Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
KRIMINOLOG Universitas Indonesia, Adrianus Meliala mengatakan bahwa pihak Kepolisian menjadi salah satu faktor penyebab seringnya tawuran yang terjadi di Johar Baru, Jakarta Pusat (Jakpus).
Adrianus menyebutkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebab sering terjadinya aksi tawuran di Johar Baru, Jakpus. Pertama merupakan romantisme cerita yang terus dilestarikan oleh setiap generasi. Cerita biasa, lanjut dia, berisi soal aksi-aksi jagoan dari masing-masing kelompok.
"Cerita yang membanggakan kelompok masing-masing dan yang pasti ngenyek kelompok lain. Itu dibangun turun temurun dan dilanjutkan oleh generasi muda," kata Adrianus (16/7).
Baca juga: Polisi Amankan Empat Orang Pelaku Tawuran di Johar Baru, Jakpus
Penyebab aksi tawuran yang ke dua, dikatakan Adiranus, adanya sosok loser atau pecundang yang kalah di daerah luar atau di kehidupan pribadinya. Hingga akhirnya, saat loser ini kembali ke lingkungannya akan menjadi pemantik aksi tawuran.
"Artinya ada loser dari Johar Baru yang tidak dapat pengakuan di luar, lalu balik ke kampungnya, memanfaat retorika masa kecilnya untuk kemudian dikenal sebagai jagoan," sebutnya.
Baca juga: 5 Ditetapkan Tersangka Tawuran, 2 Diburu Polisi
Lebih lanjut, Adrianus menerangkan penyebab ketiga aksi tawuran di Johar Baru, Jakpus yakni pihak kepolisian itu sendiri. Pihak kepolisian yang dinilai telah gagal dalam upaya pencegahan aksi tawuran.
"Terpaksa saya tunjuk kepolisian sebagai penyebab masalah juga karena Johar Baru itu letaknya di hidungnya Polres Jakarta Pusat. Walaupun sekarang sudah pindah ke Kemayoran, tapi antara Kemayoran dan Johar Baru kan satu kali lempar batu saja," bebernya.
"Dengan kata lain, tidak ada soal dengan kekurangan personel, tidak ada soal dengan jarak, biaya, data intel, Bhabinkamtibmas kurang, tidak ada soal, semua kelas satu," imbuhnya.
Oleh karena itu, Adrianus berharap pihak kepolisian dapat menjalankan tugasnya dalam upaya pencegahan dilakukan secara berkesinambungan dan terus-menerus.
Hal itu perlu dilakukan supaya dapat memutus generasi, memutus mitos atau cerita yang menjadi penyebab aksi tawuran di Johar Baru, Jakpus.
"Semestinya ada pengamanan yang bersifat menyeluruh dan berkesinambungan, intens, sampai benar-benar fenomena tawuran hilang. Harus cara pemolisian terus-terusan, kalau perlu penambahan pos polisi di tiap ujung Johar Baru," pungkasnya.
Diketahui sebelumnya, polisi mengamankan empat pelaku tawuran yang terjadi di Jalan Pulo Gandul, Johar Baru, Jakarta Pusat, pada Minggu (16/7) pagi.
"Kalau enggak salah ya, barusan saya cek laporan dari Kapolsek Johar Baru, 4 diamankan," kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Komarudin (16/7).
Komarudin mengatakan bahwa pihaknya juga turut mengamankan sebuah senjata tajam (sajam) jenis celurit yang diduga digunakan oleh pelaku tawuran.
"Sajamnya celurit hanya satu ditemukan ya. Makanya masih didalami," sebutnya.
Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Johar Baru, AKP Yossy Yanuar pun mengonfirmasi bahwa telah terjadi tawuran antar warga di kawasan Johar Baru, Jakpus.
“Iya antar warga kejadian di depan Pospol Tanah Tinggi. Antara warga RW 05 dan RW 08,” kata Yossy, pada Minggu (16/7).
Korban merupakan bagian dari rombongan berjumlah 24 orang yang dijadwalkan melakukan kunjungan kerja.
Wagub DKI Rano Karno meminta warga memaklumi maraknya jukir liar di Tanah Abang saat awal Ramadan. Polisi sebelumnya menangkap 8 pelaku pungli parkir hingga Rp100 ribu.
Warga Gambir, Jakarta Pusat digegerkan penemuan mayat bayi laki-laki di selokan Jalan Batu Tulis. Polisi memastikan tidak ada tanda kekerasan dan jasad dibawa ke RSCM.
Simak 7 fakta kasus remaja siram air keras di Cempaka Putih. Dari kronologi CCTV hingga motif serangan acak yang melibatkan pelajar di bawah umur.
REMAJA yang menyiramkan air keras ke sesama pelajar di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat (6/2) ditangkap. Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Metro Jakarta Pusat
Es gabus yang sempat viral di Jakarta Pusat dipastikan aman dikonsumsi. Polisi akui kesimpulan awal terlalu cepat setelah hasil uji lab keluar.
ANGGOTA Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Abdullah menyoroti penembakan remaja oleh oknum polisi di Makassar, Sulawesi Selatan. Perlu evaluasi SOP senjata api
Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Dema PTKIN) Se-Indonesia mengapresiasi pola pengamanan kepolisian dalam aksi unjuk rasa mahasiswa.
Sarah Nuraini Siregar dari BRIN menyoroti penggunaan istilah "oknum" untuk anggota polisi, menegaskan tindakan individu mencerminkan institusi.
Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Alfian Nurrizal menyatakan pelaku penganiayaan karyawan SPBU di Cipinang, Jakarta Timur, positif sabu dan ganja usai tes urine.
Transparansi digital melalui media sosial membuat kasus-kasus tersebut kini lebih mudah terungkap ke permukaan.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Rano Alfath, mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus penganiayaan yang menewaskan AT (14).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved