Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Sudah 26 Hari Terkurung, Harga Barang di Tanah Gayo Aceh Bertahan Mahal

Amiruddin Abdullah Reubee
21/12/2025 17:40
Sudah 26 Hari Terkurung, Harga Barang di Tanah Gayo Aceh Bertahan Mahal
Warga korban terdampak banjir bandang yang terkurung di Kabupaten Aceh Tengah.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

WARGA dua wilayah di Tanah Gayo, yaitu Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah seperti pasrah dengan keadaan. Sejak kawasan dataran tinggi itu dihantam banjir hampir 4 pekan terakhir, hingga kini warga belum juga keluar dari penderitaan itu. 

Pasalnya setelah daerah penghasil kopi gayo itu terkurung ekses jalur darat dari atau ke kabupaten/kota lain di Provinsi Aceh, kini terus didera sulitnya posokan barang. Lebih parah lagi warga korban bencana di dua kabupaten bertengga yang kini terpuruk ekonomi tersebut terhimpit lagi dengan harga barang melambung.

Sesuai penelusuran Media Indonesia, hingga hari ke-26 bencana banjir besar Sumatra, Minggu (21/12) harga berbagai bahan pokok masih sangat mahal. Harga beras misalnya masih bertahan tinggi pada kisaran Rp350.000 hingga Rp400.000/sak ukuran 15 kg. Padahal harga standarnya sekitar Rp200.000 hingga Rp225.000/sak.

Lalu harga gula pasir curah dari harga standar Rp18.000/kg, setelah kawasan itu terkurung naik menjadi Rp25.000 hingga Rp35.000/kg (tergantung si penjual/pengecer). Harga telor ayam Ras juga masih cukup tidak bersahabat yaitu Rp140.000/papan (30 butir). 

Lalu disusul harga minyak goreng merek bimoli klasik 2 liter yang mencapai kisaran Rp65.000. Padahal harga standarnya hanya Rp39.000/2 liter (satu kemasan). Begitu juga harga minyak goreng spesial yang melambung hingga Rp95.000/2 liter. 

Tidak berhenti di situ saja, kenaikan luar biasa itu juga harga BBM jenis pertalite berkisar pada Rp25.000 hingga Rp30.000/liter (pada pengecer tidak resmi. Bahkan pada pekan lalu sempat naik berkisar Rp50.000 hingga Rp70.000/liter.

"Kami di sini terkurung, harga barang mahal. Bertahan di sini sulit, sebagian perantau mulai pulang ke kampung asalnya walau harus keluar menempuh jalur darurat dalam rimba hingga 13 jam," kata Jamalul Hakim, warga asal Kabupaten Pidie, yang merantau di kota kecil Pondok Baru, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, kepada Media Indonesia, Minggu (21/12). 

Tingginya harga itu akibat angkutan jalur darat dari luar kabupaten menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah lumpuh. Itu setelah diterjang banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan jembatan serta badan jalan hancur atau terputus. 

Pusat Agribisnis

Budayawan Aceh M Adli Abdullah mengatakan, lima jurusan jalur yang menghubungkan Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan kabupaten lain, merupakan nadi perekonomian warga setempat. Karena daerah berjulukan Nanggroe Putroe Bunsu (Puteri Bungsu) itu berada di tengah pengunungan rimba belantara. 

Namun, lokasi itu daerah penghasilan hasil bumi melimpah ruah. Di atasnya adalah puluhan ribu hektare lahan kopi gayo, kakao, tebu, dan berbagai jenis sayuran seperti kentang, wortel, kol, brokoli, bawang prei, tomat dan lainnya. 

Percepatan pembangunan kembali jalur ke daerah itu berarti mempercepat pemulihan ekonomi Aceh. Di dataran dua kota dingin itu menyimpan kekayaan wisata bahari danau laut tawar dan lokasi kunjungan liburan alam lainnya. Bukan saja menyelamatkan masyarakat warga Tanah Gayo, memulihkan wilayah itu juga mempertahankan perkembangan ekonomi masyarakat Aceh secara umum. 

"Selain hasil dari Aceh Tengah dan Bener memenuhi kebutuhan pasar lokal dan nasional, juga ada ribuan perantau luar daerah yang mengadu nasib di Tanah Gayo," tambah Adli Abdullah yang juga dosen di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. (MR/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik