Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
TIM Ekspedisi Kayak Laut Flores dari Wanadri Indonesia, Selasa (15/8) sore sekitar pukul 17.30 WITA menepi di Pantai Marapokot, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah menempuh perjalanan hampir 35 km dari Pulau Rutong, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.
Di Marapokot, anggota tim yang berjumlah 6 orang dan dipimpin Yoppi Rikson itu langsung mendaratkan kayaknya di Pantai Marapokot di area pos TNI Angkatan Laut (TNI-AL) dan disambut sejumlah anggota TNI-AL, Pemda Nagekeo, dan Komunitas Pecinta Bakau Maro.
Marapokot - Nagekeo ini menjadi etape ke-8 setelah Tim Ekspedisi Kayak Flores memulai penjelajahan dari Labuan Bajo pada 7 Agustus 2023.
Baca juga : Festival Kopi Media Indonesia Angkat Keunggulan Kopi Konservasi Nusantara
Tim yang berjumlah 6 orang ini salah satunya adalah perempuan bernama Ayu Laksmi atau biasa disapa Moli.
Menurut salah satu anggota tim, Priyo Utomo, kesulitan yang mereka hadapi selama ini adalah karena mendayung melawan arah angin dengan angin sedang bertiup dari Timur ke Barat sedangkan mereka sedang mengarah ke Timur lewat pesisir utara Pulau Flores.
"Karena musim sekarang angin bertiup dari Timur jadi harus melawan arah angin karena kita bertolak dari Barat ke Timur. Tapi memang kita sudah riset melihatnya dan memperhitungkan, karena untuk wilayah Flores selatan ketika angin sudah kembali ke arah Barat kita akan dipermudah berhubung pantai selatan pasti punya tantangan yang besar terutama gelombangnya, " kata lelaki yang berpengalaman dalam Kayak Laut di 3 Taman Nasional Indonesia dan 2 Geopark UNESCO selama 10 tahun terakhir.
Baca juga : Kisah Janda Miskin Penganyam Tas Pandan Jokowi, Ikhlas Tak Dibayar
Menurut Priyo, setelah melakukan perjalan dari Labuan Bajo dan sampai di pesisir utara Nagekeo ini, ia dan tim cukup tercengang dengan keindahan dan eksotika pesisirnya terutama landscape yang masih terjaga keasliannya.
"Ada di bagian barat setelah kami lewat dari jauh kami melihat ada mesjid dengan kubah 3 yang kebanyakan mungkin di daerah lain sudah punah. Nah itu semacam pas lebih menyatu dengan landscape-nya atau pemandangannya. Ada yg kering namun indah dan saya lihat di Indonesia sudah jarang ada yang demikian, " ungkap pria yang juga ikut mendirikan
komunitas Kayak Laut pertama di Indonesia, Sea Kayak Indonesia, pada 2014.
Selain itu, menurut Priyo, kayak laut ini dipilih sebagai sarana untuk ekspedisi karena lebih efisien dan lebih mendetail. Mungkin untuk ekspedisi laut antara lain mungkin dengan berlayar, namun kayak laut akan lebih mendetail dimana dengan kayak akan lebih dekat dengan pesisir dibandingkan dengan kapal layar.
Baca juga : Flores Sea Kayak Expedition, Mendayung 58 hari Mengitari Pulau Flores
"Ada beberapa tempat dekat pesisir yang lebih dangkal kami bisa melihat koral-koral yang masih indah terawat. Nah kalau dengan kapal layar pasti tidak akan bisa karena harus butuh perahu yang lebih kecil lagi untuk menjangkau pesisir sehingga kami bisa melihat ekosistem pantainya atau ekologi yang seperti apa, lewat kayak ini lebih efisien dibanding sisir pantai. Lewat darat. Kita bisa sampai ke titik-titik yang tidak bisa dicapai oleh kapal besar dan tim darat. Tujuan besarnya agar kita bisa mendapat data kondisi pesisir, keadaan ekologis sosiologis, dengan rinci," ungkapnya.
Priyo menambahkan Wanadri memiliki banyak program untuk menjaga lingkungan ini. Perjalanan seperti kayak laut ini mereka akan melihat dan memantau kondisi pesisir.
"Di pesisir, kita memantau banyak hal dari secara alam kita bisa melihat misalnya coral bleaching atau koral yang mati, kondisi kebersihan laut, secara sosiologis kita nginap di desa nelayan, misalnya permasalahan jaringan, dan kita bisa banyak mendapat masukan segala keterbatasan sehingga perlu dan harus di bantu dari orang pusat dan perhatikan dari ketersedian fasilitas dan lain sebagainya. Kami melakukan ekspedisi ini terasa sekali faktor observasi kita dapat data yang faktual. Karena kita jangkau di sisi daerah yang mungkin tidak mudah dijangkau oleh pemerintah setempat sehingga kita membantu kepentingan publik dari situ," imbuhnya.
Baca juga : Etu, Pertarungan untuk Air Hujan di Nagekeo
Sedangkan, menurut Moli, ekspedisi kayak ini yg pertama di Flores. Ke depannya, mereka akan mengelilingi pulau-pulau besar di Indonesia. Flores dipilih karena punya jarak pesisir sekitar 1000 km, sehingga
sekalian menjadi riset bagaimana berkayaking di tropical terutama di Indonesia dan dari hasil riset itu kemudian akan dipakai ke pulau-pulau besar lainnya baik teknik skill dan sebagainya.
"Saya ikut tim karena saya suka aktivitas laut. Kami dari Wanadri Bandung memang ada program ekspedisi petualangan salah satunya adalah Dayung Jelajah Nusantara, jadi karena saya suka laut dan intinya saya juga mewakili perempuan Indonesia bahwa olahraga petualangan, perempuan juga bisa melakukan atau punya kesempatan yang sama dengan laki-laki, " pungkasnya.
Tim Ekspedisi ini akan menginap 2 malam di Pos TNI-AL Mbay untuk recovery atau pemulihan kondisi fisik lalu melanjutkan penjelajahan pada 17 Agustus pagi. (Z-1)
PULUHAN siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) di Pilau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menempuh proses belajar di gedung yang rusak parah.
Dunia usaha di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan optimisme kuat memasuki awal 2026, seiring meningkatnya investasi dan membaiknya aktivitas ekonomi pada akhir 2025.
BMKG tetapkan status SIAGA hujan ekstrem di NTT dan hujan sangat lebat di Jawa pada 19 Januari 2026 akibat Siklon Nokaen dan dua bibit siklon.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenot'ek, mengatakan, saat ini Bibit Siklon Tropis 97S yang berada di wilayah utara Benua Australia
ANCAMAN longsor dan fenomena tanah bergerak terus menghantui warga Kampung Waso, Desa Golo Rentung, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
PEMERINTAH Kota Kupang kembali menorehkan prestasi gemilang dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Jumlah kasus meningkat karena masifnya sosialiasasi dan pendampingan tim UPTD PPA sehingga korban berani melaporkan tindak kekerasan yang dialami.
Pemerintah mempercepat rehabilitasi infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang yang terjadi pada 8 September lalu dengan memprioritaskan perbaikan jalan dan jembatan.
BPBD mencatat total kerugian akibat banjir dan longsor di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditaksir mencapai Rp90, 69 Miliar.
Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan komitmen Pertamina dalam mendukung masyarakat, terutama ketika menghadapi situasi darurat bencana.
Tim terus berupaya mencari korban yang masih hilang dengan mengerahkan tiga unit ekskavator untuk menggali material banjir serta drone thermal untuk pemantauan udara.
“Ketiganya ditemukan di bawah reruntuhan rumah mereka yang belum sepenuhnya tersapu banjir,”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved