Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
JARUM jam menunjukkan pukul 06.00 Wib. Setelah salat subuh, Ibtisam Luthfia bergegas mempersiapkan berbagai barang kelengkapan belajar. Dia tidak lupa memasukkan oleh-oleh, sebuah kado yang terbungkus sangat rapi. Siswi berusia 9 tahun dan duduk di kelas IV SD Negeri Desa Neulop, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, ingin pergi ke sekolah lebih awal. Luthfia akan mengikuti upacara Hari Guru bersamaan memperingati HUT PGRI ke-74 yang digelar 25 November 2019.
Upacara bendera yang berlangsung sekitar pukul 08.00 Wib di halaman sekolahnya SD Negeri Desa Neulop tersebut berbeda dari biasanya. Kali ini pasukan pengibar bendera Merah Putih, dirigen lagu Indonesia raya, pembaca teks Proklamasi dilakukan oleh para guru.
Murid hanya menjadi peserta upacara. Perbedaan ini sengaja dilakukan berkaitan dengan peringatan Hari Guru dan HUT PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) ke-74.
"Saya mau datang lebih awal supaya bisa melihat seluruh proses upacara bendera yang seluruhnya dilakukan oleh bapak dan ibu guru," kata Ibtisam Luthfia yang sejak kelas I SD meraih ranking pertama di kelasnya.
Luthfia, sehari sebelumnya telah berdiskusi dengan sang ibunya Nurbaiti. Dia mengutarakan rencananya, ingin memberikan hadiah atau kado kepada guru kelas. Walaupun isinya sederhana yang penting bermanfaat dan menjadi kenangan menarik untuk sang guru.
"Guru seperti pelita dalam gulita. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa" tambah Ibtisam Luthfia.
Saat proses upacara bendera selesai, semua anak-anak SD di pedalaman Kabupaten Pidie itu bersalaman dengan dewan guru yang berbaris di halaman sekolah. Ibtisam Luthfia dan teman temannya antre menanti giliran bersalaman dengan guru. Sebagian diantaranya memberikan sekuntum bunga kepada guru. Suasana pun terlihat khidmad dan tertib.
Setelah itu para murid dipersilahkan masuk ruangan belajar masing-masing. Di dalam kelas para siswa dan siswi menunggu sang guru masuk. Saat wali kelas tiba di ruangan bersama mereka. Suasana terasa hening sejenak. Kali ini anak-anak satu persatu maju ke depan untuk menemui wali kelasnya secara khusus. Mereka tidak luput mencium tangan guru mereka.
Ketika Ibtisam Luthfia mencium tangan wali kelas IV itu, seraya mengucapkan terima kasih kepada ibu gurunya. Ia langsung menyerahkan sebuah kado berukuran sekitar 30 cm×20 cm dan tebal sekitar 5 cm.
baca juga: Tegal Terima DIPA Rp695,7 M dan Siap Bersinergi dengan Provinsi
"Mama saya seorang ibu rumah tangga yang mengisi hari-hari untuk membantu nafkah keluarga dengan menjahit mukena dan pakaian muslimah bersulaman atau bordier khas Aceh. Isi kado saya untuk ibu guru hanya sebuah celana muslimah bersulaman bordir khas Aceh. Sederhana saja, tentu tidak sebanding dengan apa yang telah guru berikan pada kami" jelas Luthfia, kepada Media Indonesia, Senin (25/11/2019).
Selain Luthfia, banyak murid lainya yang memberikan hadiah atau secuil kenangan di hari guru kali ini. (OL-3)
Program penguatan kualitas lingkungan belajar dan pengembangan kapasitas siswa digelar untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di Jakarta Timur.
PENDIDIKAN dasar dan menengah merupakan fondasi utama bagi masa depan sebuah bangsa.
PENDIDIKAN bisa jadi merupakan salah satu konsep dan aktivitas yang paling kompleks serta multidimensional dalam sejarah manusia.
BAGAIMANA pendidikan dapat tetap berjalan ketika banjir merenggut kelas, fasilitas, bahkan rasa aman?
Institusi pendidikan tidak boleh sekadar menjadi penonton di tengah dinamika dunia yang bergerak cepat.
Universitas Pembangunan Jaya menggelar seminar internasional membahas peran AI dalam transformasi pendidikan tinggi bersama akademisi Indonesia, Malaysia, dan Taiwan.
antara niat baik kebijakan dan keterbatasan struktur. Di titik inilah kesejahteraan guru non-ASN menjadi cermin cara negara mengelola tanggung jawabnya sendiri.
FOKUS pemerintah terhadap dunia pendidikan melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kepada guru saat ini sangat luar biasa
Sulianto Indria Putra, melalui komunitas TWS, menginisiasi bantuan finansial dan dukungan materi yang dirancang untuk bersifat jangka panjang, bahkan seumur hidup bagi para guru tersebut.
TIDAK semua keberangkatan dimulai dengan surat tugas. Sebagian justru lahir dari sesuatu yang lebih sunyi, dari panggilan hati yang tidak bisa ditunda.
Dengan 98.036 Guru lulus PPG Batch 4, total guru binaan Kemenag yang telah tersertifikasi hingga saat ini mencapai 659.157 Guru.
Selain berorientasi pada murid, guru sebagai jantung perubahan di ekosistem pendidikan perlu mendapatkan perhatian serius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved