Selasa 08 Maret 2022, 14:43 WIB

Partai Lokal Manfaatkan Aneuk Syuhada Menuju Pilkada 2024

Siswantini Suryandari | Nusantara
Partai Lokal Manfaatkan Aneuk Syuhada Menuju Pilkada 2024

Dok Pribadi
Presiden Achehnese Australia Association (AAA) sekaligus Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Independen, Tengku Sufaini Syekhi

 

PRESIDEN Achehnese Australia Association (AAA) sekaligus Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Independen, Tengku Sufaini Syekhi menilai semua pihak sudah abai terhadap hasil kesepakatan bersama perjanjian Helsinki.

Menurut Syekhi yang merupakan mantan GAM, MoU ini adalah perjanjian bersama yang menjadi solusi penyelesaian konflik selama ini. Namun sayangnya para petinggi di Aceh, khususnya beberapa elit politik GAM mengambil kesempatan itu untuk dijadikan sebagai komoditas politik.

GAM pada awalnya adalah memerdekan diri dengan cara memisahkan diri dari NKRI. Tapi dengan adanya perjanjian Helsinki, semua itu sudah hilang. Sebab MoU Helsinki ini sudah jelas memasukkan Aceh sebagai bagian dari NKRI bukan lagi Aceh yang merdeka,

baca juga: Kenduri Kebangsaan Momentum Memajukan Aceh

Syekhi mengkritik menjelang pemilihan gubernur 2024, sejumlah tokoh di Aceh menggaungkan lagi isu GAM dengan menyeret ana-anak yatim GAM tergabung dalam Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) seperti dilakukan oleh Muzakir Manaf, petinggi GAM untuk merebut suara rakyat lewat partai lokal.

"Partai lokal harusnya menyampaikan secara terbuka dan transparan kepada warga Aceh, sehingga warga Aceh bisa mengambil sikap untuk membangun Aceh. Jangan sampai dari semua pihak ini tidak bisa maju untuk tampil atau mengisi posisi Gubernur dan Bupati, sementara yang ditampilkan adalah orang-orang yang tidak memiliki kapasitas," tegasnya.

Syekhi menambahkan ada indikasi keluarga besar GAM terutama anak-anak dan para inong bale direkrut masuk ke partai lokal dengan misi jangka panjang Aceh bisa merdeka atau lepas suatu hari nanti dari NKRI.  Setiap ada momen politik seperti pilkada dan pemilu, perjanjian Hensinki tersebut selalu dikatakan belum selesai.

"Partai lokal memberi pemahaman kepada mereka MoU sebagai salah satu pintu masuk GAM bisa merdeka. Sementara pemahaman GAM independen, dengan adanya MoU berarti GAM sudah melebur kedalam NKRI dan kehadiran partai lokal  berarti tunduk pada UU politik/pemilu," pungkasnya. (RO/N-1)

Baca Juga

DOK Pribadi.

Hub.id Accelerator 2022 di Makassar Akselerasi Startup Indonesia Timur

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 06 Juli 2022, 10:45 WIB
Kota Makassar menjadi salah satu kota yang dikunjungi dalam moment roadshow kali ini setelah Yogyakarta, Medan, Surabaya, Bandung,...
ANTARA/Bayu Pratama S

Basarnas Ukur Potensi Bahaya Kawasan Bendungan Tapin

👤Denny Susanto 🕔Rabu 06 Juli 2022, 10:41 WIB
Keberadaan Bendungan Tapin, yang belum lama ini diresmikan Presiden Joko Widodo, menjadi perhatian utama dalam hal antisipasi dan...
MI/Palce Amalo

Di 2023, Pemkab Garut Targetkan Stunting Maksimal 14 Persen

👤Adi Kristiadi 🕔Rabu 06 Juli 2022, 10:15 WIB
PEMKAB Garut, Jawa Barat menargetkan angka stunting tahun depan (2023) maksimal berada di angka 14...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya