Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

2 Bulan Pascabencana, Dapur Umum Santri Korban Banjir Najmul Hidayah di Bireuen Berjalan tanpa Sentuhan Pemerintah

Amiruddin Abdullah Reubee
26/1/2026 19:47
2 Bulan Pascabencana, Dapur Umum Santri Korban Banjir Najmul Hidayah di Bireuen Berjalan tanpa Sentuhan Pemerintah
Para santri Pesantren Najmul Hidayah, Samalanga, Bireuen, Aceh, saat mengambil nasi di dapur umum mandiri.(MI/Amirruddin Abdullah Reubee)

MINGGU (25/1), menjelang siang itu jarum jam menunjukkan sekitar pukul 11.50 WIB. Suasana ramah dan bersahabat sangat terasa oleh hembusan angin sawah sepoi-sepoi. 

Teungku Tarmizi bin Muhammad Daud Al- Yusufi pimpinan Dayah (Pesantren Tradisional) Najmul Hidayah Al-Aziziyah, Desa Cot Meurak, Betee Iliek, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, dengan senyum khasnya mempersilahkan tiga orang tamu berkunjung. Tamu itu adalah Firdaus Abdul Ghani dan Teuku Azmi Kamaruzzaman. Keduanya warga Malaysia keturunan Aceh. Satu lagi yaitu kerabat dekatnya, Doktor Muhammad Adli Abdullah yang juga dosen Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Mereka adalah simpatisan yang juga donatur pesantren tradisional Najmul Hidayah. 

Keempat lelaki dewasa itu duduk lesehan pada sebuah balai beton berlantai keramik, persis di bawah pohon asam jawa. Balai beton yang di bagian selatannya itu ada satu ruangan ber-AC tempat pengajian dewan guru. Di sisi barat itulah rumah Pimpinan Dayah Tengku Tarmizi, yang letaknya persis di tengah areal pesantren seluas sekitar 6 hektare (ha). 

Sekitar 35 meter sebelah timur balai beton langsung berbatasan dengan Sungai Krueng Batee Iliek yang airnya mengalir jernih di antara bebatuan besar. Itu merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) paling ganas di Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh saat banjir besar Sumatra 24-27 November 2025 lalu. 

Seberang timur sungai terbentang sawah yang mulai ditabur benih. Demikian juga sebelah barat pesanten dengan hamparan tanaman padi nan luas sedang menghijau. Ketika diembus angin, seluas mata memandang daun padi muda itu bergelombang indah laksana melambai siapa saja yang melintasi jalan Batee Iliek-Pasar Samalanga. Itu jalur utama yang membelah membatasi antara komplek pesantren Najmul Hidayah dan areal sawah nan luas dan subur.

Di antara sayup-sayup embusan angin dan bunyi percikan mengalir air sungai itu, Tengku Tarmizi menjelaskan kondisi pesantrennya saat banjir bandang akhir November 2025 kala itu. Setidaknya dua ruas bilik santri berkonstruksi beton berjumlah 38 kamar ukuran besar dan sedang jatuh ke sungai tergurus ambles seperti drama film laga. 

"Arus air sungai sangat deras dan cepat sehingga sebagian santri tidak sempat memindahkan barang nya, kecuali baju di badan. Insya Allah tidak ada korban jiwa. Kerugian berkisar Rp10 miliar," kata Walet Ar, panggilan akrab Teungku Tarmizi. 

Meski 2 ruas atau 38 bilik santri rubuh tergerus banjir, namun air tidak sampai meluap ke pekarangan dayah. Lalu tidak ada endapan lumpur tebal sebagaimana di lokasi banjir lain. Sedikitnya 400 santri harus pindah tidur di masjid atau ke bilik yang tersisa bersama teman mereka. 

Santri Terancam tak Kembali karena Kondisi Keluarga

Ironisnya dari sekitar 800 santri penuntut ilmu di Dayah Najah, nama lain pesantren Najmul Hidayah, sebagian besar adalah anak para korban terdapak banjir di kampung masing-masing. Bukan saja rumah hancur dan sekeluarga di kampung harus mengungsi, tapi aktivitas perekonomian orangtua mereka juga lumpuh total. 

