Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Kisah Aipda Arno, Polisi di NTT yang Berlutut Sambil Menangis demi Redam Bentrok Warga

Media Indonesia
17/3/2026 20:21
Kisah Aipda Arno, Polisi di NTT yang Berlutut Sambil Menangis demi Redam Bentrok Warga
Tangkapan layar Bhabinkamtibmas Aipda Arladius Modestus Arno berlutut dihadapan warga yang hendak bentrok.(ANTARA/Facebook @hendrik Ilo)

SEBUAH aksi heroik dan menyentuh hati datang dari seorang Bhabinkamtibmas Polres Manggarai, Aipda Arladius Modestus Arno. Di tengah panasnya bentrokan antar kelompok warga di jalan Trans Flores, NTT, ia memilih meletakkan wibawa seragamnya dengan berlutut dan menangis di hadapan warga yang bertikai.

Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (16/3), saat kelompok warga dari Gendang Kaca dan Gendang Bung Leko terlibat konflik terbuka yang mengancam keselamatan jiwa.

"Situasi saat itu sudah semakin panas, kelompok yang satu dengan yang lain tidak mau sepakat untuk diselesaikan secara damai," ujar Aipda Arno Rabu (17/3).

Arno mengaku tindakannya berlutut dilakukan secara spontan. Baginya, warga dari kedua kelompok yang bertikai bukan sekadar objek tugas, melainkan keluarga.

"Bagi saya mereka itu adalah saudara-saudara saya. Sering kalau bertugas, mereka ajak makan di rumah mereka, cerita dan kumpul bersama. Melihat mereka bertikai, saya merasa sangat kecewa dan sedih," kenang Arno.

Aksi spontan polisi yang memohon dengan air mata ini nyatanya mampu melunakkan hati para pemuda yang sedang tersulut emosi. Konflik pun berangsur reda di lokasi kejadian. Meski demikian, Arno dengan rendah hati menyebut bahwa terhentinya bentrok adalah kerja keras seluruh rekan kepolisian di lapangan.

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Henry Novika Chandra, memberikan apresiasi terhadap tindakan personelnya. Ia menegaskan bahwa Polri selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam menangani potensi konflik.

“Anggota kami di lapangan selalu mengedepankan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya adalah mencegah kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” jelas Henry.

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan penjagaan dan imbauan agar warga tidak mudah terprovokasi. Peristiwa di Desa Bula ini menjadi bukti bahwa di balik seragam petugas, terdapat hati nurani yang berupaya menjaga kedamaian melalui rasa persaudaraan.

(Ant/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya