Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Berhenti Melaut Akibat Gelombang Tinggi, Nelayan di Pantura Jawa Tengah Kerja Serabutan

Akhmad Safuan
04/1/2026 12:10
Berhenti Melaut Akibat Gelombang Tinggi, Nelayan di Pantura Jawa Tengah Kerja Serabutan
Ribuan nelayan di Jepara memilih menyandarkan kapalnya di muara sungai dan berhenti melaut akibat gelombang tinggi.(MI/Akhmad Safuan)

DAMPAK gelombang tinggi di perairan utara 1,35-2,5 meter, ribuan nelayan di Pantura Jawa Tengah sudah sepekan berhenti melaut, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka terpaksa bekerja serabutan.

Pemantauan Media Indonesia Minggu (4/1) ribuan kapal nelayan masih disandarkan di sejumlah pelabuhan perikanan dan muara sungai di sejumlah daerah di Pantura Jawa Tengah dari mulai Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, Pati dan Rembang karena cuaca buruk dan gelombang tinggi di perairan utara.

Sejak akhir Desember lalu, para nelayan di Pantura terutama pengguna perahu/kapal berukuran kecil dan sedang memilih untuk berhenti melaut, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka terpaksa bekerja serabutan dari mulai berdagang keliling, butuh bangunan maupun pekerjaan lain yang tidak membutuhkan ketrampilan khusus.

"Sudah sepekan tidak melaut karena gelombang tinggi dan cuaca buruk, kemarin mencoba berangkat tapi gelombang capai 2 meter dan badai sehingga terpaksa pulang lagi," kata Triyono,45, nelayan di Bandengan, Jepara.

Hal serupa juga diungkapkan Sukardi,50, nelayan di Wedung, Kabupaten Demak bahwa gelombang tinggi dan badai di perairan utara sejak akhir Desember lalu memaksa ribuan nelayan berhenti melaut, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup terpaksa bekerja serabutan. "Saya jual cilok keliling untuk mengisi waktu dan memenuhi kebutuhan," tambahnya.

Nelayan lain di Mangkang Kulon, Kota Semarang Suryanto mengaku sejak gelombang tinggi ada 500 nelayan di daerah ini tidak melaut, sebagian besar memilih bekerja sebagai buruh bangunan di kawasan industri baik di Kendal maupun Batang, jatebavtidak mempunyai ketrampilan dan modal untuk usaha lainnya.

Demikian juga diungkapkan Haryono, nelayan di Pantai Roban, Batang bahwa pada ktdim baratan ini gelombang di perairan utara dapat mencapai 2,5 meter,bsehingga nelayan dengan kapal atau perahu kecil berkapasitas dibawah 40 PK tidak akan berani melaut sementara waktu, sehingga untuk memebuhi ke kebutuhan terpaksa berhutang ke bos ikan.

Prakirawan BMKG Stasiun Maritim Tanjung Emas Semarang Sediyanto membenarkan kondisi gelombang tinggi 1,25-2,5 meter terjadi di perairan utara Jawa Tengah saat ini, sehingga hal ini cukup berisiko terhadap aktivitas pelayaran terutama kapal nelayan saat kecepatan angin diatas 15 knot.

"Selain gelombang tinggi cukup berisiko terhadap aktivitas pelayaran, air laut pasang (rob) dengan ketinggian maksimum 1 meter juga kembali berlangsung di perairan utara Jawa Tengah hingga berdampak banjir di sejumlah daerah di Pantura," ujar Sediyanto Minggu (4/1).

Gelombang tinggi di perairan utara tersebut, ungkap Sediyanto, berlangsung setiap hari di seluruh kawasan perairan seperti Pekalongan-Kendal, Semarang-Demak, Jepara, Karimunjawa dan Pati-Rembang, sehingga para nelayan terutama menggunakan kapal berukuran kecil dan sedang memilih berhenti melaut untuk sementara waktu. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya