Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Penyebab Cuaca Ekstrem Jakarta Pekan Ini: Monsun Asia hingga La Nina

Andhika Prasetyo
14/1/2026 09:07
Penyebab Cuaca Ekstrem Jakarta Pekan Ini: Monsun Asia hingga La Nina
Ilustrasi(Antara)

Memasuki puncak musim hujan pada pertengahan Januari 2026, wilayah DKI Jakarta menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang persisten. BMKG menyebutkan bahwa situasi ini tidak terjadi secara kebetulan. Kondisi cuaca ekstrem Jakarta ini merupakan hasil interaksi beberapa dinamika atmosfer yang aktif secara bersamaan.

1. Penguatan Monsun Asia

Faktor utama adalah menguatnya Monsun Asia yang membawa massa udara basah dari daratan Asia melintasi Laut China Selatan dan Selat Karimata. Aliran angin ini meningkat kecepatannya dan menuju langsung ke arah Pulau Jawa, menciptakan zona pertemuan angin (konvergensi) yang sangat aktif di atas langit Jakarta.

2. La Nina Lemah dan Suhu Laut Hangat

Indeks ENSO saat ini menunjukkan fase La Nina lemah. Meskipun intensitasnya rendah, fenomena ini tetap berkontribusi pada peningkatan suplai uap air di wilayah Indonesia Barat. Kondisi ini diperparah oleh suhu muka laut di sekitar perairan Jawa yang relatif hangat, sehingga mempercepat penguapan dan pembentukan awan konvektif (Cumulonimbus) dan memengaruhi cuaca Jakarta.

3. Aktivitas MJO dan Gelombang Ekuator

BMKG juga mencatat adanya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang sedang melintasi wilayah Indonesia (Kuadran 3 dan 4). Aktivitas ini, bersama dengan Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuator, memperkuat proses pengangkatan massa udara (konveksi) yang membuat durasi hujan menjadi lebih lama dari biasanya.

4. Tekanan Rendah di Australia

Adanya daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia memicu terbentuknya sirkulasi angin siklonik. Hal ini menyebabkan aliran angin di selatan Indonesia mengalami perlambatan dan penumpukan massa udara basah tepat di atas wilayah Jabodetabek.

Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, mengungkapkan kombinasi dinamika atmosfer skala regional ini saling memperkuat, sehingga meningkatkan potensi terjadinya hujan lebat, kilat, dan angin kencang secara berkelanjutan di Jakarta.

Masyarakat diimbau selalu memperbarui informasi prakiraan cuaca untuk waspada terhadap dampak hidrometeorologi seperti banjir, pohon tumbang, dan genangan air, terutama pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya