Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA mencintai sepak bola. Bahkan bisa dikatakan, sepak bola telah menjadi semacam 'agama sekuler' di negeri ini dielu-elukan, disakralkan, dan dirayakan oleh jutaan pengikut fanatik dari Sabang sampai Merauke. Setiap kali Timnas berlaga, riuh sorak dan gemuruh semangat menyeruak dari warung kopi hingga media sosial. Namun cinta, sebagaimana kita tahu, tidak serta-merta berbanding lurus dengan kemajuan. Dan kenyataan pahit itu kembali menampar kita, ketika Tim Nasional Indonesia dihantam telak oleh Jepang dengan skor 6-0.
Kekalahan tersebut bukan sekadar angka di papan skor. Ia adalah cermin jernih yang memantulkan kelemahan fundamental dalam sistem sepak bola nasional. Kita seperti tersadar bahwa segala euforia, proyek instan, dan selebrasi semu yang mengiringi sepak bola Indonesia belakangan ini ternyata tidak mampu menyembunyikan kenyataan: kita masih sangat tertinggal dari negara seperti Jepang. Bukan karena mereka bermain sulap, tetapi karena mereka membangun dari dasar yang kokoh dan dalam waktu yang panjang.
Salah satu kekeliruan besar yang kerap diulang dalam sejarah sepak bola Indonesia adalah keyakinan bahwa prestasi bisa dibeli. Ketika seorang menteri turun tangan dan mulai 'peduli' pada sepak bola, langkah yang diambil cenderung bersifat kosmetik: mendatangkan pelatih asing dengan bayaran selangit, merekrut pemain keturunan dari luar negeri, atau mengganti manajemen federasi dalam waktu singkat. Semua itu dilandasi semangat baik, tetapi sayangnya diarahkan untuk solusi jangka pendek—ibarat memoles cat luar rumah yang fondasinya rapuh.
Sepak bola, seperti halnya peradaban, tidak bisa dibangun dengan trik sulap. Tim nasional yang tangguh lahir dari kultur kompetisi yang sehat, sistem pembinaan usia dini yang konsisten, serta pendidikan karakter dan disiplin sejak awal.
Jepang telah membuktikan hal ini. Mereka tidak tergesa-gesa mencari hasil instan. Sejak dekade 1990-an, Jepang membangun J-League sebagai liga profesional yang berjenjang, dengan ekosistem yang memberi ruang berkembang bagi pelatih lokal, pemain muda, dan klub-klub yang dikelola secara profesional. Mereka juga menanamkan disiplin dan kerja keras dalam kurikulum sekolah, di mana olahraga adalah bagian dari pendidikan karakter.
Kekalahan telak dari Jepang juga menunjukkan fakta penting: tim sepak bola bukan sekadar kumpulan individu hebat, tetapi kesatuan yang terbentuk dari proses panjang bermain bersama. Indonesia hari ini memang diperkuat oleh beberapa pemain naturalisasi yang tampil di liga-liga luar negeri. Mereka bertalenta. Tetapi tanpa waktu bermain bersama, tanpa chemistry dan kohesi, mereka hanyalah individu-individu yang belum menjadi tim.
Sebaliknya, Jepang adalah contoh soliditas kolektif. Sebagian besar pemain mereka berasal dari sistem yang sama, mengenal satu sama lain sejak muda, dan bermain dalam ritme yang terukur serta familiar. Mereka tidak hanya bermain dengan taktik, tetapi dengan intuisi yang lahir dari jam terbang dan ikatan sebagai tim.
Yang lebih penting, kegagalan kita dalam sepak bola bukan hanya kegagalan teknis atau manajerial, tetapi juga kegagalan dalam nation and character building. Sepak bola seharusnya tidak hanya dipandang sebagai proyek prestasi internasional, tetapi sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa. Negara-negara maju di bidang olahraga tidak pernah memisahkan antara pengembangan atlet dengan penguatan budaya disiplin, kerja sama, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Di Indonesia, semangat olahraga sering terjebak dalam seremonial dan simbolisme, sementara pembinaan usia dini, infrastruktur lapangan, pelatihan pelatih lokal, dan liga remaja nyaris tak mendapat perhatian. Padahal di situlah letak pondasi kejayaan. Jika ingin kuat, kita harus membangun dari bawah, bukan hanya mengimpor dari atas.
Kekalahan dari Jepang seharusnya menjadi titik balik, bukan bahan cemoohan atau sekadar bahan viral. Skor 6-0 adalah sinyal keras bahwa sistem kita harus dibenahi secara struktural, bukan ditambal dengan solusi jangka pendek. Kita harus berhenti percaya pada mitos pelatih asing sebagai dewa penyelamat, atau pemain luar negeri sebagai shortcut ke pentas dunia.
Sudah saatnya kita kembali ke hal-hal mendasar: membangun sistem kompetisi lokal yang sehat, memberi insentif pada klub untuk membina pemain muda, menyiapkan pelatih dan manajer yang berkualitas, dan--yang terpenting--mengintegrasikan olahraga dalam pembangunan karakter bangsa.
Pertama, revitalisasi sistem pembinaan usia dini melalui akademi-akademi lokal yang terstandar dan terintegrasi dengan kurikulum pendidikan nasional.
Kedua, profesionalisasi liga nasional, termasuk memperbaiki jadwal, sistem promosi-degradasi, dan transparansi manajemen klub.
Ketiga, fokus pada pelatih dan wasit lokal dengan memberi mereka pelatihan intensif serta akses ke sertifikasi internasional.
Keempat, mendorong pemerintah dan swasta membangun fasilitas olahraga di daerah, tidak hanya stadion besar di ibukota.
Kelima, menempatkan olahraga, khususnya sepak bola, sebagai bagian integral dari nation building, bukan sekadar alat pencitraan politik.
Sepak bola Indonesia tidak akan maju hanya dengan euforia, proyek mercusuar, atau intervensi sesaat. Sepak bola adalah cermin dari bangsa itu sendiri. Jika ingin sepak bola kita kuat dan bermartabat, kita harus membangun bangsa ini dengan karakter yang sama: kerja keras, disiplin, kesabaran, dan cinta tanah air yang bukan hanya slogan. Karena pada akhirnya, kemenangan di lapangan hijau hanya akan datang ketika kita lebih dahulu menang dalam membangun sistem dan karakter.
Bagi John Herdman, Bobby Robson bukan sekadar pelatih, melainkan representasi dari kelas pekerja Inggris Utara yang sukses menaklukkan dunia melalui sepak bola.
Sebelum mendarat di Jakarta, John Herdman telah melanglang buana dari Inggris ke Selandia Baru hingga Kanada.
Indonesia mendapat kepercayaan besar sebagai salah satu dari 11 negara penyelenggara FIFA Series, dengan Jakarta yang dijadwalkan menjadi pusat rangkaian pertandingan.
Jika Indonesia berada di Grup A bersama Korea Selatan, Irak, dan Kirgiztan, maka Tajikistan dan Jepang menghuni Grup C bersama Uzbekistan dan Australia.
Jay Idzes diprediksi akan tetap menjadi jenderal lapangan tengah. Ia akan didampingi oleh Rizky Ridho, yang secara terang-terangan telah dipuji oleh Herdman atas kedewasaan bermainnya.
Timnas Futsal Indonesia terus mematangkan persiapan menjelang gelaran bergengsi Piala Asia Futsal 2026.
Kiper Yordania Abdel Rahman Al Talalga mengalami momen tak terlupakan saat adu penalti melawan Timnas Jepang U-23 di Piala Asia U-23 2026.
Duet andalan Maria Sakkari dan Stefanos Tsitsipas tampil dominan untuk membawa Yunani meraih kemenangan meyakinkan 3-0 atas timnas Jepang di laga pembuka United Cup, Sabtu (3/1).
TIMNAS Jepang menatap Piala Dunia 2026 dengan keyakinan besar raih hasil positif setelah kemenangan telak 3-0 dalam pertandingan Jepang vs Bolivia pada partai persahabatan
Timnas Jepang membukukan kemenangan telak 3-0 atas timnas Bolivia di laga persahabatan, Selasa (18/11),
Laga melawan timnas Ghana ini adalah pertandingan pertama timnas Jepang sejak kemenangan persahabatan 3-2 mereka atas timnas Brasil di Tokyo, bulan lalu.
Wataru Endo mengundurkan diri dari timnas Jepang untuk pertandingan selama jeda internasional Oktober karena cedera.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved