Headline
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNIKAHAN usia anak masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Psikolog anak dan remaja, Mariska Johana, M.Psi., menegaskan bahwa praktik ini sangat tidak dianjurkan karena bertentangan dengan tahapan perkembangan kognitif, emosional, dan pembentukan identitas remaja.
Menurut Mariska, fase anak dan remaja adalah masa krusial untuk pembentukan jati diri serta penguatan fungsi sosial. Sebaliknya, dunia pernikahan menuntut kesiapan mental yang jauh lebih kompleks, seperti kemampuan mengelola konflik dan tanggung jawab rumah tangga yang besar.
Aspek mendasar yang sering terlupakan adalah kematangan otak. Mariska menjelaskan bahwa secara biologis, remaja memang belum siap memikul beban rumah tangga.
“Secara neurologis, area otak yang berperan dalam perencanaan jangka panjang, pertimbangan risiko, kontrol impuls, dan pengelolaan emosi baru matang sepenuhnya pada usia pertengahan dua puluhan,” ujar Mariska, dikutip Kamis (15/1).
Ketidakmatangan ini membuat individu di usia anak cenderung impulsif dan rentan mengambil keputusan berdasarkan dorongan sesaat.
Hal ini berdampak langsung pada kualitas hubungan, mulai dari komunikasi yang tidak efektif, kecemburuan yang berlebihan, hingga penggunaan strategi penyelesaian masalah yang tidak sehat.
Beban tambahan seperti tuntutan ekonomi dan peran pengasuhan anak di usia dini memperbesar risiko gangguan kesehatan mental.
Mariska menyebutkan bahwa pernikahan dini rentan memicu stres psikologis, kecemasan, hingga depresi. Lebih jauh lagi, kondisi ini bisa menjebak individu dalam relasi yang tidak sehat, termasuk risiko kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Di sisi lain, Mariska menyoroti bahwa keputusan menikah dini tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh ekosistem pengasuhan.
Rendahnya literasi orang tua mengenai kesehatan reproduksi dan perkembangan anak sering kali membuat pernikahan dianggap sebagai jalan pintas menuju kedewasaan atau solusi masalah ekonomi.
Faktor komunikasi dalam keluarga memegang peranan vital. Anak yang tidak memiliki "ruang aman" untuk berdiskusi cenderung mencari pengakuan dan rasa aman di luar konteks keluarga, termasuk melalui pernikahan.
“Dalam keluarga atau budaya yang memandang pernikahan sebagai simbol kedewasaan atau tujuan utama masa depan anak, menikah dini kerap dianggap wajar,” tambahnya.
Untuk menekan angka pernikahan anak, diperlukan langkah komprehensif. Selain edukasi orangtua, pemerintah juga memperketat mekanisme dispensasi kawin melalui Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2019. Kini, dispensasi bukan lagi sekadar izin formal, melainkan upaya terakhir yang harus mempertimbangkan kepentingan terbaik dan kesiapan psikologis anak secara mendalam. (Ant/Z-1)
Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia masih mendominasi angka pernikahan dini tertinggi secara nasional, meski secara umum prevalensi pernikahan anak di Indonesia terus menurun.
Dalam keluarga dengan tingkat literasi rendah mengenai pendidikan dan kesehatan reproduksi, pernikahan dini sering kali dianggap sebagai solusi instan menuju kedewasaan.
Risiko kesehatan fisik yang serius seperti anemia, preeklamsia, hingga gangguan mental menjadi ancaman nyata yang mengintai remaja yang memutuskan menikah di usia anak.
Berdasarkan data BPS 2025, NTB merupakan provinsi dengan proporsi perempuan berstatus kawin atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun tertinggi, yaitu sebesar 14,96%.
Berdasarkan catatan SIMKAH Kemenag jumlah pasangan di bawah usia 19 tahun yang menikah menurun signifikan dalam tiga tahun terakhir:
Galaxy Tab A11 ditenagai prosesor Helio G99 yang memastikan perangkat berjalan responsif untuk berbagai kegiatan, mulai dari mengikuti kelas daring, mengerjakan tugas sekolah, dan hiburan.
PIKOTARO mengaku bahwa inspirasi lagu ini lahir langsung dari interaksinya dengan anak-anak pejuang kanker.
Vitamin A merupakan zat esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Sayangnya, pemantauan kadar vitamin ini masih menjadi tantangan di Indonesia.
Tanpa kematangan psikologis yang cukup, anak-anak berisiko tinggi terpapar konten yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved