Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
NASI putih menjadi salah satu makanan yang konsumsinya perlu diminimalkan saat menjalani diet menurunkan berat badan. Hal ini kadang menjadi tantangan, mengingat nasi merupakan makanan pokok yang menjadi menu sehari-hari. Nah, bagi mereka, ada alternatif lain yang bisa menggantikan nasi biasa, yaitu nasi dari beras shirataki. Beras shirataki dibuat dari akar konjac, tanaman asal Jepang yang masih satu famili dengan tanaman porang.
Menurut ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, nasi yang terbuat dari beras shirataki memiliki kandungan serat lebih tinggi daripada nasi putih biasa. Hal itu dapat membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama. Selain itu, dibandingkan nasi putih biasa, nasi shirataki memiliki kalori, karbohidrat, dan indeks glikemik lebih rendah. Sehingga, saat dikonsumsi tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah maupun menstimulasi produksi insulin yang berlebihan.
“Nasi putih pada umumnya mempunyai ±175 kalori per 100 gram, sedangkan nasi shirataki kalorinya lebih rendah, namun tetap mengenyangkan karena mengandung glukomanan dan serat pangan yang lebih tinggi daripada nasi putih biasa,” ujar Rita pada peluncuran beras shirataki merek Flimrice, baru-baru ini.
Baca juga : 7 Jenis Minyak yang Baik untuk Diet Sehat dan Rendah Kalori
Pada kesempatan sama, Chef Juna yang sudah mencoba membuat nasi dari beras shirataki tersebut mengungkapkan teksturnya seperti nasi putih biasa yang pulen. “Soal rasa, ini enak, ada wangi pandan yang bikin beda,” ujar Chef Juna. Ia menambahkan, nasi dari beras shirataki tidak hanya menjadi pilihan nasi yang lebih sehat, namun juga menambah variasi bahan yang bisa diolah menjadi menu-menu lezat.
Sementara itu, Dennis Hadi selaku Direktur Flimgroup yang membawahi merek Flimrice menuturkan pengalamannya saat mengembangkan produk beras shirataki. Prosesnya didahului riset mendalam, termasuk menggandeng sejumlah pakar agar produk beras shirataki tersebut benar-benar bisa efektif membantu proses diet. Riset juga dilakukan agar produk bisa dibuat tanpa pengembang, pengawet, pemutih, bebas gluten, serta memiliki tekstur, rasa, dan aroma serupa nasi putih biasa.
“Sebelum peluncuran, uji laboratorium dilakukan untuk memastikan kandungan produk sesuai klaim dan label nutrisi. Kami berharap, beras shirataki yang rendah kalori dan tinggi serat ini bisa membantu masyarakat dalam mendapatkan alternatif pengganti nasi saat menjalani diet untuk hidup yang lebih sehat,” pungkas Dennis. (B-1)
Glukomanan (serat pangan) dari umbi porang berhasil diolah sebagai bahan alami untuk bahan dasar kosmetik perlindungan kulit (skin protector).
Melalui Export Center Surabaya, Kemendag berhasil mengantarkan tiga pelaku UKM binaan melakukan ekspor perdana dengan nilai total sebesar US$226,6 ribu pada Selasa (27/2), Jawa Timur.
Kementerian Perindustrian membina perusahaan yang melakukan penghiliran terhadap komoditas spirulina (mikroalga) dan porang.
Salah satu upayanya ialah melakukan pengawalan terhadap proses ekspor porang asal Jawa Tengah
KUMPULAN petani di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, meminta Ketua KPK Firli Bahuri ikut mengawal kebijakan pengembangan komoditas porang.
Tingginya angka obesitas menjadi salah satu alasan utama masyarakat menjadikan diet sebagai resolusi tahunan.
Carnivore diet diklaim mampu menurunkan berat badan dengan cepat karena tinggi protein dan lemak. Namun, diet ini minim serat dan berisiko bagi kesehatan jantung jika dilakukan jangka panjang.
Kesalahan dalam menerapkan pola diet untuk menurunkan berat badan bisa menyebabkan tubuh terasa lemas karena kekurangan asupan gizi dan cairan.
Tim peneliti dari Cornell Food and Brand Lab menemukan berat badan sebagian besar orang relatif stabil selama musim panas. Tetapi mulai meningkat ketika liburan akhir tahun.
Karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh terutama dalam memasok energi ke otak.
Banyak orang yang tengah berdiet memilih menghindari karbohidrat demi menurunkan berat badan lebih cepat. Padahal, langkah ekstrem ini justru bisa berdampak buruk bagi tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved