Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BEBERAPA waktu lalu, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki mengatakan bahwa saat ini masih marak penjualan pakaian bekas impor di pasaran.
Berangkat dari hal tersebut, berdasarkan pantauan Media Indonesia di Pasar Senen, Jakarta, didapatkan fakta bahwa penjualan pakaian bekas yang berasal dari luar negeri masih marak terjadi.
Seperti halnya Cecep (bukan nama asli), salah satu pemilik toko pakaian di Blok III Kawasan Pasar Senen Jakarta mengakui bahwa pihaknya menjual pakaian bekas impor.
Baca juga : Pemerintah Take Down 40 Ribu Akun Penjual Pakaian Impor Bekas di e-Commerce
"Kalo di Blok III impor semua, kalo di Blok IV campur ada yang lokal. Kalo blok I dan II sama impor juga," katanya saat ditemui pada Rabu (21/2).
Lebih lanjut, kata dia, pakaian tersebut mayoritas berasal dari 2 negara di Benua Asia, yakni Jepang dan Korea.
"Mayoritas antara 2, Jepang sama Korea, karena dari segi fashion bagus dari Korea," terangnya.
Baca juga : Pemprov Jabar Terus Pantau Thrifting
Namun, dirinya tidak mengetahui berapa jumlah pakaian yang didapatkan pada saat pakaian tersebut datang.
"Sehari dateng ga nentu karena ball-ballan. Omset ya namanya dagang gak nentu juga, kalau lagi rame alhamdulillah, kalau lagi sepi yaudah," ujar dia.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa konsumen yang datang ke Pasar Senen lebih banyak di akhir pekan atau hari libur dibandingkan dengan hari biasa.
Baca juga : Ikappi Heran Pemerintah Baru Gencar Larang Pakaian Impor Bekas
"Weekend biasanya rame, orang biasanya kesini hari-hari libur," pungkasnya.
Di sisi lain, salah satu pemilik toko di Blok IV Pasar Senen, Akbar (bukan nama asli) mengakui bahwa pihaknya mendapatkan suplai barang di tokonya dari supplier.
Adapun toko yang dimilikinya menjual pakaian khusus wanita saja, di tokonya ia menjual pakaian dengan harga paling murah Rp15.000 dan serta harga yang paling mahal di angka Rp35.000.
"Biasa datang 50 ball tapi itu sesuai kebutuhan. Isinya blouse 500 pcs per ball. Dari 500 itu abis dicek paling dapat 450 terus dipisah lagi sesuai grade. Kalau celana isinya 200 pcs per ball," jelasnya. (Fal/Z-7)
Alih-alih sepenuhnya membantu, pakaian bekas yang tak terkelola dengan baik itu dinilai menambah persoalan baru menjadi “limbah” di tengah upaya pembersihan dan pemulihan
Polda Metro Jaya berhasil mengungkap perdagangan pakaian bekas impor ilegal yang selama ini beredar melalui jalur thrifting di Jakarta dan sekitarnya.
MENTERI Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman menyampaikan bahwa pemerintah bakal mencari format dan substitusi yang paling tepat kepada para pedagang baju bekas.
Impor pakaian bekas ini selalu terjadi di mana pun. Pelaku juga sudah punya jaringan dan bekerja secara profesional.
Total ada 439 koli pakaian bekas disita dari sejumlah truk dengan taksiran senilai Rp4,2 miliar.
Polisi mendalami kepada terduga pelaku penanggung jawab barang dan menginformasikan asal barang.
Masuknya impor pakaian bekas sangat berdampak. Bukan hanya bagi kesehatan, melainkan juga bagi industri tekstil, termasuk UMKM konveksi.
Langkah paling efektif untuk menangani maraknya produk thrifting adalah dengan menghentikan masuknya barang-barang tersebut ke Indonesia
PEMERINTAH memastikan pedagang pakaian impor bekas dapat tetap melanjutkan usaha dengan produk yang berbeda.
Bila selama ini hukumannya hanya pemusnahan barang dan ditindak pidana, ke depan pelaku akan dimasukkan daftar hitam.
ANGGOTA Komisi VI DPR RI Imas Aan Ubudiyah mendukung penuh langkah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa untuk menghentikan impor pakaian bekas yang berujung thrifting
Meski kebijakan ini ditujukan untuk melindungi produsen tekstil lokal dari gempuran produk murah impor, tren thrifting masih diminati masyarakat, terutama kalangan muda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved