Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Hampir Sebulan Terisolasi, 11 Desa di Aceh Tengah Krisis Air Bersih, Puluhan Ton Panen Cabai Membusuk

Amiruddin Abdullah Reubee
23/12/2025 11:15
Hampir Sebulan Terisolasi, 11 Desa di Aceh Tengah Krisis Air Bersih, Puluhan Ton Panen Cabai Membusuk
Warga Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, saat mengambil bantuan yang diangkut helikopter.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

JALAN terjal masih harus ditempuh oleh korban banjir besar Sumatra, terutama di Aceh, agar kehidupan mereka bisa segera pulih. Sementara itu, penanganan dari pemerintah pusat maupun daerah masih belum memadai.

Bagaimana tidak, hingga hari ke-27 setelah bencana dahsyat itu meluluh lantakkan Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, masih banyak korban terdampak berjuang hidup di tengah serba keterpurukan. Berbagai kebutuhan pokok seperti beras dan air bersih masih langka, insfrastruktur jalan atau jembatan masih rusak berat, hingga roda perekonomian warga lumpuh.

Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Senin (22/12) di Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, sebanyak 11 desa dari 16 desa setempat masih terkurung atau tertutup akses jalur darat. Yakni arus keluar masuk kenaraan roda dua dan empat lumpuh karena badan jalan dan jembatan putus dihantam banjir pada 26-27 November lalu.

Jaringan pipa air bersih desa atau milik pribadi bersumber dari pegunungan sekitar porak-poranda dihantam longsor dan diterjang air bah. Belum lagi sumur warga yang juga hancur atau tertimbun lumpur dan sendimen sampah banjir.

"Mengharap sumber air alur-alur di lembah gunung juga masih berlumpur. Air sungai juga keruh sangat pekat bau lumpur. Kadang warga harus menadah air hujan atau terpaksa juga mengambil dari alur di celah bukit," kata Arifin, Camat Rusip Antara, kepada Media Indonesia, Senin (22/12).

Merespons kondisi kesulitan itu, Anggota DPR RI asal Aceh M Nasir Djamil bersama lintas komunitas mobil Land Rover dan Motor Trail Aceh, turun menembus longsor melalaui Jalur Geumpang, Kabupaten Pidie-Pameue, Aceh Tengah. Setelah menempuh perjalanan sekitar 300 km dari Banda Aceh dengan mengarungi lumpur serta membelah longsor lereng pengunungan hutan rimba, baru sampai di Kecamatan Rusip Antara.

Sesampainya di Rusip Antara anggota DPR RI itu baru tahu dengan persis ada 11 desa dalam Kemukiman Cinta Harapan, terkepung akibat banjir yang sudah hampir sebulan lalu. Di antara 11 lokasi yang terkurung itu adalalah Desa Rusip, Pantan Tengah, Karawang, Atu Singkih, Pantan Bener, Pilir Jaya, Pilir Wih Kiri, Tirmi Ara, Mekar Ayu, Aril Pertik, dan Desa Pilar.

"Mereka terkurung. Sedikitnya 52 titik badan jalan ambles deterjang arus banjir, tertimbun longsor lereng gunung, jembatan putus oleh derasnya arus sungai. Sekitar 100 tiang listrik tumbang, lampu PLN hingga sekarang padam total, jaringan internet lumpuh sama sekali. Untuk membuktikan sesungguhnya, malam saya tidur di posko tenda darurat relawan lintas komunitas. Ternyata sungguh-sungguh pahit penderitaan mereka," tutur Nasir Djamil dengan suara tinggi.

Dikatakan Nasir, ia juga berencana menyusuri lokasi yang sebelumnya adalah perkampungan. Beberapa perkampungan memang lenyap dihantam banjir bandang dan kini hanya tersisa lumpur dan sampah kayu yang ikut terbawa arus. Sudah masuki pekan ke-4 pascabanjir, sebagian petani mengaku hasil panen cabai rawit, cabai nano dan cabai merah dari kebun sulit dijual.

Hasil panen yang biasanya dibeli oleh tengkulak atau agen luar, sekarang tidak satupun sampai ke lokasi biasanya mereka berkumpul. Padahal sebelumnya hasil produksi cabai setempat dipasok untuk menutupi kebutuhan pasar lokal Aceh dan Medan, Sumatra Utara.

Karena merasa iba melihat kesungguhan petani yang sedang musim panen raya, lalu pupus harapan mereka akibat banjir bandang. Spontan saja wakil rakyat asal Berureunuen, Pidie, itu memborong semua cabai baru panen itu. Tujuan adalah agar terbantu perekonomian petani untuk menyambung hidup keluarga dan biaya pendidikan anaknya di tengah bencana banjir.

"Saya borong semuanya cabai milik warga, nanti kami bawa ke Banda Aceh mungkin ada manfaatnya. Karena petani di sini tidak tahu lagi harus bawa ke mana hasil panennya," tutur Nasir Jamil sambil menyemangati para petani di Kemukiman Cinta Harapan, sebuah kawasan 11 desa terkurung di Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah.

Di tengah kondisi sangat sulit hampir satu bulan ini, Nasir Djamil berharap pemerintah segera membangun kembali atau memperbaiki akses jalan ke Rusip Antara dan Kecamatan Silih Nara. Ini merupakan harapan masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian seperti cabai, kopi gayo dan lainnya.

"Insya Allah dengan terbangunnya kembali ekses jalur darat, harapan baru memulihkan ekonomi warga di sana segera membaik," tambahnya.

Tokoh muda masyarakat Kecamatan Rusip Antara, Zainal Abidin, mengatakan di lembah-lembah bukit nan subur kawasan itu ada ratusan hektare lahan cabai yang ditanam tumpang sari bersama kopi gayo. Sekarang lahan cabai milik petani itu sedang musim panen raya.

Akibat banjir besar yang meluluhlantakkan ratusan rumah mereka, sebagian petani menunda panen. Lebih ironis lagi sebagian besar di antaranya dibiarkan membusuk di batang. Sebagian lagi membusuk berkarung-karung karena tidak bisa didistribusikan akibat badan jalan terputus.

"Ada juga yang berusaha menembus longsor menuju pasar Geumpang, Kabupaten Pidie, ke arah Beutong, Kabupaten Nagan Raya atau Takengon, Aceh Tengah. Itu separuh jalan harus memanggul jalan kali sampai 10 km.
Ternyata sampai di sana sebagian sudah patah-patah. Harganya pun paling Rp10.000/kg. Itupun warga menempuh jarak paling jauh dan sulit. Harapannya saat pulang bisa membawa bahan makanan untuk keluarga," tutur Zainal yang akrab dipanggil Jernang.

Sesuai penuturan Camat Arifin, hasil produksi cabai di Kecamatan Rusip Antara dan tetangganya Kecamatan Silih Nara, pada musim panen kali ini sekitar 5 hingga 10 ton/hari. Akibat bencana banjir petani merugi, karena tidak ada agen yang masuk. (MR/E-4) 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik