Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BANJIR yang kembali merendam ratusan RT di Jakarta setiap kali curah hujan tinggi menunjukkan bahwa persoalan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Bun Joi Phiau mengatakan banjir yang berulang hampir setiap tahun seharusnya sudah dapat diantisipasi dengan sistem pengendalian banjir yang lebih matang.
“Setiap tahun kita selalu mendengar alasan yang sama, yaitu curah hujan tinggi. Padahal hujan deras adalah fenomena yang bisa diprediksi dan seharusnya sudah diantisipasi dengan sistem pengendalian banjir yang matang,” kata Bun saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (8/2).
Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat terobosan kebijakan yang benar-benar signifikan dalam penanganan banjir di Jakarta. Program yang berjalan dinilai masih bersifat reaktif dan rutin.
Ia mencontohkan sejumlah langkah yang selama ini dilakukan, seperti pengerukan saluran, pengoperasian pompa air, hingga normalisasi terbatas di sejumlah titik.
Upaya tersebut memang penting, namun dinilai belum cukup untuk menyelesaikan akar persoalan banjir yang telah berlangsung puluhan tahun.
“Program-program yang ada masih cenderung bersifat reaktif dan rutin. Langkah seperti pengerukan saluran, pompa air, atau normalisasi terbatas tentu penting, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan akar persoalan banjir Jakarta,” ujarnya.
Politkus PSI itu mempertanyakan apakah Pramoko Anung sebagai Gubernur DKI Jakarta memiliki strategi komprehensif ketika menghadapi curah hujan ekstrem.
Menurutnya, kota sebesar Jakarta semestinya memiliki sistem drainase modern, kapasitas pompa yang memadai, serta pengelolaan sungai yang terintegrasi.
“Jika setiap hujan besar ratusan RT masih terendam, berarti ada yang belum berjalan optimal,” katanya.
Ia menilai dampak nyata dari berbagai program pengendalian banjir sejauh ini belum terasa signifikan bagi masyarakat. Pola banjir juga disebut masih berulang di titik-titik yang sama hampir setiap tahun.
“Artinya ada indikasi bahwa kebijakan yang dilakukan belum menyentuh solusi jangka panjang,” kata dia.
Oleh karenanya ia mendorong untuk tidak hanya fokus pada penanganan darurat saat banjir terjadi, tetapi juga mempercepat langkah strategis dalam jangka panjang.
“Banjir tidak boleh lagi dianggap sebagai kejadian rutin tahunan. Jakarta membutuhkan kepemimpinan yang berani mengambil keputusan besar dan terukur, agar setiap musim hujan warga tidak terus-menerus menjadi korban dari masalah yang sama,” pungkasnya. (Far)
Anggota Komisi D DPRD DKI Ida Mahmuda desak Pemprov tutup TPS yang ganggu kenyamanan warga. Dukung penutupan TPS Tanah Kusir dan dorong kerja sama swasta untuk fasilitas ITF
Nova menjelaskan bahwa stok komoditas utama seperti beras dan protein hewani telah dikunci untuk jangka menengah.
ANGGOTA Komisi B DPRD DKI Jakarta Francine Widjojo mendesak Pemprov DKI Jakarta melakukan terobosan dalam pengelolaan sampah Jakarta, menyusul insiden longsor Bantargebang.
Kehadiran lift di JPO Sarinah dianggap sebagai solusi konkret untuk memitigasi risiko keselamatan bagi pengguna kursi roda di kawasan padat lalu lintas.
mendukung gagasan agar Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) dikembangkan dan dikuatkan untuk menghidupkan perekonomian rakyat yang riil.
Pada dasarian III Februari 2026, BMKG memprakirakan memprakirakan peluang hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian dengan probabilitas 80 hingga lebih dari 90 persen
CUACA ekstrem akhir-akhir ini memicu curah hujan tinggi yang meningkatkan potensi gagal panen. Pemerintah setempat mulai ancang-ancang mengantisipasi potensi tersebut.
Sedikitnya 100 hektare lahan pembibitan dan tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, puso setelah berhari-hari terendam banjir.
Melihat kondisi cuaca yang masih hujan hingga saat ini, ia juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk ikut serta melakukan modifikasi cuaca.
Sementara itu, cuaca ekstrem berupa angin kencang merusak rumah warga di Bekasi dan Sukabumi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved