Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Pernikahan Dini Bertentangan dengan Perkembangan Kognitif, Emosional dan Pembentukan Identitas Remaja

Basuki Eka Purnama
15/1/2026 13:40
Pernikahan Dini Bertentangan dengan Perkembangan Kognitif, Emosional dan Pembentukan Identitas Remaja
Ilustrasi(Freepik)

PERNIKAHAN usia anak masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Psikolog anak dan remaja, Mariska Johana, M.Psi., menegaskan bahwa praktik ini sangat tidak dianjurkan karena bertentangan dengan tahapan perkembangan kognitif, emosional, dan pembentukan identitas remaja.

Menurut Mariska, fase anak dan remaja adalah masa krusial untuk pembentukan jati diri serta penguatan fungsi sosial. Sebaliknya, dunia pernikahan menuntut kesiapan mental yang jauh lebih kompleks, seperti kemampuan mengelola konflik dan tanggung jawab rumah tangga yang besar.

Hambatan Biologis dan Neurologis

Aspek mendasar yang sering terlupakan adalah kematangan otak. Mariska menjelaskan bahwa secara biologis, remaja memang belum siap memikul beban rumah tangga.

“Secara neurologis, area otak yang berperan dalam perencanaan jangka panjang, pertimbangan risiko, kontrol impuls, dan pengelolaan emosi baru matang sepenuhnya pada usia pertengahan dua puluhan,” ujar Mariska, dikutip Kamis (15/1).

Ketidakmatangan ini membuat individu di usia anak cenderung impulsif dan rentan mengambil keputusan berdasarkan dorongan sesaat. 

Hal ini berdampak langsung pada kualitas hubungan, mulai dari komunikasi yang tidak efektif, kecemburuan yang berlebihan, hingga penggunaan strategi penyelesaian masalah yang tidak sehat.

Risiko Stres dan Tekanan Sosial

Beban tambahan seperti tuntutan ekonomi dan peran pengasuhan anak di usia dini memperbesar risiko gangguan kesehatan mental. 

Mariska menyebutkan bahwa pernikahan dini rentan memicu stres psikologis, kecemasan, hingga depresi. Lebih jauh lagi, kondisi ini bisa menjebak individu dalam relasi yang tidak sehat, termasuk risiko kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Di sisi lain, Mariska menyoroti bahwa keputusan menikah dini tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh ekosistem pengasuhan. 

Rendahnya literasi orang tua mengenai kesehatan reproduksi dan perkembangan anak sering kali membuat pernikahan dianggap sebagai jalan pintas menuju kedewasaan atau solusi masalah ekonomi.

Peran Keluarga dan Regulasi

Faktor komunikasi dalam keluarga memegang peranan vital. Anak yang tidak memiliki "ruang aman" untuk berdiskusi cenderung mencari pengakuan dan rasa aman di luar konteks keluarga, termasuk melalui pernikahan.

“Dalam keluarga atau budaya yang memandang pernikahan sebagai simbol kedewasaan atau tujuan utama masa depan anak, menikah dini kerap dianggap wajar,” tambahnya.

Untuk menekan angka pernikahan anak, diperlukan langkah komprehensif. Selain edukasi orangtua, pemerintah juga memperketat mekanisme dispensasi kawin melalui Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2019. Kini, dispensasi bukan lagi sekadar izin formal, melainkan upaya terakhir yang harus mempertimbangkan kepentingan terbaik dan kesiapan psikologis anak secara mendalam. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya