Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ancaman Kesehatan Mental hingga Preeklamsia Mengintai Remaja di Balik Pernikahan Dini

Haufan Hasyim Salengke
10/12/2025 15:01
Ancaman Kesehatan Mental hingga Preeklamsia Mengintai Remaja di Balik Pernikahan Dini
Siswa dilibatkan sebagai peer educator dalam pelatihan penguatan ketahanan remaja dari kerentanan pernikahan usia anak di SMPN 12 Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/12).(Istimewa)

PERNIKAHAN usia anak masih menjadi ancaman laten bagi keberlanjutan pembangunan manusia di Indonesia. Berbagai riset menunjukkan praktik ini meningkatkan risiko kesehatan reproduksi, masalah kesehatan mental, memicu putus sekolah, hingga memperbesar kemungkinan kemiskinan antargenerasi.

Hal itu mengemuka dalam pelatihan penguatan ketahanan remaja dari kerentanan pernikahan usia anak yang diadakan oleh Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI), Rabu (10/12).

Dalam pelatihan bertajuk “Membangun Masa Depan Keluarga Muda yang Bahagia Berbasis Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah” di SMPN 12 Kota Bogor, dr. Mairunzi, Sp.OG dari POGI-IDI Kota Bogor menjelaskan risiko medis pada kehamilan remaja.

Ia mengatakan risiko kesehatan fisik yang serius seperti anemia, preeklamsia, hingga gangguan mental menjadi ancaman nyata yang mengintai remaja yang memutuskan menikah di usia anak. Dampak ini bukan hanya merenggut kesehatan, tetapi juga memutus keberlanjutan pendidikan, dan mengancam stabilitas ekonomi keluarga di masa depan.

Dari sisi psikologis, psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) Inna Mutmainnah memaparkan bahwa perkembangan kognitif dan emosional remaja belum matang untuk memikul tanggung jawab pernikahan.

Hal ini diperkuat Guru Besar UI sekaligus pakar psikologi pendidikan, Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, yang memaparkan studi kasus dampak pernikahan dini terhadap kemerosotan pendidikan, kesehatan mental, hingga instabilitas ekonomi yang rentan memicu konflik rumah tangga.

Karenanya, Lydia menegaskan pentingnya memperkuat kapasitas remaja sebelum memasuki jenjang kehidupan keluarga. “Mencegah pernikahan dini berarti menyelamatkan masa depan remaja, keluarga, dan bangsa. Edukasi lintas disiplin harus diberikan sedini mungkin agar remaja mampu mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Isu finansial dan agama juga tak luput dibahas. Praktisi yang juga dosen di IPB University menekankan kesiapan finansial dan risiko ekonomi yang dapat muncul pada pasangan muda yang belum produktif. Sementara itu, Nilmayetti dari Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Pusat dan MUI memaparkan nilai Islam dalam pembentukan keluarga serta pentingnya kedewasaan sebelum menikah.

Pelatihan yang melibatkan 45 siswa kelas 9 sebagai peer educator dikemas dalam tiga sesi seminar multidisiplin ini diharapkan dapat memperluas edukasi mengenai kesehatan reproduksi, literasi finansial, perencanaan masa depan, serta penundaan usia pernikahan hingga dewasa. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik