Senin 25 Oktober 2021, 12:03 WIB

Penyandang Disabilitas Berdaya Jadi Pemasar di Dunia Maya

Lilik Darmawan | Nusantara
Penyandang Disabilitas Berdaya Jadi Pemasar di Dunia Maya

MI/Lilik Darmawan
Kunjungan pejabat Kemendag ke Mutiara Handycraft Kebumen, Jawa Tengah

 

RENDAH diri pernah dialami oleh Sutarno, 38, warga Desa Karangbolong, Kecamatan Buayan, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng). Sebagai penyandang disabilitas, apalagi kondisi ekonomi tidak mampu, Sutarno tidak percaya diri ketika harus berhadapan dengan orang. Pelan-pelan tapi pasti, cerita itu telah menjadi masa lalu. Atas dorongan Irma Suryati, dia kini menjadi salah satu tulang punggung pemasaran UMKM Mutiara Handycraft.

Irma yang juga seorang difabel sejak beberapa tahun silam sengaja mengumpulkan para penyandang disabilitas untuk bergabung dalam usaha miliknya.

Ketika pandemi terjadi, usaha Mutiara Handycraft dengan produk utamanya keset mengalami kesulitan. Hal itu tentu saja berdampak pada perajin yang menjadi mitra kerjanya. Pasar menjadi guncang, apalagi pemasaran langsung mengalami kesulitan akibat pembatasan-pembatasan. Pada pandemi itulah, kemudian muncul ide untuk memperluas pasar secara daring. Penyandang disabilitas yang tidak mampu membuat keset punya andil sebagai pemasaran online.

"Sampai sekarang saya memasarkan produk-produk dari Mutiara Handycraft melalui media sosial. Baik itu Instagram, Facebook, WA hingga TikTok. Semuanya saya coba. Masa pandemi justru mendorong pemasaran melalui dunia maya, karena ada pembatasan-pembatasan dengan kebijakan PPKM. Inilah kesempatan untuk saya bisa memasarkan produk tanpa ke mana-mana. Cukup melalui handphone," jelas Sutarno saat berbincang dengan Media Indonesia, Minggu (24/10).

Kini, Sutarno dapat memasarkan produk dari Mutiara Handycraft ke mana-mana tanpa harus pergi ke mana-mana. "Dalam sebulan omsetnya bisa mencapai Rp4 juta. Saya tidak sendiri, karena dibantu juga pemasarannya dengan saudara-saudara saya. Alhamdulillah, meski pada masa pandemi, masih memperoleh hasil lumayan," katanya.

Pemilik Mutiara Handycraft, Irma Suryati, mengakui ketika pandemi berlangsung sejak awal Maret 2020, usahanya terjun bebas. Ketika
pandemi datang, omset turun tajam hingga 50%. Bahkan, untuk mendapatkan bahan baku dari pabrik-pabrik saja susah, karena mereka juga terkena dampak dan banyak yang tutup,"ungkapnya.

Untuk dapat bertahan, ia memutar otak. Kebetulan ada seorang sahabat yang meminta supaya membuat masker. Ketika awal pandemi, masker menjadi satu barang yang sulit diperoleh.

"Atas ide itulah, saya mencoba-coba membuat masker. Tidak terlalu sulit, apalagi sebelumnya sudah terbiasa menjahit keset. Dari situlah, saya juga mengajak penyandang disabilitas dan ibu-ibu untuk membuat masker. Jumlah perajin yang ikut serta sekitar  1.000, belum termasuk UMKM yang tersebar di Kebumen, Banyumas, Solo, Boyolali, Magelang dan Semarang," jelasnya.

Rezeki mulai mengalir. Bahkan, kemudian ada yang memasan 100 ribu buah masker. "Jelas saya sangat bergembira, karena secara otomatis para penyandang disabilitas, ibu-ibu rumah tangga dan UMKM yang menjadi teman bisnis juga akan mendapat rezeki. Alhamdulillah, pemesanan bisa dilaksanakan dengan baik," ungkapnya.

Meski demikian, Irma mengaku omset sebelum pandemi masih jauh lebih tinggi kalau dibandingkan dengan pada masa Covid-19. Demikian juga dengan ongkos untuk para perajin baik penyandang disabilitas maupun para ibu rumah tangga.

"Kalau membuat keset, ongkos jahitnya bisa mencapai Rp15 ribu, namun jika menjahit masker Rp600 per buah. Tetapi tidak masalah, karena
 kondisinya memang lagi prihatin. Kami bersama-sama ingin menghargai sekecil apapun pendapatan. Alhamdulillah, mereka juga masih tetap semangat. Sebab, pembuatan masker tidak serumit mengerjakan keset. Apalagi satu hari satu orang bisa menghasilkan ratusan masker," lanjutnya.

Jiwa Sosial

Bagi Irma, omset yang terjun bebas, tak membuat jiwa sosialnya berubah.Sejak terjun sebagai wira usaha, Irma sudah berjanji untuk menyumbangkan sebagian pendapatan guna kemaslahatan bersama. "Sejak tahun 2002 silam, ketika menekuni kerajinan keset, saya menyisihkan 20% pendapatan untuk sosial. Bahkan pada saat omset turun sekalipun. Bagi saya, ini sesuatu hal yang harus tetap dilaksanakan. Tentu, nilainya akan menyesuaikan  dengan jumlah omset dan keuntungan,"katanya.

Dia mengatakan bahwa tidak hanya merekrut difabel yang masih dapat bekerja secara fisik seperti menjahit keset dan kini masker. Tetapi, dia juga tetap mempedulikan setidaknya 300 penyandang disabilitas yang memang sulit untuk bekerja karena keterbatasan fisiknya.

"Di sekitar Kebumen, ada 300 difabel yang memang sulit bekerja. Mereka tidak dapat menjahit. Saya memiliki kewajiban untuk mempedulikan mereka," ujarnya.

Setiap bulannya, setidaknya Rp15 juta untuk membantu kaum difabel.Wujudnya macam-macam, seperti sembako dan uang. "Kalau kondisi labanya merosot, maka penyaluran bantuan juga mengalami penurunan. Karena itulah, sebisa mungkin, saya harus berusaha untuk mendatangkan laba. Paling minimal saya menyalurkan Rp15 juta, tetapi rata-rata antara Rp20 juta hingga Rp50 juta setiap bulannya," ungkap Irma.

Tugas lain Irma adalah memberikan motivasi difabel agar dapat mandiri dalam bekerja. Ia sadar, tidak semua penyandang disabilitas mampu
menjahit karena keterbatasan secara fisik. Tetapi, pada masa pandemi jutsru ada ide yang muncul. Mereka diberdayakan menjadi pemasar digital.

"Inilah pemberdayaan kepada difabel dalam bentuk lain, yakni menjadikan mereka sebagai tenaga pemasaran di dunia maya," jelasnya.

Medsos Pribadi dan Marketplace

Menurut Irma, dari 300-an penyandang disabilitas yang tidak dapat menjahit, kini 32 di antaranya telah berdaya menjadi pemasar
produk-produk Mutiara Handycraft melalui media sosial. "Ada yang lewat akun media sosial pribadi seperti Facebook, Instagram, TikTok hingga WA Selain itu, ada juga difabel yang memasarkan melalui marketplace. Salah satu marketplace yang cukup dikenal oleh mereka adalah Tokopedia. Sejauh ini, cukup baik pemasaran melalui marketplace," katanya.

Irma mengaku agak menyesal, karena terlambat menyadari kalau sebetulnya difabel yang karena alasan fisiknya tidak dapat menjahit, masih tetap berdaya dengan menjadi pemasar di dunia maya.

"Saya agak menyesal, karena baru terlambat menyadari, kalau sesungguhnya penyandang disabilitas bisa diberdayakan untuk tenaga pemasaran di dunia maya. Hingga kini, ada 32 difabel yang aktif memasarkan. Saya juga bangga kepada mereka, karena yang tidak dapat menjahit, bisa bekerja di bidang lainnya. Salah satu yang cukup berhasil adalah Mas Sutarno. Omsetnya sudah lumayan dengan pemasaran digital," terang Irma.

Di saat pandemi mulai berangsur-angsur landai, usaha di Mutiara Handycraft semakin menggeliat. Bahkan, sudah ada pesanan dari Jepang dan pasar domestik juga mengalami lonjakan.

"Kami baru saja mendapat order dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupa suvenir dan masker. Jumlahnya mencapai 1.000 buah dan dibawa ke Dubai Expo 2021. Dalam pembuatan suvenir ini, kami melibatkan para difabel juga. Kalau dengan Jepang, kami mendapat kontrak untuk membuat sarung tangan khusus. Tetapi, para perajin harus diberi training terlebih dahulu. Kontrak awal ada 1.600 pasang sarung tangan. Harganya cukup mahal, karena sepasang sarung tangan Rp750 ribu. Sekarang, kami masih persiapan," papar Irma.

baca juga: UMKM Sumsel Mulai Adaptasi Dengan Platform Digital

Di pasar domestik, pihaknya melayani kebutuhan keset, dan produksinya diperkirakan 20 ribu per bulan. Harganya berkisar antara Rp5 ribu hingga Rp45 ribu. "Kini, sudah ada senjata baru yakni pasukan siber yang siap ikut memasarkan melalui marketplace maupun media sosial
lainnya," tandasnya.

Digitalisasi ternyata tidak hanya memudahkan pemasaran dan memperluas jangkauan. Bagi kaum disabilitas, digitalisasi UMKM menjadi lahan baru pekerjaan bagi mereka. Meski ada kekurangan fisik, namun mereka bisa berdaya lewat dunia maya. (N-1)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/wsj.

Jadi Hub Internasional, Bandara Kualanamu Siap Bersaing dengan Changi dan KLIA

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 07 Desember 2021, 09:49 WIB
Bandara Internasional Kualanamu sebagai bandara penghubung internasional (hub) terkemuka di kawasan regional dengan target 54 juta orang...
Ist/BP Batam

BUBU Hang Nadim Gelar FGD untuk Kembangkan Potensi Kawasan Bandara

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 07 Desember 2021, 09:40 WIB
FGD ini diikuti 55 peserta dari delegasi unit kerja di lingkungan BP Batam yang terlibat dalam mengelola kawasan logistik dan aerocity...
MI/Dwi Apriani

Yayasan Pertiwi Indonesia Salurkan 30.000 Vaksin di Sumsel

👤Dwi Apriani 🕔Selasa 07 Desember 2021, 09:26 WIB
YAYASAN Pertiwi Indonesia bersama Bursa Efek Indonesia telah menyalurkan 30.000 vaksin Covid-19 ke tiga kabupaten di Sumatra...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya