Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Penanganan Banjir Jakarta yang Dinilai Masih Reaktif, DPRD: Belum Ada Terobosan Signifikan 

Mohamad Farhan Zhuhri
08/3/2026 17:55
Penanganan Banjir Jakarta yang Dinilai Masih Reaktif, DPRD: Belum Ada Terobosan Signifikan 
Pengendara mendorong motornya menerobos banjir di Jalan Ciledug Raya, Perukangan, Jakarta Selatan.(MI/RAMDANI)

BANJIR yang kembali merendam ratusan RT di Jakarta setiap kali curah hujan tinggi menunjukkan bahwa persoalan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Bun Joi Phiau mengatakan banjir yang berulang hampir setiap tahun seharusnya sudah dapat diantisipasi dengan sistem pengendalian banjir yang lebih matang.

“Setiap tahun kita selalu mendengar alasan yang sama, yaitu curah hujan tinggi. Padahal hujan deras adalah fenomena yang bisa diprediksi dan seharusnya sudah diantisipasi dengan sistem pengendalian banjir yang matang,” kata Bun saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (8/2).

Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat terobosan kebijakan yang benar-benar signifikan dalam penanganan banjir di Jakarta. Program yang berjalan dinilai masih bersifat reaktif dan rutin.

Ia mencontohkan sejumlah langkah yang selama ini dilakukan, seperti pengerukan saluran, pengoperasian pompa air, hingga normalisasi terbatas di sejumlah titik. 

Upaya tersebut memang penting, namun dinilai belum cukup untuk menyelesaikan akar persoalan banjir yang telah berlangsung puluhan tahun.

“Program-program yang ada masih cenderung bersifat reaktif dan rutin. Langkah seperti pengerukan saluran, pompa air, atau normalisasi terbatas tentu penting, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan akar persoalan banjir Jakarta,” ujarnya.

Politkus PSI itu mempertanyakan apakah Pramoko Anung sebagai Gubernur DKI Jakarta memiliki strategi komprehensif ketika menghadapi curah hujan ekstrem. 

Menurutnya, kota sebesar Jakarta semestinya memiliki sistem drainase modern, kapasitas pompa yang memadai, serta pengelolaan sungai yang terintegrasi.

“Jika setiap hujan besar ratusan RT masih terendam, berarti ada yang belum berjalan optimal,” katanya.

Ia menilai dampak nyata dari berbagai program pengendalian banjir sejauh ini belum terasa signifikan bagi masyarakat. Pola banjir juga disebut masih berulang di titik-titik yang sama hampir setiap tahun.

“Artinya ada indikasi bahwa kebijakan yang dilakukan belum menyentuh solusi jangka panjang,” kata dia.

Oleh karenanya ia mendorong untuk tidak hanya fokus pada penanganan darurat saat banjir terjadi, tetapi juga mempercepat langkah strategis dalam jangka panjang.

“Banjir tidak boleh lagi dianggap sebagai kejadian rutin tahunan. Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang berani mengambil keputusan besar dan terukur, agar setiap musim hujan warga tidak terus-menerus menjadi korban dari masalah yang sama,” pungkasnya. (Far)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya