Jumat 05 Maret 2021, 19:52 WIB

Ahli Apraisal Taksir Kerugian Skandal Mafia Tanah di Desa Merdeka

Alexander P. Taum | Nusantara
Ahli Apraisal Taksir Kerugian Skandal Mafia Tanah di Desa Merdeka

MI/Alexander PT
Penyidik Kejari Lembata bersama ahli Apraisal dan BPN Lembata Menghitung nilai tanah dalam kasus korupsi, Jumat (5/3)

 

TIM Penyidik Kejaksaan Negeri Lembata, Nussa Tenggara Timur, secara marathon melakukan serangkaian penyelidikan atas kasus dugaan mafia tanah di Desa Merdeka.

Setelah memeriksa 19 saksi dalam perkara dugaan mafia tanah di Desa Merdeka, kemudian memeriksa kembali 5 saksi dalam tahap penyidikan, salah satunya pengusaha local, Ben Lelaona, Kamis (4/3/2021). Hari ini , Jumat (5/3/2021) Tim Penyidik Kejaksaan Negeri Lembata menghadirkan JM, Ahli Appraisal dari Badan Pendapatan dan Aset Provinsi NTT dan BPN Kabupaten Lembata.

"Hari ini, Tim penyidik Kejari Lembata melakukan serangkaian tindakan Penyidikan dalam Perkara Dugaan Tindak Pidana korupsi, Penyalahgunaan Tanah Desa Merdeka, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata Tahun 2018/2019," ujar Kasi Intel Kejaksaan Negeri Lembata, Yusuf Kurniawan Abadi,SH.

Ahli appraisal dari Badan Pendapatan dan Aset Provinsi NTT berinisial JM, diminta untuk menaksir nilai property, pemberian angka serta penilaian objek tanah yang di dalam Perkara Dugaan Tindak Pidana korupsi, Penyalahgunaan Tanah.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Lembata (Kajari) Lembata, Ridwan Angsar menegaskan, kasus mafia tanah di Desa Merdeka, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, NTT merupakan salah satu kasus prioritas yang akan ditangani sampai tuntas.

Kasus dugaan penjualan tanah yang menjadi asset Desa tersebut menyeruak setelah Kepala Desa Merdeka, Rus Wahon menghibahkan tanah seluas 5 Ha, kepada pengusaha local, Benediktus Lelaona, untuk keperluan pembangunan tambak udang. Tambak udang itu sendiri, hingga saat ini tidak dapat beroperasi meskipun telah dibangun.

Kini kasus tersebut telah dinaikan ke tingkat penyidikan, namun belum ada tersangka dalam kasus tersebut. Hingga saat pihak penyidik telah memeriksa belasan saksi dalam kasus dugaan mafia tanah tersebut.

"Ini tahap penyidikan artinya sudah mengarah ke tersangka. Tahap penyidikan ini adalah tahapan mengumpulkan bukti dan keterangan guna membuat terang suatu kasus dan menemukan tersangka. Prinsipnya ada bukti menunjukan ada Tindakan pidana," ujar dia.

"Saya tetap harus meluruskan apa yang tidak lurus. Saya Wasit. Penyidikan ini merupakan tanggungjawab saya sebagai orang NTT. Kalau tidak mulai dari daerah kita sendiri, kita akan terpuruk terus," tanda Ridwan Angsar. (OL-13).

 

Baca Juga

Ist

Kabupaten Paser, Kaltim Memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 12 April 2021, 13:11 WIB
Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Kideco terus berupaya mendukung berbagai kebijakan pemerintah Indonesia yang berkaitan...
MI/Yose Hendra

Balimau di Masjid, Tradisi Silaturahim Ramadan di Agam

👤Yose Hendra 🕔Senin 12 April 2021, 11:52 WIB
Masyarakat Nagari Kampuang Pinang, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, gelar balimau dengan cara menjalin silaturahmi di masjid...
MI/Dok Humas Riau

Pariwisata Riau Kembali Bangkit

👤Rudi Kurniawansyah 🕔Senin 12 April 2021, 11:38 WIB
Setelah terpuruk akibat covid-19, Pemprov Riau membangkitkan lagi sektor pariwisata  dengan meluncurkan Calendar of Event (CoE)...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Modal Bikin Bank Baru kian Besar

 Di ketentuan RPOJK Bank Umum, bagi perbankan yang baru mau berdiri, diwajibkan memenuhi modal inti Rp10 triliun, termasuk untuk pendirian bank digital.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya