campur dalam urusan teknis korporasi. Apa yang harus dilakukan masyarakat? Memberikan kesempatan kepada korporasi dalam menjalankan rencana bisnis. Tidak boleh ada anggota masyarakat yang mengambil keuntungan dengan mencari rente.

Semua percaya korporasi yang berjalan baik akan memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat tidak terlihat pada kita. Kita sering tidak taat kepada aturan main yang seharusnya dijalankan. Sikap saling tidak percaya membuat semua saling berupaya melakukan intervensi.

Semua mencoba mencari untung bagi dirinya sendiri. Lihat saja pengembangan blok gas Masela di Maluku. Pemerintah mengintervensi keputusan SKK Migas dengan mengubah rencana pengembangan di lepas pantai menjadi di darat. Namun, pemerintah tidak menjamin ketersediaan lahan yang dibutuhkan untuk eksploitasi blok gas.

Dunia usaha disuruh menyelesaikan sendiri kebutuhannya. Akibatnya, muncullah para pemburu rente. Para pemilik modal menguasai terlebih dulu lahan-lahan di sekitar lokasi pengembangan dengan tujuan bisa menjual dengan harga mahal kepada operator karena mereka pasti membutuhkan lahan.

Dengan model seperti ini sudah pasti tidak pernah tercapai yang namanya efisiensi. Biaya pengembangan pengolahan gas blok Masela menjadi mahal. Apalagi biaya itu dibebankan kepada negara sebagai bagian dari cost recovery. Dengan biaya investasi yang mahal, bagaimana lalu kita bersaing dengan perusahaan minyak dan gas negara lain.

Kita pernah mendengar, pilihan pengembangan blok Masela di darat akan membuka peluang pengembangan yang lebih terintegrasi, termasuk dengan membangun pabrik pupuk dan juga petrokimia. Kalau perencanaan tidak matang, termasuk mengantisipasi kebutuhan lahan, bagaimana kita bisa memiliki kawasan pengembangan industri minyak dan gas terpadu?

Kita perlu membuka mata lebih lebar. Tidak perlu jauh-jauh, kita melihat saja bagaimana Malaysia mengembangkan industri minyak dan gas mereka. Praktik pengelolaan sumber daya yang terencana rapi merupakan kunci apabila kita tidak ingin terus merugi. Sumber daya alam harus bisa kita pakai bukan hanya untuk menyejahterakan, melainkan juga mencerdaskan bangsa.

Dari Petronas yang semula hanya operator minyak dan gas, Malaysia bisa membuatnya menjadi center of excellence. Petronas sudah membangun pusat pendidikan dan juga penelitian untuk pengembangan industri minyak dan gas. Hasilnya, Petronas bukan hanya unggul di industri hilir seperti menjadi produsen metanol terbesar di dunia, melainkan juga menemukan paten untuk teknologi membran yang bisa menangkap CO2 dalam proses pengolahan gas sehingga produk yang mereka hasilkan lebih ramah lingkungan.

Dengan kultur yang hampir sama, bukan mustahil kita bisa mengejar Malaysia. Kalau saja kita bisa menyamai mereka dalam menegakkan disiplin dan kesungguhan membangun manusia, Indonesia pasti bisa lebih hebat daripada negara jiran itu. Pertanyaannya, maukah kita berubah?



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.