Meskipun 38 bilik santri rubuh ditelan arus sungai saat banjir, Teungku Tarmizi yang juga dimotivasi oleh simpatisannya, tidak menyerah supaya bangkit kembali dari keterpurukan itu. Untuk ketegaran para santri, mulai setelah banjir bandang pihaknya membuka dapur umum Dayah secara mandiri yaitu tanpa bantuan pemerintah. 

Semua kebutuhan beras, ikan, lauk, sayur dan keperluan dapur lainnya dipikirkan oleh Tengku Tarmizi sebagai pimpinan Dayah Najah. Para santri tetap disediakan makan tiga kali sehari tanpa harus membayar. 

Hal itu dilakukan untuk membantu para santri dan meringankan beban orangtua mereka di kampung. Lalu, agar proses pengajian atau belajar kitab kuning tetap berlangsung sebagaimana biasa. 

Kalau saat normal sebelum banjir mereka memasak atau berlangganan katering masing-masing. Sekarang semua ditanggung bersama. Meskipun ada juga yang memasak sendiri karena khawatir memberatkan pihak pesantren.

"Kalau tidak kita tanggung sama siapa mereka berharap, sedangkan orang tuanya terdampak, kampungnya hancur," tutur Waled Ar. 

Pantang Meminta

Dikatakannya, untuk kebutuhan belanja dapur sekarang pihaknya harus berpikir keras dari mana sumbernya untuk setiap hari. Namun berkat bantuan sedekah pribadi atau donatur swasta dan ada juga sumbangan sebagian wali santri supaya dapur harus berasap lalu anak tetap bisa makan. 

"Sudah dua bulan berjalan setelah banjir, dari pemerintah atau BPBD hanya pernah dibantu 2 sak beras dan bahan logistik lain. Saya pun tidak meminta-minta atau mengharap dari mereka. Bila dikasih alhamdulillah, kalau tidak apa-apa. Insya Allah ada kawan-kawan atau orang-orang murah hati meringankan beban kami," tambah Teungku Tarmizi. 

Menurut Teungku Tarmizi, pihaknya berusaha paling kurang dapur umum mandiri itu bertahan hingga Lebaran Idul Fitri 1447 H. Apalagi saat bulan Ramadan, tentu harus berusaha para santri tetap berbuka dan sahur selayaknya. 

"Untuk menghemat biaya, hingga sekarang ada orang rumah saya dan merekrut satu orang karyawan perempuan warga sekitar serta dibantu dua orang santri. Untuk lauk kita belanja di pasar dan ikan kadang beli dari agen atau grosir," jelar Teungku Tarmizi. 

Adapun amatan Media Indonesia, pada Minggu (25/1), ratusan santri selepas salat ashar berjamaah di Masjid Komplek Dayah, ramai-ramai berdiri antrean di tempat pengambilan nasi. Setelah mengambil nasi dan lauk, mereka menuju bilik atau berkumpul di balai untuk makan bersama. 

Setelah makan, lalu persiapan mandi dan berpakaian rapi. Sekitar pukul 18.00 WIB langsung menuju masjid untuk persiapan salat magrib dan dilanjutkan jadwal pelajaran mengaji dalam lokal masing-masing. Setelah salat isya pukul 21.00 WIB, dilanjutkan masuk kelas hingga pukul 23.00 WIB. 

Menurut simpatisan Dayah Najah, Muhammad Adli Abdullah, sebelum banjir bandang ada sekitar 800 santri Pesantren Najmul Hidayah itu. Setelah bencana yang meluluhlantakkan 38 unit bilik beton tempat tinggal santri, sebagian mereka pulang ke kampung masing-masing. 

Setelah berada bersama keluarga atau orangtua tidak sedikit harus bertahan di pengungsian karena rumahnya hancur. Akibat hilang mata pencaharian dan lumpuh perekonomian sekeluarga sehingga orangtua tidak sanggup lagi membiayai anak mereka kembali ke pesantren. 

"Dari 800 santri yang ada kini masih bertahan dan sanggup kembali lagi sekitar 350 orang. Yang lain masih sulit untuk kembali. Mudah-mudahan mereka segera kembali dan di sini tetap menyediakan makan tiga kali sehari," tutur Adli Abdullah. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya